
“tidak mungkin….aku tak mengizinkanmu.” Teriak Tadashi sambil membentak Shana yang mulai menggunakan kursi roda.
Shana mengajak Tadashi berjalan-jalan ke taman. Namun, ajakan itu bukan tanpa alasan. Ada hal penting yang harus Shana lakukan.
“hanya ini yang bisa kulakukan untuk Hana.”
“kau akan mendonorkan satu ginjalmu untuk menopang hidup Hana, lalu bagaimana dengan hidupmu sendiri?!! Aku tak bisa mengizinkanmu.”
“aku tetap akan bisa hidup dengan satu ginjal. Fisikku lebih kuat dari Hana. Kau tahu itu, kan?”
“kondisi fisikmu akan jauh menurun saat kau hanya bertahan dengan satu ginjal.”
“ini semua salahku yang melibatkan Hana hingga sampai seperti ini. Rasanya tidak adil jika aku yang selamat sedangkan Hana yang paling menderita. Kau pasti mengerti maksudku.” Jawab Shana sambil menunduk. Wajah sedihnya kembali terlihat.
Operasi Hana memang sudah berjalan baik semalam. Namun, ia masih belum sadarkan diri. Kemungkinan terburuk saat Hana sadarkan diri nanti adalah ia kehilangan ingatan dan tak bisa melihat apapun. Itu hal paling menakutkan dalam hidup Shana.
__ADS_1
“aku tak bisa membiarkanmu dalam kondisi terburuk. Aku sudah berjanji pada Hiroki untuk selalu menjagamu. Tidak, Shana. aku tak bisa mengizinkanmu.”
Shana tersenyum. “Hiroki pasti akan bahagia jika aku memikirkan keadaan orang lain. Mementingkan kepentingan orang lain melebihi kepentinganku sendiri. Semua berawal dariku yang membawa Hana pada musibah ini. Sudah sepantasnya jika aku bertanggung jawab. Aku berjanji padamu, aku akan baik-baik saja.”
Tadashi tak berkutik melihat senyum Shana yang terlihat sangat yakin. Ia kembali duduk dan memikirkan sesuatu. Kedua telapak tangannya mengepal.
“kondisimu sendiri masih sangat mengkhawatirkan. Bagaimana bisa kau memikirkan orang lain? Jika sampai terjadi sesuatu padamu, aku tak bisa memaafkan diriku sendiri.”
“kau sudah lakukan semua yang terbaik untukku dan Hana. Aku tahu terima kasih saja tak akan mungkin cukup untuk membalasmu. Kini, giliranku melakukan yang terbaik untuk orang lain.” Ucap Shana sambil tersenyum.
Shana mengangguk yakin. Ia sudah siap jika harus bertahan hidup hanya dengan satu ginjal yang masih berfungsi. Ini bukan sesuatu dimana hidupnya akan berakhir setelah operasi. Tak ada yang perlu ditakutkan. Semua akan baik-baik saja.
“aku akan menyiapkan ruang operasinya, kau bersiap-siaplah dan jangan lupa hubungi Ayahmu soal ini. Aku yakin beliau pasti menentangnya.” Ucap Tadashi sambil berlalu.
“oohh…tidak. Apa aku harus menghubungi Ayah? Dia pasti akan mengomeli aku.” Gerutu Shana sambil memejamkan matanya dan menepuk jidatnya.
__ADS_1
**********
Sebuah ruang operasi yang cukup besar dan terasa menakutkan. Di sebelah terbaring Hana yang masih belum sadarkan diri. Shana berharap setelah ini Hana bisa sadarkan diri. Para suster sedang mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan. Di sisi lain, Shana melihat Tadashi yang menatap Shana dengan wajah sendu. Operasi akan dilakukan 30 menit lagi.
“kau sudah menghubungi Ayahmu?” tanya Tadashi kemudian menghampiri Shana yang sedang terbaring menunggu operasi dimulai.
“berkat kau aku diomeli habis-habisan oleh Ayah. Pasti saat ini ia sedang perjalanan kemari. Kalau Ayah marah-marah, tolong jelaskan sisanya ya.” Ucap Shana sambil bercanda pada Tadashi.
“kau masih bisa mengerjaiku seperti ini? Ingat ya. Kau harus selamat.”
“tenang saja. Aku jauh lebih kuat dari yang kau pikirkan.” Ucap Shana yakin.
Operasi mulai berjalan. Tadashi menunggu dengan cemas di luar bersama Ayah yang datang dengan marah-marah. Tadashi berhasil meyakinkan Ayah jika operasi ini tidak terlalu beresiko. Rhena juga segera datang ke rumah sakit setelah mendapat kabar tentang operasi Shana.
Operasi berjalan selama 3 jam. Kini Shana dan Hana sudah dipindahkan ke kamar masing-masing. Keduanya masih dalam kondisi tak sadarkan diri. Namun, kondisi Hana semakin membaik setelah didonorkan ginjal dari Shana. akan tetapi, kondisi Shana sedikit melemah. Semuanya berkumpul untuk melihat keajaiban yang mungkin terjadi pada si kembar.
__ADS_1