
"*No Ano"
"bangun waktunya sarapan😊"
"siapa? siapa kau?"
"ehh kamu jangan bercanda, ayo kita sarapan"
"kamu siapa? kenapa kamu ada di kamarku😠"
"Ano kenapa? kenapa kamu melupakanku? apa salahku Ano? aku sangat mencintaimu hiks*"
"DEG"
"UHHH🤦 kepalaku sakit"
"mimpi? aku baru mimpi sesuatu tadi" gumam Ano bingung.
"tok ... tok"
"masuk"
"air mandi sudah di siapkan Baginda, mari mandi sekarang" ucap Pelayan.
"yaa"
Dalam bak mandi besar Ano hanya terdiam saat beberapa pelayan sibuk melayaninya, meski samar dia ingat memimpikan seorang wanita dengan rambut panjang membangunkannya, tapi sedikitpun Ano tidak bisa mengingat wajahnya.
"sudah selesai Baginda"
Ano berjalan keluar dan segera para pelayan menggunakan pakaian yang sudah di siapkan, hari ini adalah jadwalnya untuk mengecek ruang arsip, dia tidak bisa sepenuhnya mempercayakan ruang arsip pada bawahannya karena baginya tidak ada satupun orang yang bisa di percaya.
"tok .. tok"
"masuk"
"Baginda☺️"
"kau datang lagi?"
"iya, apa saya mengganggu?" tanya Rere sungkan.
"tidak"
"Baginda apa saya boleh ke rumah bibi Felic?"
"kediaman Baristo? ada perlu apa?"
"emm sudah hampir 4 bulan saya tidak bertemu bibi, saya sangat merindukannya"
"ya wajar saja dia kan sedang hamil"
"apa boleh?" tanyanya penuh harap.
"Vin siapkan kereta kuda"
"apa tuan putri akan pergi?"
"hmm, biarkan dia sesekali keluar" jawab Ano tetap fokus pada dokumennya.
"baik"
"suruh Bel membawa beberapa ksatria untuk mengawalnya"
"baik Baginda"
"terima kasih Baginda, saya akan kembali untuk menyiapkan hadiah😄"
"hadiah?"
"iya"
"hadiah apa?"
"emm ini"
"untaian? kenapa kamu memberinya hal semacam ini? kurasa warnanya tidak cocok"
"emm sebenarnya saya sudah membuatkan warna yang cocok dengan bibi, tapi.."
"tapi?"
"a-apa Baginda akan percaya dengan yang saya katakan?"
"katakan!"
"saya bisa menggunakan sihir"
"DEG"
"Vernando jaga pintu!"
__ADS_1
"swushh" semilir angin melewati Rere.
"eh?" Rere kebingungan.
"apa kamu mengatakan bahwa kamu bisa menggunakan sihir?"
"b-benar Baginda" jawabnya tertunduk.
"sejak kapan dan sihir tipe apa?"
"sudah dari dulu sebelum saya ke sini"
"sihir apa?"
"saya tidak tau tapi saya bisa menyembuhkan sessorang yang sakit"
"apa yang kamu maksud seperti sakit kepalaku?"
"em yaa"
"lalu apa untaian ini mengandung sihir"
" .. " ngangguk.
"sihir apa?"
"pelindung, saya sudah menyiapkannya saat saya tau bibi hamil, tapi karena sihir saya lemah saya butuh waktu lama untuk memasukan sihir sebanyak itu" ucapnya tertunduk.
"dari mana kamu belajar melakukannya?"
"setiap malam saat saya tidur saya bertemu seseorang, tapi setiap saya bangun saya lupa wajahnya"
"hmm🤔"
"Tok .. tok"
"Baginda laporan darurat"
"masuk"
"Baginda perbatasan Timur di serang oleh segerombolan kera iblis, dan perbatasan barat di serang oleh ular besi" ucap seorang pembawa pesan.
"apa? kenapa kekaisaran kita di kepung dari segala sisi?"
"Baginda sepertinya kecurigaanku benar, aku yakin adanya kospirasi di balik kejadian ini, bagaimana bisa monster monster itu menyerang kita dalam waktu bersamaan" ucap Alvin serius.
"kumpulkan semua pasukan, umumkan kepada seluruh penduduk ada situasi darurat sebisa mungkin kurangi aktifitas di luar" perintah Ano.
"baik Baginda"
"b-baik, Baginda untaiannya"
"oh ini"
"apa Baginda akan keluar?"
"di situasi seperti ini sepertinya aku harus ikut turun tangan"
"ka-kalau begitu saya akan memperkuat sihir untaian ini, Baginda mau membawanya kan?"
"kenapa aku harus membawanya?"
"untaian ini berisi sihir pelindung, ini bisa melindungi Baginda dari sihir jahat"
"tunggu sebentar! bukannya orang yang menyimpan sihir seperti itu mengeluarkan banyak tenaga? kalau benar untaian ini bisa melindungiku dari sihir jahat artinya.."
"ini adalah darah dan keringat saya yang saya kumpulkan selama beberapa bulan🙂"
"😮" Alvin mlongo.
