Putri Kesayangan

Putri Kesayangan
08. Mencari Aleya


__ADS_3

"om!" teriak Anan tiba tiba.


Raffan dan Rubby bergegas berlari ke kamar yang di tempati Anan, bahkan Damar dan David juga ikut mendekat karena teriakkan Anan cukup kencang.


Dengan kaki tertatih Raffan mencari ponakannya ku setiap sudut kamar, Rubby menemukannya tengah bersembungi di bawah meja rias milik alm orang tua Raffan.


"kamu ngapain di situ?" tanya Rubby pelan.


Anan hanya memandang Rubby dengan wajah ketakutan, tubuhnya bergetar dan wajahnya juga terlihat pucat.


"kamu kenapa Nan, sini sama om" ajak Raffan.


Bocah kecil itu mendekat dengan tubuh yang masih bergetar, tubuhnya juga basah penuh keringat, David berlari mengambilkan air putih untuk sedikit menenangkan Anan.


"Anan takut om hiks hiks" tangisnya pecah di pelukan Raffan.


"takut kenapa? om kan di sini" ucapnya menenangkan.


"tante Leya.."


"deeggg" jantung Raffan berdetak kencang mendengar ponakannya menyebut sahabatnya yang sejak tadi tak terlihat.


"kenapa sama Leya?" tanya Damar tiba tiba.


"huaaaaaaaa" tangisnya makin menjadi.


"sabar bro, lu bikin dia takut" ucap David.


"huts tenang yah, di sini ada om sama temen temen, Anan ngga perlu takut" bujuk Raffan lagi.


"Anan tadi mimpi di kejar orang jahat, o-orang itu mau nyakitin tante Leya" ucapnya sambil sesegukan.


Damar yang sejak tadi tak melihat pujaan hatinya langsung lari ke kamar yang di tempati Rubby dan Leya, dia juga turun ke lantai bawah memanggil namanya, sayangnya tak ada jawaban yang di terimanya.


"Leya ngga ada" ucap Damar.


Terlihat Rubby tengah menangis sementara Raffan dan David sama sama memegangi kepala mereka, Anan pun masih tampak di liputi ketakutan.


Anan adalah anak yang sangat spesial, selain melihat sesuatu yang tak kasat mata, anak itu juga bisa melihat sesuatu dari mimpinya.


Dulu saat awal dia masuk TK Anan pernah bermimpi salah satu temannya akan mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat, selang beberapa hari kejadian itu benar benar terjadi, pernah juga dia memimpikan anak dari RT di tempatnya jatuh ke jurang saat pergi mendaki dengan teman temannya dan hal itu juga benar benar terjadi.


Hal itu sudah di ketahui sahabat sahabat Raffan karena mereka memang sangat dekat, Damar bingung saat kembali ke kamar mendapati ekspresi sahabatnya terlihat sangat cemas.


"ada apa? ko lu nangis?" tanya Damar pada Rubby.


"ehh ngomong dong ada apa?" tanyanya dengan suara makin keras karena emosi


"lu tenang dulu, di sini ada anak kecil" ucap David menenangkan.


"tenang dulu Mar, gue bakal ceritain tapi lu tenang, jangan bikin suasana makin runyam" ucap Raffan.


"By, lu tolong ke rumah nek Arum sama Anan yah, ceritain semua mimpi Anan ke nenek" perintah Raffan dan langsung di laksanakan oleh Rubby.


Setelah Rubby dan Anan pergi Raffan meminta Damar untuk duduk dan mendengarkan penjelasan Raffan dengan seksama.


"lu tau kan sesuatu yang spesial tentang Anan?" tanya Raffan.

__ADS_1


"ya" jawabnya mengangguk.


"tadi Anan bilang dia mimpiin hal buruk tentang Le.."


"apa? mimpi apa?" tanyanya lgsg panik.


"sabar Mar" ucap David kembali menenangkan.


"gue mau cerita tapi lu jangan main potong dong! bukan lu doang yang khawatir" ucap Raffan kesal.


