Putri Kesayangan

Putri Kesayangan
Tuan putri senang


__ADS_3

Satu tahun kemudian



"hiikkk anak siapa ini"


"😚😚😚😚😚😚 aku tidak rela anak secantik kamu jadi anak laki laki br*ngsek seperti kakakku😤"


"hehee .. bibi bisa saja"


"uhhh jantungku tertembak💘"


"bibiii"


"baiklah baiklah, ayo ke ruang makan sekarang"


Setelah 1 tahun berlalu banyak yang berubah dari Rere, anak itu badannya semakin berisi dan sudah banyak bicara, apalagi saat bibinya datang anak itu akan sangat senang bermanja manja.


Setiap seminggu sekali bibinya akan datang berkunjung untuk memantau perkembangannya, tidak lupa dia juga mengawasi orang orang di sekitar Rere karena kakaknya benar benar tidak peduli dengan anak itu.


"bibi aku boleh bicara"


"ya?"


"emm sepertinya aku akan mempunyai adik"


"BRAKKK"


"apa? wanita mana lagi yang laki laki itu embat? anak satu saja tidak di urus be.."


"bibi bukaaan" ucap Rere buru buru menenangkan.


"trus?" Felic kebingungan.


"aku akan mendapat adik dari bibi" ucapnya dengan senyum lembut.


"ahh .. mmm semoga saja ya" jawab Felic lesu.


"kenapa bibi tidak semangat? harusnya bibi senang kan?"


"jika hal itu benar terjadi pasti aku akan sangat senang, tapi karena sampai sekarang belum terjadi aku jadi tidak terlalu berharap"


"Rere sudah membuat bibi sedih ya? maaf ya bi" ucap anak itu bersalah.


"tidak tidak! mungkin akhir akhir ini bibi memang sedikit sensitif saja, cepat habiskan dan kembali ke kamarmu sebentar lagi bibi harus pulang"


"kenapa tiba tiba? biasanya bibi lama di sini"


"bibi ada urusan, minggu depan bibi akan ke sini lagi"


"em baiklah"


Sesuai dengan apa yang di katakan Felic sampai sekarang Veano tidak sekalipun pernah menemui anaknya, meski mereka tinggal dalam 1 bangunan yang sama mereka sibuk dengan kegiatan masing masing.


Ferenita memang sangat ingin bertemu dengan ayahnya, tapi mengingat aura gelap yang muncul di sekitar ayahnya membuatnya sedikit takut, bahkan kejadian satu tahun lalu saja dia masih ingat.


"akhir akhir ini kembali muncul monster di perbatasan utara?"


"benar baginda, kami sudah mengirim pasukn serigala kembar ke sana" ucap Valen melapor.


"serigala kembar yah? monster apa kali ini?"


"mirip beruang tapi tubuh mereka lebih besar"


"bukannya perbatasan utara itu daerah gurun? bagimana bisa beruang hidup di sana?" ucap Veano heran.


"mungkinkah ada yang sengaja mengirimnya?" ucap Alvin.


"maksudmu?"


"sebelah utara kan berbatasan dengan kekaisaran Guns dan mereka terang terangan menunjukkan kebencian pada kita"


"itu memang benar tapi meskipun begitu tidak mungkin mereka melakukan hal semencolok itu Vin, mereka sangat menjaga citra mereka"


"iya juga sih, kira kira kenapa ada monster di tanah gersang itu yah🤔?"


"Valen apa kamu mengirim Healer ke sana?"


"tidak Baginda, kupikir itu.."

__ADS_1


"bodohh! kirim minimal 2 healer ke sana walaupun itu hanya monster beruang"


"b-baik Baginda"


"rapat selesai"


Segera setelah Veano mengatakan itu seluruh petinggi pergi meninggalkan kursi masing masing, Veano sendiri hanya memegangi kepala karena terlalu pusing dengan masalah akhir akhir ini.


"bukankah ini aneh?"


"apa maksudmu" suara Veano parau.


"terlalu sering monster muncul di perbatasan dalam 2 bulan ini, seolah memang ada yang sengaja mengirimnya"


"ya aku juga sadar dengan itu, bagaimana dengan kelelawar ratu?"


"baru kelelawar pertama yang kembali dan dia melapor monster itu keluar dari hutan"


"kelelawar ratu memeriksa perbatasan mana?"


"dia di bagian selatan, monster yang mirip serigala itu"


"shhh hahhhh"


"kenapa No? apa kamu sakit?"


"hanya sedikit pusing, aku akan kembali ke kamar"


"baiklah, istirahat saja dulu! akhir akhir ini kamu terlalu sering begadang" ucap Alvin menasehati.


Veano keluar dari ruang rapat dengan tubuh panas dingin, seolah tubuhnya sudah hampir mencapai batas karena masalah akhir akhir ini.


"bruukk"


"ahh m-maaf" seorang bocah jatuh setelah menabraknya.


"kenapa kamu berjalan di koridor sendirian? di mana dayangmu?"


"i-itu ta tadi saya sedang mengikuti sesuatu" ucapnya tertunduk.


"apa?" tanya Veano dengan nada semakin parau.


"hah?"


