Queen VS Princess

Queen VS Princess
Masa kritis Hana


__ADS_3

Lima hari setelah dilakukan operasi, Shana akhirnya sadarkan diri. Tubuhnya masih dalam keadaan sangat lemah. Hampir seharian tanpa istirahat Tadashi menemani Shana. betapa bahagia hatinya melihat orang yang dicintai sudah terbebas dari masa kritis. Namun, hal ini belum berlaku pada Hana yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Ibu setiap hari menemani Hana tanpa henti bergiliran dengan Leo. Ayah tetap bekerja seperti biasanya dan Ibu terpaksa mengambil cuti beberapa hari sampai Hana sadarkan diri. Semakin hari tubuh Hana semakin kurus. Belum ada tanda-tanda perkembangan kemajuan yang dialami Hana. Rhena tetap kuliah seperti biasanya. Ia tak lagi kembali ke Inggris untuk membantu Mama.


Cleanne, Misaki, dan Tadashi masih tetap sekolah seperti biasa. Sepulang sekolah, Tadashi langsung menuju rumah sakit untuk melihat perkembangan Hana dan Shana.


“bagaimana sekolah?” tanya Shana pada Tadashi yang mengambilkan minum untuk Shana.


“semua berjalan lancar. Hari ini Cleanne ada syuting, dia titip salam padamu. Misaki harus membantu di perusahaan ayahnya.” Jawab Tadashi.


“aku ingin tahu keadaan Hana sebenarnya. Ibu dan Ayah tak ada yang mau memberitahu. Tak satupun dari mereka memberitahuku. Jadi kumohon.”


Tadashi terdiam sejenak. Sesungguhnya ia sama sekali tak ingin memberitahu Shana yang sebenarnya. Shana pasti akan sedih jika mendengar kebenarannya. Tapi tak ada yang bisa ia sembunyikan kali ini.


“dengarkan aku baik-baik. Aku harap kau tetap tenang.”


Wajah Shana berubah tegang.


“tulang leher Hana mengalami patah. Namun sudah berhasil diatasi. Kornea mata Hana sobek. Kemungkinan besar jika sadar nanti, ia mengalami kesulitan pandangan atau bahkan kebutaan. Salah satu ginjalnya sudah tidak berfungsi secara maksimal lagi. Ia hanya bertahan dengan satu ginjal saja.”

__ADS_1


Shana menggenggam tangannya sendiri. Matanya berkaca-kaca. Hatinya seolah mengutuk dirinya sendiri. Ini semua salahnya mengajak Hana.


“lagipula hari itu, kenapa kau mengemudi sendiri? Kau biasanya diantar sopir. Mau kemana kau hari itu?”


“aku……aku…… berencana mencari kado untuk ulang tahunmu. Karena bingung memberi hadiah apa, aku mengajak Hana untuk meminta pertimbangannya. Tak kusangka akan berakhir seperti ini.”


Tangan Tadashi menggenggam tangan Shana. “tapi syukurlah kau sudah sadar. Aku tak tahu lagi harus berbuat apa jika sampai terjadi sesuatu padamu.” Ucap Tadashi sambil memeluk telapak tangan Shana.


“tapi ini salahku. Pada akhirnya aku bahkan tak bisa memberi hadiah apapun padamu. Aku justru membuatmu cemas dan khawatir.” Shana mulai meneteskan air mata.


“asal kau selamat. Itu adalah hadiah paling membahagiakan bagiku saat ini.”


********


Malam hari di sebuah rumah sakit bukanlah hal yang menyenangkan. Suasana jauh berbeda dengan saat rumah sakit di siang hari. Malam ini adalah giliran jaga Leo dan Rhena. Ayah dan Ibu pulang untuk beristirahat karena seharian sudah menemani di rumah sakit. Tadashi sedang mengurusi beberapa urusan di rumah sakit. Shana masih terjaga saat itu. Hal yang paling tidak ia sukai dari rumah sakit adalah aromanya. Aroma rumah sakit selalu mengingatkan Shana pada saat kematian Hiroki. Betapa menyesal saat itu ia tak tahu apapun dan tak sedikitpun ada disamping Hiroki. Heningnya suasana malam itu membuatnya merinding dan serasa ingin memejamkan mata secepatnya. Namun, semakin ia memejamkan mata, semakin ia tak tahu apa yang ia lihat. Samar-samar terdengar seperti suara rintihan. Shana mendadak merinding. Rasa sakit diantara kaki dan tangannya serasa tak bisa ia rasakan lagi. Shana berusaha mengabaikan suara rintihan itu. Tapi sepertinya ia sangat mengenal suara tersebut. Tiba-tiba terdengar suara batuk yang cukup mengagetkan.


Ya…. Itu suara rintihan dan batuk dari Hana. Ia batuk-batuk sambil memuntahkan darah. Matanya masih tetap terpejam. Leo segera terbangun dan memanggil dokter. Shana yang menyaksikan hal mengerikan tersebut tak bisa berkata apapun. Tatapannya kosong dan terus menoleh ke samping –ke arah Hana terbaring-. Darah yang keluar terus mengalir dari mulutnya. Apa yang terjadi? tubuh Shana kaku melihat Hana terbaring.

__ADS_1


Beberapa saat setelah Leo memanggil dokter, beberapa suster segera mengambil tindakan dengan memeriksa tekanan darah Hana. Tak lama setelah itu, ada seorang dokter yang menyuruh membawa Hana ke ruang operasi. Tanpa berlama-lama, Hana segera dibawa pergi. Shana hanya bisa menatap wajah Hana yang masih tak sadarkan diri namun darahnya terus saja mengalir. Tadashi segera datang dan menghampiri Shana.


“kau melihatnya?” tanya Tadashi pada Shana yang masih belum sepenuhnya sadar.


“apa yang terjadi pada Hana? Bagaimana bisa dia seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi? katakan padaku?!” teriak Shana pada Tadashi sambil menangis.


“tadi aku dipanggil oleh dokter yang menangani operasi Hana. Ia menemukan perkembangan baru dari kondisi Hana.”


Shana memperhatikan apa yang dikatakan Tadashi dengan cemas. Wajah Tadashi berubah pucat. Ia bingung harus berbuat apa.


“kemungkinan besar, Hana mengalami gegar otak berat. Muntah darah yang baru saja terjadi adalah bukti kuat bahwa otaknya mengalami cedera. Serahkan semua pada para dokter yang telah kupercayakan untuk mengurus Hana. Semua akan baik-baik saja. Aku harus ke ruang operasi untuk melihat perkembangan. Beristirahatlah.”


Tadashi segera meninggalkan Shana. kebingungan terlihat di raut wajah Shana. apa yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan Hana? Adakah itu? Tiba-tiba Ibu masuk kamar dan menghampiri Shana dengan raut wajah cemas.


“kau baik-baik saja? Apa yang terjadi pada Hana?” tanya Ibu yang terlihat sangat khawatir.


“Hana…..muntah darah Ibu. Adakah yang bisa kulakukan untuk menolongnya?”

__ADS_1


“Ibu paham perasaanmu, Shana. tapi jangan sekali-kali kamu menyalahkan dirimu atas semua ini. Hana pasti akan baik-baik saja. Dokter-dokter terbaik sudah menanganinya.”


Shana terdiam. Memikirkan kembali semua yang terjadi. Hana mengalami gegar otak, kornea matanya sobek, tulang lehernya patah, salah satu ginjalnya tidak berfungsi. Itu terlalu banyak. Tak ada satupun yang bisa ia lakukan? Ya… ada. Pasti ada.


__ADS_2