"sorry" singkatnya.


"Anan mimpi ngeliat Leya terjebak di sebuah gubuk, dan anehnya pandangan Leya kosong, Anan bilang ada seseorang yang berusaha ngebunuh dia, gue udah tanya dengan detail tentang mimpinya dan Anan cuma bilang mimpinya itu terjadi di malam hari di malam bulan purnama, untuk tempat dia ngga tau karena menurut dia di sekeliling gubuk cuma ada pohon" ucap Raffan menerangkan.


"s*al, apa apaan sih ini? siapa yang mau bunuh Leya?" ucap Damar frustasi.


"untuk sekarang kita ngga bisa cerita tentang mimpi Anan ke sembarang orang, kita cuma perlu lapor kalo Leya hilang dari semalem, ok?" terang Raffan lagi.


"tunggu! kapan malam bulan purnama?" tanya Damar.


"kalo ngga salah malam ini" jawab David.


"anj*ng, kita ngga punya banyak waktu" ucapnya sambil menjambak rambut.


Raffan tau betul kalau Damar sangat khawatir, bahkan mereka semua juga sama khawatirnya, di tambah lagi mimpi Anan kemungkinan terjadi malam ini, mereka bergegas melapor ke RT perihal menghilangnya Leya secara misterius.


Raffan meminta Rubby dan Anan menunggu di rumah nek Arum, saat Rubby menceritakan yang terjadi nek Arum tentu sangat khawatir, apalagi sudah beberapa bulan ini sudah ada beberapa gadis yang hilang secara misterius di desa sebelah.


Mereka tak bisa membayangkan jika sampai hal yang sama menimpa Leya, untuk membayangkan saja rasanya tak sanggup, Rubby yang mendengar cerita itu langsung menangis tersendu sendu, Leya adalah sahabat dekatnya, walau nampak dingin dan sedikit bicara tapi gadis itu adalah gadis yang sangat baik.


Sampai jam 3 sore hasil pencarian masih nihil, Leya benar benar seperti hilang di telan bumi, kegelisahan juga ikut menghinggapi perasaan gadis gadis yang membantu pancarian di area sekitar, ini bukan pertama kalinya mereka mendengar seorang gadis lenyap tiba tiba.


Mata Rubby sudah bengkak karena terus menangis, dia juga menangis dalam sholatnya, sepanjang hari dia hanya berdo'a semoga sahabatnya lekas di temukan.


Anan juga berusaha mengingat ingat lagi mimpinya, dia berharap bisa menemukan sesuatu yang bisa jadi petunjuk untuk menemukan sahabat omnya.


"om" panggil Anan ragu saat Raffan selesai menunaikan ibadah sholat ashar.


"kenapa? kamu inget sesuatu?" tanya Raffan antusias.


"seinget Anan, Anan liat ada sesuatu kaya danau ngga jauh dari gubuk itu, trus kalo ngga salah kaki tante Leya kotor kaya habis ngelewatin lumpur" terang Anan.


"danau? lumpur? kita harus tanya ke orang orang tentang tempat itu, cuma petunjuk Anan yang bisa kita andelin sekarang" ucp Raffan.


Mereka langsung menanyakan dimana ada tempat yang dekat danau, awalnya para warga merasa heran karena area mereka memang tak ada danau.


"kalau sungai sih ada den, tapi kalau danau saya kurang tau" jawab beberapa orang.


"aku tau" ucap Tania tiba tiba.


"di mana?" tanya Damar antusias.


"di hutan belakang sana, tepatnya di area terlarang" ucap Tania menjelskan.


"ka-kamu pernah kesana?" tanya seseorang di antaranya.


Tania hanya mengangguk tanda mengiyakannya, padahal baru kemarin gadis itu menerangkan bahwa hutan adalah area berbahaya, tapi ternyata dia sendiri pernah ke sana.

__ADS_1


Awalnya banyak orang yang memperdebatkan keputusan untuk menyusuri hutan, apalagi mereka tak tau alasan kuat harus mencari kesana karena Raffan merahasiakan tentang segala mimpi Anan.


