
Hana menangis sendirian sambil terduduk di taman belakang sekolah. Seragamnya terlihat kusut, rambutnya berantakan. Apa yang sudah ia lakukan? Hana sangat yakin kalau sedikitpun ia tak menyentuh kalung itu. Bahkan, tahu kalau itu berlian saja tidak. Hana takut jika sampai Shana marah gara-gara apa yang sudah terjadi disini.
Tak menunggu waktu lama, Shana datang dan langsung menghampiri Hana. Matanya terpaku melihat penampilan Hana yang tak karuan itu.
“apa yang sudah terjadi?”
“Shanaaaaaaa………….maafkan aku, Sha. Maaf. Arisa……..huuuuuuhikkkkkssss……” ucap Hana sambil sesenggukan mengucapkan nama orang yang sudah memfitnah dirinya.
Tak sanggup memarahi Hana yang sedang terpuruk seperti itu, Shana memilih untuk tenang dan berusaha menanyai Hana. “dia lagi……” gumam Shana pelan.
“aku bersumpah, aku tak pernah melakukan itu, Sha. aku gak pernah mencuri kalung berlian Arisa. Itu gak mungkin, Sha.”
“kamu……. Dituduh mencuri? dengarkan aku. Masalah ini biar aku yang urus. Kita kembali ke posisi masing-masing. Kau tak perlu khawatirkan masalah disini. Akan kuselesaikan sendiri.”
“huum.” Ucap Hana tanpa berhenti menangis walaupun sudah berkali-kali menyeka air matanya.
“sekarang kita ganti baju, dan rapikan penampilanmu. Di luar ada mobil. Kamu masuklah ke mobil dan minta antar pulang. Kau pasti lelah.”
“mobil ? mobil siapa, Sha?”
“sudahlah nanti kamu juga tahu.”
Mereka berdua kemudian bertukar seragam sekolah masing-masing dan kembali ke posisi awal. Hana yang sudah mengenakan pakaian seragam sekolahnya sendiri, langsung berpamitan pada Shana dan menuju keluar sekolah. Seperti yang telah dikatakan Shana, di luar ada mobil mewah berwarna hitam yang berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Hana mendekat pada mobil itu dan membuka pintunya perlahan. Sepasang mata menatapnya dengan penuh tanda tanya.
“kak sojiro?”
“iya. Kamu kok kaget gitu. bagaimana? Apa sudah beres?”
Hana segera menempatkan dirinya di posisi senyaman mungkin. Sambil memikirkan kembali apa yang kemungkinan sudah terjadi. Seingat Hana, terakhir kali ia berhubungan dengan Sojiro adalah saat pernyataan cinta itu. Bagaimana mungkin sekarang ia bahkan berada dalam mobil kak Sojiro. Hana berusaha tenang sambil mengatur nafasnya.
“kita mau kemana?”
Lamunan Hana buyar. Ia teringat kata-kata Shana sebelum mereka berpisah.
“kita pulang saja, kak.”
********
Langkah kakinya mantap menerjang beberapa siswa yang sedang berbincang-bincang di lorong. Seolah tak peduli, Shana berjalan menuju kelas. Sepertinya ia ingin membuat perhitungan pada Arisa. Namun, ketika melewati kelasnya sendiri, Cleanne yang melihat Shana segera menarik tangannya.
“apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau sedang diskors?”
“aku mau buat perhitungan, Cleanne. Lepaskan aku.” Berontak Shana.
__ADS_1
“kau mau bikin keributan di sekolah? Kau benar-benar sudah gila, Shana.” Tolak Cleanne masih berusaha menahan Shana.
“aku gak terima, Cleanne. Itu kalung berlian murahan. Aku bahkan bisa membelinya satu truk. Kenapa aku harus mencurinya? Benar-benar sudah gila, Arisa.”
Sepertinya kali ini Cleanne tak sanggup lagi menahan tangan Shana yang berusaha memberontak. Ia hampir melepaskan tangan Shana, jika saja tak ada Tadashi yang menahannya.
“kau mau apa, Shana?” tanya Tadashi sambil menahan tangan Shana. Kali ini genggamannya jauh lebih kuat dari Cleanne. “kau sedang diskors Shana. Kalau sampai guru tahu kau membuat keributan disini, hukumanmu bisa saja ditambah.”
Shana berhenti sejenak. Apa yang dikatakan Tadashi memang benar. Jika aku buat perhitungan dengan Arisa di sekolah, itu hanya akan menghancurkan reputasiku.
“pikirkan kembali dengan kepala dingin, Sha.”
Mereka bertiga hening sejenak. Membiarkan Shana mendinginkan kepalanya. Tapi sepertinya itu tak berhasil. Dari dalam ruang aula, tiba-tiba Misaki muncul dan memberi kode Shana untuk masuk ke ruang aula. Tanpa pikir panjang, Shana dan Cleanne langsung masuk ke aula. Kemudian Tadashi menyusul.
“aku punya senjata pamungkas untuk membongkar Arisa.” Ucap Misaki pada Shana dengan setengah berbisik.
“apa itu?” tanya Shana yang cukup penasaran.
Misaki langsung menghidupkan handycam yang ia bawa dan menunjukan sebuah rekaman video pada Shana. Mata Shana pun terbelalak. Senyum licik pun nampak di bibir tipisnya. Sepertinya ia punya sebuah rencana besar.
