
Walaupun Leo sudah kembali ke rumah, suasana masih terasa canggung. Shana memilih banyak diam karena takut salah bicara. Kira-kira segawat apa masalah ini sampai membuat Leo pergi dari rumah?
“hari ini Ayah lembur. Pulang larut malam. Kalian makan duluan saja.”
Shana tak peduli dan tetap menyantap makan malamnya. Walaupun makan malam di rumahnya jauh lebih enak. Bagaimana kelanjutan hubungan Leo dan Hana ya? Lalu orangtuanya bagaimana? Aku lupa menanyakan hal itu tadi.
“kamu akan disini dulu kan, Leo?”
“iya, Bu. Lagipula di kos masih sepi.”
“syukurlah. Ayahmu besok harus mengurus passport. Dia dapat tugas kerja di Hongkong selama 10 hari. Ibu tak bisa bayangkan jika hanya ada Ibu dan Hana di rumah. Takut terjadi hal buruk jika tak ada satupun laki-laki di rumah.”
“Ayah ke Hongkong?” tanya Shana sepertinya cukup terkejut.
“iya. Ini juga demi karirnya. Tidak apa-apa kan jika kamu di rumah sama Ibu dan Leo saja?”
“tak apa Ibu.”
__ADS_1
Shana melanjutkan kembali makanannya. Entah muncul setan dari mana yang membuatnya berfikir tentang Cinderella yang disiksa oleh Ibu tiri dan saudara tirinya saat ditinggal pergi Ayahnya. Memangnya ada kejadian seperti itu di dunia nyata? Shana mengomel sendiri dalam hatinya. Bisa-bisanya ia berfikir sejauh itu.
Seusai makan malam, Shana segera masuk ke kamarnya dan mendapati ada beberapa panggilan tak terjawab dari Hana. Segera Shana menelepon balik.
“ada apa, Hana?”
“Sha, ehm… minggu depan kak Rhena mau ke Inggris menyusul Mamamu. Aku diminta untuk ikut. Menurutmu gimana?” tanya Hana dari seberang telepon.
“ikut saja. Memang ada apa kok sampai menyusul kesana?”
“APAAAA?!!!! Sudah kubilang dari awal kalau laki-laki brengsek itu hanya akan mengambil harta saja. Kenapa sih gak ada yang percaya kata-kataku.” Ucap Shana langsung teriak-teriak marah karena mendengar berita dari Hana.
“tenang, Sha. tenang.” Hana berusaha menenangkan Shana yang tiba-tiba marah.
“kapan kau berangkat?!! Rasanya aku ingin menghajar laki-laki itu.”
“mana bisa. Lagipula dia kan sudah kabur.”
__ADS_1
“oh iya.” Shana kemudian tersadar jika kemarahannya itu sia-sia. “kamu ikut saja Hana. Tenangkan hati Mamaku. Aku yakin kamu bisa.”
“baiklah. Mungkin itu dulu, Sha.”
“eh tunggu.” Teriak Shana yang masih ingin mengatakan sesuatu pada Hana. Serasa masih ada hal yang ingin ia bicarakan pada Hana. “apa aku bisa minta tolong?” ucap Shana dengan nada yang pelan.
“apapun, Sha.” jawab Hana.
“lakukan sesuatu untuk membuat hubunganku dan Tadashi membaik. Aku gak tahu harus bersikap seperti apa di depannya. Aku jadi merasa malu tiap kali mata kami bertemu. Aku jadi gugup saat dia menghampiriku. Padahal dia hanya sekedar melewatiku.”
Hana tersenyum kecil mendengar pengakuan Shana. Sepertinya ia harus membantu sang Ratu judes menemukan cintanya.
“serahkan padaku, Sha. apa boleh kulakukan apapun?”
“lakukan apapun, Hana. Yang penting hubunganku jadi membaik.” Jawab Shana. “aku bingung harus melakukan apa. Mungkin saja kamu tahu apa yang harus kulakukan.”
“baiklah, Sha. akan kupikirkan mau melakukan apa. Sudah dulu, ya. Selamat tidur.”
__ADS_1