
Tidak ada yang berubah dari keadaan rumah Shana. Ayah, Hana, Shana dan Rhena masih lebih banyak diam. Ayah sudah beristirahat di kamar tamu. Sedangkan Rhena kembali ke kamar. Seharian ia hanya mengomel tidak karuan. Hal itu wajar. Selama ini, Rhena diberitahu Mama bahwa Papa sudah meninggal pada saat Shana lahir. Itu sebabnya Shana sendiri tidak pernah mempertanyakan soal keberadaan Papa kandungnya. Dalam hal ini, Rhena merasa dibohongi oleh Mamanya sendiri.
“sepertinya, kita harus kembali ke posisi semula. Apapun yang terjadi, sebisa mungkin jangan sampai ada yang tahu jika kita bertukar posisi.” Ucap Shana pada Hana sambil melipat kedua tangannya di dada.
“bukankah lebih baik mereka tahu semua, Sha? akan lebih mudah bagi kita menghindari masalah.” Jawab Hana sambil duduk di meja belajar.
“mungkin memang benar. Hana, aku sedikit banyak paham situasi sekarang. Kita hanya tinggal menunggu kepulangan Mamaku untuk mengetahui kejelasan semua ini. Baru saja aku mendapat laporan bahwa Mama sudah take off dari bandara.”
Hana hanya menatap mata Shana. Mencoba menyampaikan apa yang sebenarnya ingin Hana katakan. Meski sebenarnya Hana pun memahami ketakutan yang dirasakan Shana, tapi sebenarnya Hana hanya ingin menyampaikan bahwa jujur lebih baik dari apapun. Karena Hana lebih memahami kondisi saat ini. Kenyataan yang ada di depan mata mereka. Shana berusaha membaca apa yang dikatakan Hana lewat matanya. Meskipun berat untuknya, tapi apa yang dipikirkan Hana memang yang terbaik.
“baiklah. Kita akan mengatakannya pada mereka nanti setelah semua jelas.” Ucap Shana akhirnya mengambil keputusan setelah berhasil memahami Hana.
Hana tersenyum. “terima kasih, Sha.”
“istirahatlah disini. Aku akan di bawah menunggu Mama pulang.”
“kau tak ingin istirahat? Ini kan kamarmu.”
“saat ini adalah kamarmu. Pakai saja lah. Aku akan di bawah.”
“oh iya, Sha. aku sudah lakukan sesuatu pada Tadashi. aku… mengatakan semuanya pada Tadashi tentang kita.”
“semua?” Shana bingung dengan apa yang dikatakan Hana. “tunggu…tentang….kita? apa maksudmu?”
“setelah kupikirkan, rasanya akan sangat tidak adil jika aku melakukan sesuatu pada Tadashi dengan mengatasnamakan dirimu. Apalagi untuk masalah hati, itu tak mungkin bisa berbohong, Sha. kau dan Tadashi harus menyelesaikannya sendiri. Aku hanya bisa membantu sampai sini. Ingatlah, bukankah jujur itu lebih baik?”
“Jadi…. Maksudmu….”
“iya. Aku mengaku kalau bukan kamu.”
Wajah Shana merona merah. Ia lebih malu daripada salah kostum di acara pesta Halloween. Bagaimana nanti ia akan bertemu Tadashi? harus menampakkan muka seperti apa di depan Tadashi nanti? Baru kali ini Shana merasakan hal aneh seperti sekarang. Sebelumnya ia sangat biasa saja jika bertemu Tadashi.
__ADS_1
“tenanglah, Sha. kamu hanya perlu ikuti kata hatimu. Aku yakin Tadashi tahu apa yang harus ia lakukan.” Jelas Hana sambil menepuk bahu Shana dan tersenyum. “kalian pasti baik-baik saja.”
Shana mengangguk dan bergegas keluar dari kamar. Di kepalanya masih penuh pertanyaan, apa yang harus ia katakan jika bertemu Tadashi? apa yang harus ia lakukan untuk memperbaiki semua? Wajah seperti apa yang seharusnya ia tunjukkan? Akankah ini yang terbaik? Anak tangga kamarnya terasa semakin jauh dari biasanya. Perlahan menuruni tangga dengan tatapan yang terbang entah kemana. Wajah yang merona merah namun bahagia.
Langkah kaki Shana terhenti saat ada seorang pelayan yang tiba-tiba memberitahukan jika kemungkinan Mama akan datang saat tengah malam. Hal itu sudah diperkirakan oleh Shana. itu sebabnya ia meminta Ayah dan Hana beristirahat terlebih dahulu. karena biar bagaimanapun, harus diselesaikan secepatnya.
Walaupun sedikit banyak Shana sudah membaca situasi dan kemungkinan kenyataan yang terjadi, ia masih berharap ada sedikit harapan yang mengubah hidupnya. Setidaknya ini tentang Mamanya yang selalu mengurusi pekerjaan dibanding keluarga.
Shana masih terjaga. Ia hanya menonton televisi di ruang tengah. Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Terdengar suara pintu kamar terbuka. Sepertinya Rhena terbangun dari tidurnya.
“kau belum tidur?”
“aku tak bisa tidur, kak.” Ucap Shana.
