Putri Kesayangan

Putri Kesayangan
06. Kampung Belanda


__ADS_3

Mobil Aleya sudah memasuki kawasan kampung Belanda, suasana di sini terasa sejuk seperti kampung kampung pada umumnya, apalagi di sini masih banyak pepohonan rindang di sudut sudut halaman rumah warga.


Tak jauh di belakang kampung ini juga ada hutan yang membuat suasana makin adem, walau kampung ini terlihat lebih maju dari dua kampung sebelumnya, entah kenapa kampung ini justru terkesan suram.


Raffan dan kawan kawan berhenti di halaman luas milik orang tua Raffan, seperti yang di ceritakan bang Fatih, rumah keluarganya terdiri dari dua lantai, rumah besar itu bersebelahan dengan rumah kecil milik nenek Raffan.


"kita ke rumah nenekku dulu yah" ajak Raffan pada temannya.


Mereka semua berjalan beriringan, Anan sangat antusias saat akan bertemu nenek dari ayahnya yang tak lain adalah nenek buyutnya.


Rumah kecil itu tampak terawat walau hanya di huni seorang nenek tua, sepertinya nenek Arum sangat rajin merawat rumahnya, terlihat juga beberapa tanaman bunga di sudut teras.


Dan ada sekumpulan bunga mawar yang menarik perhatian mata anak kota itu.


"nenek lu suka bunga ya Fan?" tanya David.


"ngga tau juga Vid, kan gua nggak inget" ucap Raffan.


Saat kaki mereka mulai memasuki teras, nampak seorang wanita tua yang seluruh rambutnya sudah putih, ada kacamata yang terpasang di depan matanya.


"kalian siapa?" tanya nenek Arum.


"assalamu'alaikum nek, ini aku Raffan cucu nenek" ucap Raffan meyalami neneknya.


"cucuku?" ucap nenek bingung.


"aku putra kedua dari ayah Yuno putramu nek" ucap Raffan menjelaskan.


"kamu Raffan? Raffan gendut adiknya Fatih?" tanya nenek Arum tak percaya.


"iya nek, aku Raffan si bocah gendut kesayanganmu" ucapnya seraya memeluk neneknya.


"cucuku, kau sungguh cucuku" ucap nenek Arum menyambut pelukan cucunya.


"maafkan aku karena tak pernah menemuimu nek" ucap Raffan pelan.


"tak apa cu, nenek tau masalahmu, yang terpenting kamu sehat" ucapnya ramah.


"mereka temanmu? dan siapa anak laki laki kecil ini? tanyanya menunjuk Anan.


"iya nek, mereka adalah sahabatku, dan dia A.."


"aku Anan nenek buyut, anaknya ayah Fatih" serobotnya langsung memeluk nenek Arum.


"benarkah itu? anak nakal itu sudah memiliki putra sebesar ini?" ... "sebenarnya sudah berapa lama kalian pergi dari sini?"tanyanya lagi.


"sudah 12 tahun nek" jawab Raffan canggung.


Bagaimanapun juga dia benar benar merasa tak enak hati telah membiarkan neneknya sendiri selama 12 tahun lamanya.


"12 tahun yah? ternyata sudah sangat lama, aku bahkan masih ingat waktu Yuno putraku menikah, aku mengingatnya seperti baru terjadi kemarin" ucapnya "ahh aku malah merancau tak jelas, ayo masuk, teman teman Raffan juga ayo" ajaknya.


Nenek Arum sudah berusia hampir 70 tahun, tapi tubuhnya masih sangat bugar, hanya matanya saja yang mengalami masalah.


Ruang tamu milik nenek Arum tak berukuran besar tapi tidak terlalu kecil juga, jelas sekali kalau nenek Arum sangat mencintai kebersihan, bisa di lihat dari lantainya yang mengkilat dan perabotnya yang bebas tanpa debu.


"ya ampun jiwa malasku langsung insecure liat kilatan di lantai ini" celetuk David.

__ADS_1


"elu sih mandi aja sekali sehari" ucap Damar.


"enak aja sehari sekali, dua hari sekali baru bener" ucap David.


"ihh om David jorok, jarang mandi nanti di tempelin mba kun loh" celetuk Anan.


"cuma becanda kali Nan, jangan ngomong gitu deh" keluh David.


Tak lama setelahnya tampak nenek Arum membawa nampan berisikan air, dengan sigap Rubby berdiri membantunya, Aleya juga ikut membantu menata gelas gelas minuman di meja.


