Queen VS Princess

Queen VS Princess
HANA


__ADS_3

“AAAAAARRRRGGGGHHHH……. GEDEBRUUUKKKKK !!!!!”


“Terlambat lagi, monyet??!! Kalau tiap hari kayak gini, lama-lama pagar tangga patah beneran, nih!!” ucap Leo yang mulai merasa bosan dengan suara ribut yang hampir tiap hari ditimbulkan Hana.


“Ah, kakak berisik amat sih!! Aku udah telat, nih!!” ucap Hana sambil berlari menyambar roti di meja makan. Sedangkan tangan yang lain memakai sepatu. “Aku berangkat !!”


Beginilah suasana pagi yang setiap hari terjadi di keluarga Chizuru. Hana & Leo adalah saudara tiri. Ayah kandung Hana menikah dengan Ibu kandung Leo beberapa bulan setelah kelulusan SMP. Saat itu langit pagi terasa begitu cerah. Terlihat beberapa orang berjalan di tengah jalanan kota Tokyo. Gedung-gedung pencakar langit sudah mulai beroperasi sejak pagi. Layar LED yang menempel di beberapa gedung terus memperlihatkan iklan dari produk yang dipasarkan. Begitu ramai, begitu padat. Semua orang menjalani aktivitasnya masing-masing. Tanpa tahu apakah hari ini merupakan hari terbaik mereka, ataukah justru hari terburuk.


Gedung sekolah yang terbilang “biasa” itu terletak di Prefektur Kanagawa. Meski banyak sekali sekolah lain yang menjadi saingan, sekolah Hana tergolong berstatus “favorit”. Selain Karena murid-murid pandai dan berprestasi, sekolah ini juga dikenal memiliki fasilitas yang memadai. Tidak kalah dengan sekolah mewah yang terletak di perkotaan Tokyo.


Setiap hari Hana pergi ke sekolah menggunakan Roller Blade hadiah kelulusan dari Ibu tirinya. Awalnya Hana merasa takut jika Ibu tiri yang sering muncul dalam cerita dongeng, akan muncul ke dunia nyata dan menyiksa hari-harinya. Tapi sepertinya hal itu tak perlu diragukan lagi. Ibu kandung Leo yang saat ini menjadi Ibu tiri Hana adalah sosok Ibu yang sempurna.

__ADS_1


“Aku denger Kak Sojiro Seta suka sama kamu ya? Itu bener?”


Pagi yang indah kemudian lenyap dengan pertanyaan yang diajukan oleh Mia. Membuyarkan semua lamunan tentang kota Tokyo yang indah pagi ini. Bahkan Hana belum sempat meletakkan tas ranselnya. Hana menampakan wajah yang cukup terkejut dengan berita yang menyebar seminggu lalu itu. Sejujurnya Hana mengenal Kak Sojiro hanya pada saat pemilihan ketua OSIS. Mereka memang sempat dekat tapi hanya selama pemilihan itu. Hana tak pernah menyangka akan menjadi orang yang spesial seperti yang dikatakan Mia.


“aku gak tahu berita itu” jawab Hana singkat dan terkesan menghindari pertanyaan itu. “lagi pula aku juga gak peduli” tambahnya seraya mengalihkan pandangan. Ia menyandarkan punggungnya di bangkunya yang terletak di belakang bangku Mia.


“Kamu masih belum melupakan Kak Leo, ya?” Tanya Mia. Seolah masih ingin menggali informasi sedalam-dalamnya tentang Hana.


“Hana, Kak Leo Kusanagi itu sekarang kakakmu. Kamu gak bisa memiliki perasaan padanya. Kamu gak bisa menyukainya sebagai seorang laki-laki.” Jelas Mia sambil memegang bahu Hana. Matanya menatap Hana dengan tajam dan meyakinkan.


Ya, Leo Kusanagi yang sekarang ini menjadi kakak tiri Hana adalah orang yang selama ini dicintainya. Hana mengenal Leo bahkan sebelum kedua orangtua mereka bertemu. Leo adalah guru privat Hana. Hubungan mereka tidak hanya sebatas guru dan murid. Mereka sering keluar bersama diluar jam privat. Bahkan sekedar nonton bareng atau makan bareng.

__ADS_1


Saat itu perlakuan Leo pada Hana membuatnya berharap bahwa mereka memiliki perasaan yang sama. Hana berniat mengutarakan perasaan setelah kelulusan SMP. Tapi pada saat itu ia harus melihat kenyataan yang membuat tubuhnya terpisah dengan jiwanya sesaat. Ayahnya datang bersama seorang wanita yang diketahui itu adalah ibu kandung Leo. Mereka datang dengan membawa kabar yang menurut mereka bahagia. Mereka akan menikah. Saat itu terlihat raut wajah Leo menunjukan turut bahagia mengenai berita itu.


“Kamu harus bisa menerima kenyataan. Walaupun dia kakak tirimu, tetap saja kamu tak boleh menyukainya. “ ucap Mia yang masih memegang bahu Hana. Membuatnya tersadar dari lamunan kilas balik tentang awal mula semua ini terjadi. Entah bagaimana kata-kata Mia membuat Hana merasa tidak nyaman.


“Kamu pikir aku masih berusaha tetap menyukainya?!!” bentak Hana karena sudah tak sanggup lagi melanjutkan pembicaraan ini. Sudah terlalu dalam. “Aku selalu berusaha melupakannya. Tapi kita tinggal satu atap. Mana bisa aku melupakannya semudah itu?” bela Hana dengan tetesan air mata yang tiba-tiba mengalir begitu saja.


Menerima kenyataan tentang tinggal satu atap dengan orang yang dicintai merupakan sebuah anugerah tersendiri. Tapi, kali ini Hana merasakan pahit yang sulit untuk ditelan mentah-mentah. Ia memang tinggal satu atap dengan orang yang dicintai, tapi sebagai saudara tiri. Itulah yang membuatnya tak pernah bisa tidur nyenyak akhir-akhir ini.


“Hana, aku minta maaf. Aku benar-benar tidak bermaksud mengucapkan hal itu. Aku hanya tidak ingin kamu masih terus mencintai kak Leo. Aku benar-benar tidak bermaksud menyakitimu. Maafkan aku.” Pinta Mia kali ini menundukkan kepalanya di hadapan Hana. Sahabat mana yang membiarkan sahabatnya sampai memohon maaf seperti itu.


“sudahlah. Tak usah dibahas lagi. Mungkin aku hanya butuh waktu untuk benar-benar melupakan kak Leo.” Ucap Hana sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


Mia hanya menggelengkan kepala sebagai isyarat yang mengatakan “tak apa-apa.”


__ADS_2