Setelah berdebat panjang akhirnya mereka setuju mencari ke hutan, dan tanpa banyak bertanya mereka segera berkumpul membawa senter, obor dan juga tongkat, mereka tak tau apa saja yang berada di dalam hutan sana.


Damar semakin tak tenang karena hari mulai gelap, apalagi dia juga melihat bulan purnama benar benar muncul malam ini, Anan sendiri sekarang tengah demam dan di jaga oleh nek Arum, Rubby dan Tania.


Awalnya Tania juga ingin ikut mencari karena dia yang pernah melihat ada danau kecil di hutan sana, tapi Raffan melarang karena takut dengan banyak hal berbahaya di sana.


"kok badan Anan panas bgt si?" tanya Tania panik.


"dia emang selalu gini tiap mimpiin hal semacam ini" ucap Rubby.


"apa ini bukan yang pertama kali?" tanya Tania bingung.


"apa kamu pikir Raffan akan sengotot itu kalau ini adalah yang pertama?" Rubby balik bertanya.


"kamu deket sama Raffan?" tanya Tania lagi.


"mmmm ya bisa di bilang gitu, kita temenan semenjak SMP" tutur Rubby menjelaskan.


"kalo Aleya?"


"die temen kuliah sih, tp temen tongkrongan juga" tutur Rubby lagi.


"enak yah punya banyak temen" ucap Tania lirih.


"ya begitulah, walaupun latar belakang kita beda tp rasanya seneng kalo ada yang ngertiin kita, kamu sendiri?" tanya Rubby balik.


"aku cuma sekedar berteman, aku ngga bisa terlalu dekat sama mereka kaya kamu dan sahabatmu" lirihnya lagi.


"lho kenapa? padahal menurutku kamu anaknya asik loh, nyatanya kemaren kita bisa ngobrol banyak" ucap Rubby tak percaya.


"mungkin menurut mereka aku ngga semenyenangkan itu hehe"


Di lain sisi para warga terus sibuk masuk ke hutan, walau mereka ragu memasuki hutan tapi mereka juga tak mau kalau ada pendatang yang hilang di kampung mereka.


Damar terlihat berjalan paling depan, pemuda itu jelas sangat menghawatirkan keadaan Aleya yang tau bagaimana keadaannya sekarang, kalau memang benar gadis itu terjebak di sini pasti gadis itu akan sangat ketakutan.


"kenapa semakin masuk kedalam auranya semakin membuatku tak nyaman" batin Raffan.


Gelagat David juga menunjukan kalau tempat itu sangat tak cocok untuknya, kalau bukan karena mimpi Anan menunjukkan tempat ini, sudah pasti pemuda penakut itu tak sudi memasuki hutan malam malam begini.


Tak jauh di depan mereka, beberapa orang melihat ada cahaya di tengah hutan, awalnya mereka ragu karena merasa tak mungkin ada orang yang bermalam di hutan semenyeramkan ini, tapi itu juga bisa jadi sebuah petunjuk untuk mereka.


Damar langsung berlari saat melihat cahaya tersebut, dia di ikuti Raffan David dan beberapa warga, sebagian warga berpencar menjadi beberapa bagian agar lebih banyak tempat yang bisa di susuri.


Damar membabat apa saja yang menghalangi jalannya dengan parang yang ada di tangannya, beberapa ranting tajam yang menggores tubuhnya tak dia pedulikan, Raffan dan David sudah tentu panik dengan keadaan Damar, pemuda itu adalah orang yang paling keras di antara tiga pemuda itu.


"bau bunga?" batin Raffan heran.


Tak jauh di depan mereka tampak ada senampan sesaji lengkap di dekat danau, di kegelapan malam terlihat jelas ada sosok wanita di tengah danau tersebut, mata Raffan terbelalak saat mengenali sosok di tengah danau tersebut.


"Leyaaaaaa!" ...


......bersambung.....


jangan lupa dukungannya teman teman💜

__ADS_1


__ADS_2