“kau tahu apa yang harus kau lakukan kan, Misaki?” tanya Shana pada Misaki dengan tatapan penuh kelicikan.
“tentu saja, sang Ratu.”
“siap, Sha. laksanakan.” Cleanne segera meninggalkan Shana, Misaki dan Tadashi yang masih dalam ruang aula.
“Sha, kau tak boleh balas dendam pada Arisa. Kau tak bisa bikin keributan disini.” Cegah Tadashi yang sepertinya tak setuju dengan rencana Shana kali ini.
“misaki, bisa kau urus dia? Aku yang akan menggantikan tugasmu.” Ucap Shana pada Misaki.
“tentu saja, sang Ratu.”
Misaki segera menahan tangan Tadashi dan mengurungnya di pojokan aula. Tadashi yang tak bisa melawan Misaki hanya bisa pasrah dan berharap tidak ada korban dalam rencana Shana.
Sementara itu, Cleanne yang saat ini berada di kelas Arisa……..
“ada yang ingin bertemu denganmu.” Ucap Cleanne pada Arisa yang sibuk dengan perlengkapan berdandan miliknya.
“aku tak mau. kau tidak lihat? Saat ini aku sangat sibuk. Tolong jangan diganggu ya.”
“tapi dia ingin bertemu. Katanya penting.”
Cleanne serasa ingin menampar wajah Arisa dengan baskom. Betapa sok cakep banget. Tangannya mengepal saking gemesnya pada perlakuan Arisa. Cleanne menghela nafas panjang. “aku sudah bersikap baik untuk mengajakmu ya. Jangan salahkan kalau aku sedikit memaksamu.”
__ADS_1
Cleanne tiba-tiba menarik tangan Arisa dengan paksa. Arisa yang terkejut sempat memberontak. Bukan Cleanne kalau ia tak bisa menggiring targetnya. Tenaganya hampir satu level dibawah tenaga cowok. Bisa dibayangkan bukan? Arisa tak bisa berbuat apa-apa saat dipaksa Cleanne.
“hei,,, lepaskan aku.” Berontak Arisa.
“aku sudah berbuat baik ya. Aku sudah mengajakmu secara baik-baik. Jadi jangan protes.” Ucap Cleanne sambil menarik tangan Arisa. Genggaman tangannya sangat kuat.
“mau apa kau? Apa yang ingin kau lakukan?”
“membela kebenaran.”
“ha?”
Cleanne sampai di ruang aula dengan membawa paksa Arisa. Ia membuka pintu dan mulai masuk. Di dalam ruangan gelap yang cukup luas itu, Cleanne sendiri merasa takut.
“aku sudah bawa target, nih.”
“bagus. Thanks Cleanne.” Ucap Shana yang kemudian muncul dari belakang panggung.
“sudah kuduga. Pasti kamu. Mau apa kau? Belum puas mencuri kalungku?”
“eits…. Asal kamu tahu ya….. bisnis ibuku di Swiss adalah perusahaan pembuat berlian terbaik disana. Kalungmu itu gak ada apa-apanya. Hanya butiran upil.”
“ciihhh….sombong sekali kau. Akan kulaporkan tindakanmu ini pada Kepala Sekolah.”
“silakan kalau kau ingin melaporkan. Tapi sebelumnya, kupastikan seluruh sekolah melihat video ini.” Ucap Shana dengan sangat percaya diri dan seolah memberi isyarat pada Misaki yang sudah bersiap di belakang layar.
“video….?” Gumam Arisa pelan sambil gemetaran.
Layar di atas panggung turun perlahan. Proyektor mulai menampilkan sebuah video yang membuat mata Arisa terbelalak. Mulutnya seketika terkunci. Tubuhnya gemetaran melihat sebuah video yang menampilkan dirinya mengendap-endap masuk ke dalam kelasnya sendiri dan menaruh sebuah kalung di dalam tas Shana –saat itu sedang dipakai Hana-.
“gak mungkin.” Gumam Arisa pelan. Wajahnya berubah pucat.
“bagaimana, Arisa? Kau masih ingin melaporkan tindakanku ini pada Kepala Sekolah? Akan kupastikan video ini menyebar ke seluruh sekolah bahkan sebelum kau sampai di ruang Kepala Sekolah.” Ucap Shana sambil menyilangkan kedua tangannya di depan.
“sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?” tanya Shana pada Arisa. “kau sudah menjauhkanku dari Hiroki. Kupikir kau hanya membenciku. Tapi kenapa sampai hubungan Misaki dan Cleanne juga kamu hancurkan?”
“berisik..!!! itu bukan urusanmu !!!” teriak Arisa pada Shana.
“tentu saja itu urusanku !!!”
“sudahlah. Misaki, kau bawa Arisa dan video itu pada Kepala Sekolah.” Ucap Tadashi yang daritadi berusaha terbebas dari kurungan dan hanya diam melihat situasinya. Kali ini ia harus menengahi mereka sebelum terjadi hal yang lebih parah lagi.
“Cleanne, tolong kau amankan Shana. Aku akan membantu Misaki mengurus Arisa.”
__ADS_1
“baiklah.”