
“aku sudah download beberapa tutorial menggunakan make up. Inget ya? Sebisa mungkin kamu harus keluar rumah memakai make up. Satu lagi, jangan sampai ketinggalan aksesoris penting yaitu anting. Koleksi anting ada di laci lemari. Ingat itu, ya !!” jelas Shana panjang lebar dalam telepon.
“iya, Shana. Aku akan berusaha pakai make up.” Jawab Hana lemas begitu melihat perlengkapan make up yang harus ia pakai untuk menyamar sebagai Shana.
“kemarin malam kamu ditemukan siapa?” tanya Shana setelah selesai menjelaskan wejangan untuk Hana.
“Tadashi yang menemukanku. Dia mencarimu kemana-mana. Jadi kita bertukar tempat lagi, nih? Sampai kapan?” tanya Hana.
“aku gak tahu sampai kapan. Kita lihat saja dulu.”
Hana terduduk diam sambil menatap meja. Karena pertukaran yang tidak sengaja, Hana harus menjalani kehidupan sekali lagi sebagai Shana. Begitu pula dengan Shana yang harus menjalani kehidupan sekali lagi sebagai Hana. Tak ada yang tahu sampai kapan pertukaran ini berlangsung. Bahkan Shana maupun Hana tak bisa menentukan sampai kapan. Di sisi lain, Hana benar-benar ingin melupakan perasaannya tentang Leo.
Ia mengambil moisturizer dan meletakkan isinya di telapak tangan sesuai yang diperlihatkan dalam video tutorial make up yang telah disiapkan Shana. Perlahan Hana mengusap wajahnya dengan moisturizer tersebut. Sensasi dingin dan lembut. Tak butuh waktu lama agar meresap, Hana langsung mengambil BB Cream dan menempelkan cairannya menyebar ke seluruh wajah. Ia kembali menuruti apa yang diperlihatkan dalam video. Meratakan BB Cream dengan spons agar lebih merata. Hana melirik kuas bedak dan kemudian memoles ke seluruh wajahnya. Jika dipikir-pikir, ini adalah kali pertama ia mencoba menggunakan make up. Matanya berkedip-kedip saat melihat tampilan wajahnya di cermin. Wajahnya jauh terlihat segar namun tetap natural. Hana pun tersenyum dengan bayangannya sendiri dalam cermin.
Shana menyuruh untuk menggunakan lipstick berwarna cerah, namun kali ini Hana melanggar perintah Shana. Ia mengambil lipgloss dan memoleskan pada bibir tipisnya. Hana semakin puas dengan hasil uji cobanya.
“oiya… anting. Laci lemari, ya…. Ehm…” Gumam Hana sambil mencari laci yang dimaksud.
Hana menuju lemari pakaian besar yang ditunjukan Shana lewat telepon. Dalam lemari besar itu biasanya Shana menyimpan beberapa baju mahal koleksi yang ia beli di luar negeri. Di dalam lemari tersebut ada 3 laci. Shana tak memberitahu laci nomor berapa tempat koleksi antingnya. Hana terpaksa membuka laci tersebut satu per satu. Ia terdiam ketika membuka salah satu laci lemari yang berisi beberapa lembar kertas surat. Sepertinya surat yang belum sempat dikirim.
“apa ini surat cinta? Untuk Hiroki……..” gumam Hana. Ia masih penasaran apa isi surat ini. Bagaimana bisa jaman secanggih ini, dan sekaya Shana masih mengirim surat untuk komunikasi. “tidak ada alamat yang dituju. Apa tidak akan dikirimkan?”
Perlahan walaupun tak pasti, Hana membuka surat tersebut dan mulai membacanya kata demi kata. Ia yakin kalau surat ini dibuat untuk dikirimkan, tapi kenapa tak ada alamat yang dituju.
Apa kau bahagia disana? Aku merindukanmu
__ADS_1
Kau ingat bagaimana terakhir kali kita liburan musim panas?
Saat itu kau bilang padaku akan terus bersamaku walaupun musim terus berganti.
Masihkah aku boleh mempercayai itu?