"ka-kamu? bagaimana kamu bisa tersenyum saat bicara begitu?" tanya Ano tak mengerti.
"a-apa saya salah Baginda?" tanya Rere dengan wajah polos.
"hhh aku bisa gila kalau begini, nanti malam kamu ke kamarku"
"ya?"
"sekarang kamu pergi dan nanti malam ke kamarku"
"b-baik"
Ferenita sama sekali tidak mengerti dengan ekspresi yang di tampilkan oleh dua laki laki dewasa di depannya, dia juga tidak begitu peduli karena yang terngiang ngiang di kepalanya hanya perintah dari Baginda untuk datang ke kamarnya nanti malam.
"No anakmu itu dari tadi ngomong apa sih? darah keringat apa?" tanya Alvin bingung.
"swoshh"
"aahhhh ayam ayam ayam" Alvin terkaget saat Vernando tiba tiba muncul di depannya.
"bughh .. anak ini mau membuatku mati muda yah" ucap Alvin kesal sambil memukul bahu.
"maaf"
"ada apa?"
__ADS_1
"saya mau bicara tentang tuan putri"
"hh apa lagi, sekarang yang terpenting mons.."
"tuan putri bisa melihat saya"
"ohh .. apa😱?" pekik Alvin terkejut.
"tuan putri bisa melihat saya sejak dulu"
"mksdnya?" Ano sedikit heran.
"tadi saat saya mengikutinya ke ruang baca beliau bertanya kenapa saya mengikutinya, dan beliau juga bilang kalau beliau melihat saya di samping Baginda sejak 6 atau 7 bulan lalu" ucap Vernando.
"anak itu?"
"benar Baginda, selama ini beliau menyadari keberadaan saya"
"padahal penyihir asosiasi saja tidak bisa mendeteksi keberadaannya, jangan jangan putrimu itu penyihir hebat No" terka Alvin berbinar.
"hahh mana mungkin"
"saya setuju dengan pendapat tuan Alvin Baginda, dari penglihatan saya untaian yang di bawa tuan putri memancarkan cahaya biru terang, dan..."
"dan?" tanya Ano dan Alvin bersamaan.
"sihir pelindung yang ada di dalamnya benar benar kuat"
"whaat? jan ngadi ngadi lu" Alvin melotot.
"saya tidak mungkin berbohong Baginda, sebagai sesama penyihir biasanya kami bisa melihat sihir penyihir lain"
"tapi anak itu baru berusia 5 tahun lebih, andai benar dia pe.."
"tunggu .. surat terakhir yang aku terima bukannya menjelaskan kalau ibunya memiliki kekuatan sihir?" batin Ano berfikir.
"drkkk" Ano langsung berdiri dan pergi.
"Baginda .. Bagindaaa! oyyy Anooo" teriak Alvin tak di hiraukan.
"swushh"
"Verr oyyy ngapa aku di tinggal sendirii? woy woyyy! grahhhh mereka benar benar membuat tekanan darahku naik"
Sementara itu saat Rere kembali ke kamarnya senyum tidak juga luntur dari wajahnya, memang benar selama ini Rere termasuk anak yang ceria tapi kalau senyum senyum sendiri begitu tentu saja membuat dayang dayangnya keheranan.
"tuan putri! apa terjadi sesuatu barusan?"
"Anna aku senang, sangaaat senang" ucapnya penuh kegembiraan.
"ada hal apa sampai tuan putri tidak berhenti tersenyum begitu?" tanya Anna semakin penasaran.
"hehehee nanti Anna juga tau😄"
"uhhh tuan putri membuat saya penasaran" Anna semakin penasaran.
"BRAAKK"
"kyaaaa .. Ba-Baginda" Anna dan dayang lainnya menjerit kaget.
"kamu cepat ikut"
"b-baik" Ferenita sedikit takut.
Ano berjalan dengan cepat di depannya, kaki kecilnya tentu saja tidak bisa mengimbangi langkah cepat dari kaki jenjang ayahnya.
"brukk .. aww" anak itu memekik karena jatuh.
"uhhh"
"kenapa tidak hati hati begitu?" tanya Ano membalikkan badan.
"B-Baginda jalan terlalu cepat🥺"
"hahhh .. grep" Ano menggendong Rere.
"hiks🥺"
"kenapa menangis? apa sakit?"
"a-apa saya berbuat kesalahan? apa Baginda akan memarahi saya😢"
"tidak kamu tidak berbuat salah, jangan menangis" ucap Ano sambil mengusap pipi gadis kecil di gendongannya.
"hiksss🥺"
Ano mengamati wajah Rere dengan seriuus, wajahnya yang kecil pipi merah dan mata bulat yang bersinar, kilau emas dari rambutnya dan merah keemasan dari warna matanya tanpa sadar membuatnya terpaku.
"anak ini, wajahnya sama persis dengan Felic saat masih kecil dulu, hanya saja warna matanya yang sama dengan warna mataku" batin Ano mengamati wajah kecil itu.
"😳 blushh .. kenapa aku baru menyadari wajahnya seimut ini" batin Ano lagi.
"s-sudah jangan menangis lagi, aku hanya ingin bicara denganmu🙄"
__ADS_1