"silahkan di minum, nenek ngga tau kalo kalian mau datang, jadi nenek ngga punya banyak cemilan yang bisa di sajikan" ucap nenek Arum tampak tak enak karena hanya menyajikan pisang kukus di meja.


"duh nenek, kita jadi ngga enak udah ngrepotin" ucap David sambil mengunyah pisang kukus yang di sajikan nenek Arum.


"bilangnya ngga enak ngrepotin, tapi itu mulut enak bgt ngunyah pisang" sindir Damar.


"kalo neneknya Raffan udah repot repot ngasih ya kita harus memakannya sebagai tanda menghormati, iya kan nek?" ucap David sok kenal.


"ngga usah sungkan, nenek senang kalo anak kota sepertimu mau memakan makanan seperti ini" ucapnya.


"dia mah di kasih tanah juga di makan nek" ucap Damar ikut nimbrung.


Mereka semua bercakap cakap dengan santai di rumah nek Arum, tak seperti dugaan yang mereka kira nenek Arum sosok orang yang kolot, justru nenek Arum tampak mudah menyesuaikan diri dengan anak anak muda sahabat cucunya.


Dia sesekali menceritakan masa kecil Fatih dan Raffan, Anan juga sangat antusias saat nenek Arum menceriyakan masa kecil ayahnya, mereka sesekali tertawa mendengar cerita dari nenek Arum, dia juga membawakan album foto lawas miliknya.


"kalo di rumah kakek pasti lebih banyak foto fotonya om" ucap Anan.


"nanti kita cari ya" jawab Raffan lembut.


Anan masih terus membolak balikkan album foto di tangannya, dia memandang foto foto lawas kakek dan neneknya.


"iya benar, ini kakek dan nenekmu, kau lihat wajah kakekmu sangat tampan sepertimu" ucapnya sembari mencubit pelan hidung mancung Anan.


Di saat Anan sibuk dengan album foto di tangannya, Aleya dan Rubby tengah asik memandangi tanaman bunga milik nenek Arum, sesekali mereka menciumi bunga bunga yang menebarkan aroma wangi.


Nenek Arum masih terus melepas kerinduannya pada cucunya.


"kau berniat berapa lama tinggal di sini Fan?" tanya nenek Arum.


"mungkin sekitar satu minggu nek" jawab Raffan.


"bagaimana dengan ingatanmu?" tanya nenek Arum lagi.


"masih belum kembali nek, sebenarnya tujuanku kemari juga karena aku ingin mendapat ingatanku kembali" terang Raffan.


"aku turut prihatin dengan keadaanmu nak, pasti ini sangat berat bagimu, kau bahkan tak ingat kenangan maca kecil dengan kedua orang tuamu" ucap nenek Arum lirih.


"keadaanku tak seburuk itu nek, justru bang Fatih lah yang lebih menderita" jawab Raffan.


"apa maksudmu Fatih yang lebih menderita?" tanya nenek Arum bingung.


"aku memang waktu itu terluka sampai hampir meninggal, dan bang Fatih hanya mengalami beberapa goresan di tubuhnya, tapi asal nenek tau bang Fatih terluka mentalnya nek, dia dulu sempat depresi walau tak terlalu parah, nenek tau sendiri kan luka fisik akan mudah sembuh, tapi luka di mental bang Fatih sampai detik ini masih belum sembuh juga, dia dulu over protektif padaku, aku demam sedikit saja dia akan meminta tante membawaku ke dokter" ucap Raffan menjelaskan.


"ya Allah, kasian sekali dua cucuku, yang satu hilang ingatan yang satunya lagi mentalnya yang terluka, apa salahku sampai cucu cucuku menderita seperti ini" ucap nek Arum lirih.


"jangan bilang begitu nek, Allah ngga akan ngasih cobaan di luar batas kemampuan hambanya, Raffan yakin bang Fatih bisa sepenuhnya pulih dan Raffan bisa inget semua ingatan masa lalu Raffan, nenek do'akan saja Raffan dan bang Fatih tabah dan tegar menghadapi cobaan ini" tutur Raffan menenangkan.

__ADS_1


"tapi tetap saja Fan, bagaimana bisa Tuhan memberi kalian berdua ujian seberat itu?" ucapnya meneteskan air mata.