Hari ini aku ada festival budaya di sekolah, aku selalu teringat bagaimana kau selalu
Mengganggu persiapan kelas. Kau selalu saja usil.
Hari-hari tanpamu terasa sangat lama dan membosankan.
Kapan kita bisa bertemu lagi? Aku sangat merindukanmu.
Apa kau juga merasakan hal yang sama?
Terdengar bunyi pintu kamar yang dibuka.
“Kau belum siap-siap?” ucap Cleanne yang tiba-tiba membuka pintu kamar Shana. Sepertinya hari ini Cleanne akan menginap disini.
“sudah kok. Tunggu sebentar, ya. Ada yang harus ku ambil di bawah.” Jawab Hana. Ia terkejut dengan kedatangan Cleanne yang tiba-tiba. Hana mengembalikan lagi foto yang ia ambil dari dinding.
“apa yang kau lakukan?” tanya Cleanne saat melihat Hana mengembalikan foto di dinding. Mata Cleanne terlihat sayu. Hal itu membuat hana kebingungan.
“aku hanya melihat-lihat. Tunggu, ya. Aku ke bawah sebentar.”
__ADS_1
Hana langsung bergegas keluar kamar. Meninggalkan Cleanne yang masih menunjukan mata sayu. Cleanne masih terdiam sambil menatap foto itu. Cleanne melihat selembar kertas surat yang tadi Hana baca. Air mata Cleanne menetes.
“ayo Cleanne kita berangkat.” Ucap Hana saat masuk kamar dan mengambil tasnya. Ia melihat Cleanne membaca surat milik Shana. Hana baru sadar jika ia lupa membereskan surat itu.
Cleanne menoleh pada Hana sambil menangis. Air matanya tak berhenti menetes. Bahkan bahu gadis bertubuh mungil itu bergetar. Apa yang terjadi? Hana bertanya-tanya dalam hatinya. “kau jangan menanggung semuanya sendirian, Sha. ini bukan salahmu. Kau bisa membagi bebanmu padaku.” Ucap Cleanne sambil menangis.
“beban apa? Memang apa yang terjadi, Cleanne? Kenapa kau sampai menangis seperti ini? Apa yang salah? Apa yang terjadi?” tanya Hana yang panik melihat Cleanne menangis tiba-tiba.
“surat ini…..apa maksudmu menulis surat ini?”
“itu…..aku berniat mengirimkannya. Tapi entahlah… aku tak yakin.” Jawab Hana asal-asalan. Ia hanya berfikir bahwa surat dibuat untuk dikirimkan, bukan?
“Shanaaaaa……!!! maafkan aku yang tak pedulikanmu. Aku tak tahu kalau kau bahkan sudah hampir gila.” Balas Cleanne sambil memeluk Hana.
“heh?! Apa?! Aku gak gila, Cleanne !! kamu jangan ngomong sembarangan. Apa salah mengirim surat pada Hiroki ke luar negeri? Tidak masalah, kan?” ucap Hana mencoba menjelaskan dan mencoba menentang apa yang menjadi prasangka Cleanne.
Cleanne terdiam sejenak. Ia menatap mata Hana tajam. Seolah berusaha masuk menyelami ke dalam jiwa Hana. Merasa tak nyaman dengan tatapan Cleanne, Hana hanya berusaha mengalihkan pandangannya.
“siapa kau?” tanya Cleanne dengan tegas. Ia pun berhenti menangis. Sekarang matanya menatap tajam Hana seolah ia siap menerkam Hana kapan saja.
“a…ap…apa maksudmu, Cleanne?” tanya Hana gugup. “aku Shana. Kau lupa?”
“engga. Kamu bukan Shana. Kamu bahkan tak tahu siapa Hiroki.”
Sepertinya Hana menginjak ranjau. Tak menyangka jika kepanikannya membuat penyamaran ini terbongkar. Keringatnya mulai bercucuran. Jantungnya berdegup kencang. Tak tahu harus berbuat apa untuk meyakinkan Cleanne.
__ADS_1
“siapa kau sebenarnya? Kenapa ada di kamar Shana? Dimana Shana sekarang?” Sepertinya hari ini mereka berdua tidak akan berangkat sekolah.