“entah bagaimana aku merasa yakin, kau dan Hana adalah adik kandungku,”
Rhena tiba-tiba saja bicara seperti itu setelah duduk di sebelah Shana. wajahnya menatap televisi namun pikirannya menerawang entah kemana. Shana terkejut mendengar Rhena mengatakan itu dan menatap wajah kakak kandungnya itu.
“hei Shana. apa yang akan kau lakukan ketika Mama datang nanti?”tanya Rhena tanpa menoleh ke arah Shana. “apa kau akan marah? Atau kau akan memeluknya?”
Shana hanya terdiam. Jika dipikirkan lagi, ia memang belum bertemu dengan Mama selama hampir 6 bulan. Shana paham jika itu karena kesibukan bisnis Mama di luar negeri. Tapi apakah itu hal yang wajar jika tak menemui anaknya sama sekali? Apa memang keberadaannya sudah tak ada arti apa-apa lagi?
“aku tak tahu kak. Aku memang sudah terbiasa ditinggal Mama seperti ini sejak kecil. Jadi bagiku, 6 bulan bukan apa-apa.”
“benar juga, ya. Kamu sudah sering ditinggal Mama sejak usia 4 tahun. Pasti itu masa-masa paling sulit dalam hidupmu. Sedangkan aku tinggal di Swiss dengan nenek dan terkadang Mama juga pulang untuk menjengukku.”
“aku sampai berfikir. Aku punya salah apa sampai aku harus diperlakukan seperti itu. Mungkin Mama tidak menginginkan kelahiranku.” Ucap Shana sambil menyandarkan tubuhnya pada bahu sofa di belakangnya. “seperti jijik saat melihatku.”
Rhena terkejut mendengar perkataan Shana. “Mama tidak pernah berfikir seperti itu. Pasti ada alasan lain kenapa kamu ditinggal di Tokyo sedangkan aku tetap di Swiss.”
“semoga dugaanku benar.” Ucap Shana sambil berdiri hendak meninggalkan Rhena di ruang tengah.
__ADS_1
“jika…. Ayah Hana memang Papa kandung kita, apa kau berencana akan ikut dengan beliau?” tanya Rhena yang masih berusaha menahan Shana untuk tetap ada disana.
Shana menghentikan langkahnya.
“benar juga. Mereka tak mungkin bersatu kembali. Ide yang bagus jika aku harus ikut Hana. Setidaknya aku tak mungkin merasa kesepian di rumah sebesar ini.”
Kali ini Shana benar-benar meninggalkan Rhena sendiri di ruang tengah. Menanti berakhirnya malam. Sejak kecil memang Rhena merasa bahwa Shana diperlakukan berbeda oleh Mama. Sedikit dibedakan dengan Rhena. Entah apa alasannya. Tindakan membeda-bedakan yang paling jelas terlihat adalah saat Shana dipindahkan ke Tokyo. Hanya diberi rumah beserta fasilitas lengkap di dalamnya, Shana berusaha menerima perlakuan tidak adil tersebut. Seolah Mama membuang Shana. walaupun sesekali Mama tetap menjenguk Shana, tapi hal itu bisa dihitung dengan jari tangannya. Tidak heran jika ia tumbuh jadi seorang anak yang angkuh, judes dan tidak mudah percaya pada orang lain.
Malam semakin larut. Namun, dari luar pintu terdengar suara mobil berhenti di halaman rumah. Rhena tak bertanya-tanya siapakah yang datang. Bagaikan peramal yang sudah bisa melihat masa depan, ia segera membuka pintu utama. Di depan pintu berdiri seorang wanita paruh baya, namun kulit dan wajahnya masih terlihat sangat menakjubkan. Wanita itu membawa 1 koper berukuran kecil dan tas mahal yang ia jinjing.
“selamat datang, Ma.” Ucap Rhena.
“ya ampuuunnnn…benar-benar perjalanan yang panjang. Kau tahu, saat kau menelepon dan menyuruhku untuk segera pulang, aku langsung minta asisten pribadiku memesan tiket tercepat ke Tokyo. Sekarang Mama benar-benar capek.”
Rhena menatap koper kecil yang dibawa oleh Mamanya.
“kau hanya membawa tas kecil ini?” tanya Rhena pada Mamanya.
“kenapa? Bukankah aku hanya akan kesini sebentar saja?” jawab Mama yang masih sibuk dengan melepas jaketnya.
“kau tak berniat untuk menginap beberapa hari disini?”
“kenapa? Aku masih banyak urusan terbengkalai di Inggris. Kau pikir aku kesini karena aku sedang longgar? Lagipula kau dan Shana minggu depan akan ke Inggris kan? Jadi, untuk apa aku menginap?”
“apa pantas seorang Ibu sepertimu bersikap seperti ini? Apa bagimu bisnis lebih penting?! Kau mungkin boleh bersikap tak adil padaku saat ini, tapi jangan Shana, Ma. Tidak cukupkah bagimu membuang Shana seperti itu?!”
“Rhena, Mama ini baru pulang. Kenapa kamu malah marah-marah seperti ini. Sudah tengah malam, kau pasti lelah. Tidurlah.”
“terserah Mama.”
Rhena meninggalkan Mama yang masih berdiri di depan pintu. Tanpa berfikir lagi, Rhena masuk kamar dan menutup pintu keras-keras. Mama hanya bisa menghela nafas dan kemudian mengambil tas kopernya.
__ADS_1