"Raffan percaya kok, pasti ada hikmah di balik semua ini" ucapnya menghapus air mata neneknya.


"iya, nenek do'akan kau dan keluarga abangmu selalu tabah dan di beri kebahagiaan"


"aamiin, do'a darimu sudah lebih dari cukup untuk kami nek" ... "ohya nek, kenapa nenek selalu menolak ikut kami ke kota?" tanya Raffan penasaran.


Selama ini bang Fatih bilang kalau neneknya selalu menolak di ajak ke rumahnha, nenek Arum bersikeras ingin tetap di kampung Belanda sampai kapanpun.


"nenek hanya terlalu mencintai tanah kelahiran nenek Fan, nenek lahir di sini dan ingin mati di sini" tutur nenek Arum.


"tapi nek, aku dan bang Fatih tak di sini, nenek sendirian di sini" ucap Raffan.


"nenek tidak sendiri, sahabatmu maaih sering kemari"


"sahabatku? siapa nek?" tanya Raffan bingung.


"Tania, dia sering menemani nenek di sini"


"aku tak ingat nek, dengan nenek saja aku lupa apalagi dia" ucap Raffan.


"tak apa apa, kau coba saja pelan pelan, jangan terlalu kamu paksa"


"iya nek, aku akan ke rumah ibu dulu" ucap Raffan lalu mengajak teman temannya.


Jantungnya berdetak cepat tatkala membuka pintu rumahnya, dia harap harap cemas ingin mengingat kenangan di rumah ini, mereka semua tertegun dengan keadaan rumah yang terlihat rapi dan bersih layaknya ruman berpenghuni.


Tak ada debu atau sarang laba laba seperti yang mereka bayangkan, hanya saja ada sesikit hawa dingin di dalam rumah ini.


"gila rumah lu keren banget" seru David antusias.


"iya Fan rumah kamu bagus bgt, liat itu prabotnya bagus bagus" ucap Rubby terkagum.


Ada beberapa guci indah menghiasi sudut ruang tamu, ruang tamu bernuansa putih ini terlihat sangat mewah untuk ukuran rumah 12 tahun lalu, bahkan untuk sekarang saja rumah ini begitu menawan.


Memasuki ruang selanjutnya ada ruangan yang sangat luas, banyak bingkai bingkai foto di atas meja panjang di sebelah kanan, Raffan memperhatikan sedikit terlihat di sana ada banyak foto dirinya dan Fatih.


Ada juga sebuah tv berukuran lumayan besar, juga karpet yang di gulung di ujung ruangan, ada dapur, kamar mandi juga ruang sholat di lantai 1, bisa di pastikan kamar ada di lantai atas.


Naik ke lantai atas, di sana ada 3 kamar dan 1 kamar mandi berukuran lebih besar di banding kamar mandi bawah, di tengah hanya ruangan kosong yang di hiasi beberapa guci dan vas bunga.


Mereka memasuki kamar berukuran paling besar yang bersebelahan dengan kamar mandi, kamar ini kemungkinan milik mendiang ayah dan ibunya, hatinya sedikit tergelitik saat memasuki kamar ini, seperti ada perasaan yang entahlah, sulit untuk di jelaskan.


Karena ada 3 kamar Raffan memutuskan tidur bedua dengan Anan, Rubby denga Aleya, dan David dengan Damar.


Mereka memasukan barang masing masing dan sejenak merebahkan diri untuk istirahat, sorenya Raffan mengajak teman temannya melapor ke pak RT perihal kedatangan mereka yang akan menginao satu minggu di rumah Raffan, itu semua Raffan lakukan atas saran neneknya.


Selama 2 malam hari berjalan sangat normal, pagi hari Rubby dan Aleya ikut nenek ke pasar, memasak di rumah nek Arum dan makan bersama, para lelaki juga membantu merawat kebun sayur milik nenek Arum, Anan pun sangat suka di sana sampai lupa dengan yang namanya gadget.


Di hari ketiga di sana mereka di kedatangan seorang gadis yang terlihat seumuran, nenek Arum memperkenalkan gadis itu dengan nama Tania.


Mereka saling berjabat tangan memperkenalkan diri masing masing, saat tangan Raffan dan Tania bersalaman sebuah lontaran pertanyaan keluar dari mulut Tania.


"kamu bener bener ngga inget aku?"


.....bersambung.....

__ADS_1


Semoga terhibur yahhh


__ADS_2