"sesuatu yang merah se-seperti yang ada di ke-kepala Baginda" ucapnya takut.


"merah di kepalaku? kamu ini bicara apa? kembali ke kamarmu sana" Ano berbicara dengan dingin.


Kepalanya terasa sangat berat dan dia tidak mau mengurusi hal remeh tak jelas seperti saat ini, lebih baik dia tidur karena kesehatannya jauh lebih penting.


"gyut .. t-tunggu" Rere memberanikan diri menarik lengan baju ayahnya.


"shh apa lagi?"


"i-itu pasti sakit, warna merah me-membuat sakit"


"warna merah apa maksudmu?"


"a-apa Baginda bisa jongkok sebentar saja?" tanyanya ragu.


"kamu menyuruh Kaisar sepertiku untuk jongkok?" Veano sedikit kesal.


"bukan begitu, so-soalnya tinggi saya tidak sampai" Ferenita ketakutan.


"sudah, apa lagi?"


"boleh saya menyentuhnya?"


"lakukan dengan cepat"


"baik" jawabnya berbinar.


"apa yang bocah ini lakukan? dia meminta seorang Kaisar sepertiku untuk berjongkok dan ehhh di-dia memegang kepalaku? batin Veano semakin kesal.


Ferenita meski ragu mencoba memegang kepala sebelah kiri Veano, matanya memejam dan dia sedikit bergumam, Ano memandang anak di depannya, wajahnya cukup cubby sekarang dan warna rambut emasnya lebih mencolok dari sebelumnya.


Perlahan Ano merasa ada sesuatu yang dingin di tempat anak itu memegang, rasa dingin yang menyegarkan itu perlahan merambat ke seluruh kepalanya.


"apa sudah mendingan?" tanyanya.

__ADS_1


"hmm .. y-yaa sudah"


"warna merahnya belum hilang semua mungkin besok akan sakit lagi"


"y sudah kembali ke kamarmu"


"baik .. a-anu kalau Baginda sakit lagi panggil saya saja, saya akan membuang warna merah yang tersisa"


"iya"


Gadis itu berlari kecil dan memasuki kamarnya, Veano juga ikut kembali ke kamar untuk beristirahat karena tubuhnya masih tidak enak.


"tapi perasaan dingin apa tadi? kepalaku juga terasa sedikit ringan" batinnya heran.


Tapi karena tak mau ambil pusing Ano lebih memilih istirahat, paginya tubuhnya terasa segar tapi saat sora kepalanya akan kembali berat, dan anehnya anak bernama Rere sudah menunggunya di depan pintu ruang kerjanya entah sejak kapan.


"krr .. krr" dengkuran halus terdengar karena anak itu tertidur sambil duduk.


"sejak kapan anak ini ada di sini"


"grep" Ano menggendongnya.


"sebenarnya kemana para pelayan yang melayaninya? sudah 3 kali selama 1 bulan anak ini menunggu sendirian di depan pintu" gerutunya.


"klakk" pintu terbuka.


"Ba-baginda!"


Anna langsung mengambil alih tubuh Rere yang ada di gendongannya, Anna juga dengan cekatan menjelaskan situasi agar Kaisar tidak salah paham.


"jadi anak ini yang memintanya? bukannya kalian bisa bersembunyi untuk mengawasinya?"


"su-sudah baginda, tapi tuan putri selalu menyadari keberadaan kami di manapun kami bersembunyi, dan kemarin beliau sangat kesal karena kami menolak perintahnya" jelas Anna tertunduk.


"apa anak ini sangat peka?"


"ya sudah lain kali antarkan dia masuk saja, istana itu tempt berbahaya untuk bocah sepertinya kalau sendiri" ucap Veano pergi.


"baik Baginda" jawab Anna senang.


Selama ini Anna tau kalau Baginda selalu menghindari Rere, dan dia tau betul tuan putri yang di layaninya sangat haus kasih sayang dari ayahnya, mendengar Baginda mengatakan hal tersebut Anna yakin esok pagi tuan putrinya akan senang bukan main.


"apa tuan putri akan ke ruang kerja Baginda?" tanya Anna.


"iya, kemarin aku belum sempat bertemu beliau tapi ketiduran"


"hmm benar, tapi apa tuan putri tidak tau? semalam siapa yang menggendong tuan putri ke kamar?"


"hng? siapa? bukannya Anna?"


"bukan"


"apa Bel? ehh tapi Bel kan sedang sibuk menyiapkan perang di perbatasan"


"bukan"


"lalu?"


"Baginda" bisiknya.


"apa😳? Anna kamu jangan meledekku"


"sungguh tuan putri saya tidak berbohong, dan Baginda bilang kalau tuan putri mau menunggu lebih baik menunggu di ruang kerja saja" jelas Anna bangga.


"Anna kamu tidak berbohong🥺?"


"tentu saja, semalam Baginda sendiri yang mengatakannya🤗"


"hiks ja-jadi aku boleh masuk?"


"lhoo kok nangis? apa ada yang sakit?" tanya Anna panik.


"tidak! aku hanya senang😅"


"ohh syukurrlah" ucap Anna lega.


"jadi apa tuan putri pergi sekarang?"


"iya😄"

__ADS_1


__ADS_2