
“aku sayang kamu, Han…” ucap Sojiro di hadapan Hana. Raut wajahnya terlihat tegang. Hana sangat tahu kalau saat ini Sojiro pasti gugup setengah mati. Mengutarakan perasaan yang selama ini dipendam bukan perkara yang sederhana. Karena hal itu kita harus siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Apakah itu kemungkinan terbaik ataukah terburuk. Apapun itu sudah menjadi skenario dalam hidup ini.
Hana hanya terdiam. Ia hanyut dalam lamunannya tentang perasaan suka pada Leo yang terus ia pendam. Membayangkan jika suatu hari nanti ia menyatakan perasaan itu. Apa yang akan dipikirkan Leo?
“boleh aku minta waktu untuk memikirkannya? Ini terlalu mendadak.” Ucap Hana seolah mengulur waktu untuk menjawabnya. Sesungguhnya tak perlu waktu bagi Hana untuk menjawab. Hanya saja ia tak ingin menyakiti perasaan Sojiro lebih cepat.
“aku tahu ini mendadak. Kau boleh menjawabnya kapan saja saat kau sudah siap. Tak perlu terburu-buru.” Imbuh Sojiro dengan mimik wajah tersirat sedikit kekecewaan.
Hana hanya mengangguk tanda ia mengerti. Sojiro pun segera kembali ke kelas meninggalkan Hana yang masih berdiri disana. Seandainya ia bisa mengutarakan perasaannya pada Leo, apakah keadaan akan berubah? Seandainya ia punya keberanian seperti yang dilakukan Sojiro, seandainya ia bisa bersikap egois dan mengatakan yang sebenarnya. Lamunan Hana akan terus menimbulkan rasa sakit di hatinya.
__ADS_1
,****************
Suasana sore yang sangat dingin. Bahkan penghangat ruangan di rumah tak mampu mengatasi dinginnya musim dingin di Jepang. Hana terkapar di dalam mesin penghangat ruangan. Terdengar suara bel rumah dibunyikan. Siapa yang datang mengganggu acara menggelundung indah? Dengan langkah malas dan terseret-seret Hana bangkit untuk membuka pintu. Tamu seperti apa yang datang di tengah dinginnya sore hari.
“hai Hana.” Leo datang dengan wajah riang tanpa dosa. Kenapa harus membunyikan bel untuk masuk ke rumah sendiri? Wajah Hana terlihat sangat bête. Leo sudah mengganggu acara menggelinding indah. “tebak siapa yang aku bawa?” ucap Leo sambil menarik tangan seseorang yang dari tadi sembunyi dibalik punggung Leo yang cukup lebar.
Terkejut? Ya….jelas sekali terlihat di wajah Hana. Leo membawa seorang wanita cantik. Sepertinya berdarah campuran. Rambutnya berwarna pirang. Entah itu asli atau tidak. Lipstick yang dipakai sangat serasi dengan wajahnya. Make up yang lembut membaur dengan baik pada kulitnya. Tubuh ramping dengan tinggi badan melebihi tinggi Hana. Sungguh seperti seorang model. Siapa?
“Kamu yang namanya Hana? Leo sering membicarakan tentangmu. Ternyata benar kamu sangat imut dan lucu. Adik tiri Leo ya?” sapa Kumika. Orang yang ramah dan baik. Dia bisa dengan cepat membaca situasi. Sangat berlawanan jauh dengan Hana.
__ADS_1
“salam kenal kak. Aku Hana Chizuru. Adik tiri kak Leo.” Ucap Hana sambil menunduk memperkenalkan dirinya. Jantungnya serasa ingin berhenti berdetak saat itu juga. Ia ingin bumi menelannya mentah-mentah sampai tak ada sisa. Leo dan Kumika bahkan mengenakan kemeja berwarna senada merah marun. Meski dengan motif yang berbeda. Seolah sudah janjian untuk mengenakan kemeja yang sama.
Leo merangkul Kumika dan mengajaknya masuk ke ruang tamu. Melewati Hana yang masih terdiam berusaha mengembalikan kesadarannya yang ditelan bumi. Bagai sebuah pedang membelah hatinya sampai berdarah-darah. Sakit yang tak mengeluarkan darah. Seperti inikah rasanya sakit hati? Kakinya seolah lemas tak mampu menopang badannya. Apa yang harus ia lakukan? Melihat mereka bersama hanya akan mengiris hatinya yang sudah berlumuran darah. Ia pun segera mengambil jaket di kamarnya dan pamitan pada Leo dan Kumika untuk pergi ke rumah Mia.
Memang tak seharusnya Hana masih menyimpan perasaan pada Leo. Bagaimanapun juga hal ini akan terjadi cepat atau lambat. Dengan langkah tertatih ia berjalan menuju rumah Mia. Air matanya tak berhenti menetes. Inikah akhir dari kisah cinta pertamanya? Begitu menyesakkan. Bahkan dinginnya sore itu tak lagi dirasakan Hana. Hatinya jauh lebih sakit.
Rumah minimalis yang dihuni oleh Mia beserta kedua orangtuanya. Hana sampai disana dengan wajah bengkak dan sesenggukan. Menahan tangisnya yang seperti ingin meledak. Pintu itu terbuka oleh Mia.
“Hana? Apa yang terjadi? Kenapa menangis?” Tanya Mia langsung merangkul Hana saat membuka pintu dan melihat sahabatnya menangis. Serasa tak sanggup menahan lagi beban di hatinya, Hana langsung meneteskan air mata sejadi-jadinya di balik bahu Mia.
__ADS_1
Dan sore itu berlalu begitu saja. Hana yang menangis tanpa henti di pelukan Mia, sedangkan Leo dan Kumika yang diam membisu tanpa ada pembicaraan apapun di dalam rumah. Rasanya Hana tak ingin pulang dan bertemu Leo. Mana mungkin ia menunjukan wajahnya yang berantakan seperti itu. Bahkan untuk tersenyum pun dia merasa tak sanggup. Hana memutuskan untuk bermalam di rumah Mia.