
Hana terdiam di depan rumahnya. Rumah yang selama 16 tahun ia tinggali, kini terasa sekali bahkan untuk masuk ke dalamnya, ia harus mengumpulkan segenap kekuatannya. Rumah berlantai dua dengan cat berwarna biru langit dengan taman mengelilingi rumah. Teringat kembali segala hal yang tadi pagi diucapkan Mia. Apa yang diucapkan Mia memang tidak ada yang salah. Bahkan segalanya benar. Mencintai saudara tiri itu hal yang tidak mungkin. Tapi lebih tidak mungkin lagi untuk melupakannya di saat harus selalu bersama.
Hana pun melepas Roller Blade-nya. Ia tegakkan lagi bahu yang sedari tadi membungkuk tanpa ia sadari. Menarik nafas panjang dan dalam. Seolah ia harus bersiap ketika bumi tiba-tiba menelannya hidup-hidup. Atau bersiap ketika ada pasukan siluman yang ingin menerkamnya. Ia pun mengepalkan tangannya dan melangkahkan satu kaki kanannya. Ia tak menyadari kehadiran Leo disampingnya.
“ngapain berdiri doank? Gak mau masuk?” sapa Leo yang tiba-tiba muncul membuyarkan lamunan Hana. Ia hanya tersenyum dengan penuh pertanyaan sambil memandang Hana. Pasti baru pulang dari kampus.
“eh,,,kak Leo. Baru pulang ya?” Ucap Hana terbata-bata karena dikagetkan Leo. Wajahnya merona melihat penampilan Leo yang menurutnya semakin keren setiap harinya.
__ADS_1
Tinggi badan Hana hanya selisih 10 cm dengan tinggi badan Leo. Lelaki berkulit putih bersih, berwajah manis tanpa sedikitpun rambut di sekitar wajahnya. Leo sering mencukur kumis meskipun baru tumbuh sebesar biji timun. Ia sangat risih dengan rambut-rambut itu dan memilih dua hari sekali mencukurnya. Hari ini Leo mengenakan kemeja putih polos dengan sedikit motif di bagian ujung lengan yang ditekuk sepanjang tiga perempat. Wajah Hana memerah saat memandangi bagian dadanya yang bidang. Meski sebenarnya ia belum pernah sekalipun melihat Leo telanjang dada. Hanya saja, kemeja itu terlihat sangat seksi untuk Leo.
“Kalo gitu….Silakan masuk, tuan putri.” Ucap Leo mempersilakan Hana masuk dengan bergaya ala seorang pangeran yang mempersilakan sang putri.
Hana yang terkejut dengan perlakuan Leo pun, hanya tersenyum kecil. Hatinya seolah menolak untuk bahagia karena perlakuannya. Seakan ada gejolak dalam hatinya. Di satu sisi ia tak boleh terlena bahagia karena perlakuan Leo, tapi di sisi lain ia tak sanggup membendung senyum bahagianya yang kemudian terpancar dari wajahnya. Mungkin, sekilas mereka terlihat seperti pasangan kekasih yang sedang dirundung asmara. Namun, kenyataan harus berkata lain.
“ngapain ngomong sendiri?” Tanya Leo kemudian menyusul Hana yang duduk santai di teras. Kakinya lurus mengikuti kaki Hana dan mereka duduk bersebelahan. Sejenak keduanya terdiam. Saling menikmati hembusan angin sore hari. Hana yang sibuk menata debaran jantungnya dan Leo yang mencoba mencari topik untuk membuka obrolan.
__ADS_1
“kak Leo udah punya pacar belum?” Tanya Hana dengan muka yang bersemu merona. Jauh dalam lubuk hatinya, tak pernah sedikitpun ada keinginan untuk menanyakan hal itu. Entah karena takut sakit hati atau memang tak peduli. Tapi sepertinya lebih karena tak ingin patah hati. Rasanya ingin sekali Hana menanyakan pada Leo tentang bagaimana perasaan sesungguhnya ketika tahu kalau mereka akan menjadi saudara tiri. Adakah sedikit harapan untuknya bersandar dihati Leo?
“kenapa tanya begitu? Kamu sudah punya pacar ya?” Tanya Leo yang malah balik menanyai Hana. Leo yang selalu usil pada Hana jelas sekali terlihat bahwa ia sedikit terkejut dengan pertanyaan Hana. Namun, sepertinya Leo sukses menutupi itu dengan keusilannya.
“apaan sih kak Leo malah tanya balik.”
Mungkin tak ada yang menyadari perasaan mereka sesungguhnya. Seperti menyimpan sebuah bom yang suatu saat bisa meledak kapan saja. Menerka-nerka apa yang bisa diraih dan apa yang bisa direlakan. Antara keegoisan atau kepentingan orang lain. Mungkin hanya waktu yang bisa menjawab siapa yang menang.
__ADS_1