
Sementara itu Hana yang sedang menyamar sebagai Shana baru berangkat ke sekolah setelah dibangunkan cukup lama oleh ibu dan kak Rhena. Mereka sempat bingung dan terkejut saat Hana terbangun. Sepertinya kebiasaan Hana yang satu itu tidak bisa dibawa ke rumah Shana.
“maafkan aku, Pak Sopir. Seharusnya aku bangun lebih pagi. Maaf sudah merepotkan Bapak.” Ucap Hana sambil meminta maaf pada sopir pribadi Shana.
“Hahahha. Tidak apa-apa, Nona. Saya tidak kerepotan sama sekali, Cuma bingung saja. Biasanya Nona selalu bangun pagi dan langsung olahraga. Tapi tadi pagi saya tidak melihat Nona berolahraga. Saya juga terkejut Nona sampai minta maaf berkali-kali seperti itu pada saya.” Jelas Sopir itu sambil tertawa.
“memangnya aku jarang mengucapkan kata maaf ya, Pak?” tanya Hana pada Pak Sopir yang sepertinya sudah sangat mengenal Shana. Rasa penasarannya tiba-tiba saja muncul.
“saya sudah cukup lama mengabdi pada keluarga Kozuki. Terutama pada anda Nona. Saya cukup mengerti kenapa anda bersikap seperti itu. Anda hanya merasa kesepian saja.” Jelas sopir tersebut pada Hana yang kemudian membuatnya terdiam beberapa saat. “apalagi Nyonya selalu ke luar negeri untuk waktu yang cukup lama. Nona Rhena sendiri juga cukup sering ditinggal sendirian. Mungkin karena itulah Nona Rhena memilih untuk melanjutkan kuliah di Jepang dan menemani anda, Nona.”
__ADS_1
Hana terdiam sesaat. Ia berfikir dengan cara seperti apa Shana selama ini bertahan hidup. Di rumah seluas ini, hanya ada dia dan beberapa pelayan. Apa saja yang ia lakukan untuk mengusir kebosanan selama sendirian. Sepertinya ia tak sanggup membayangkan hal yang lebih menakutkan lagi. Mobil Limoushin milik Shana melaju dengan lancar. Hana hanya menatap jalanan selama 30 menit perjalanan.
*************
Sementara itu di sekolah Hana, SMA Higashi. Shana baru saja sampai di sekolah berkat tumpangan mobil Sojiro. Walaupun sampai di sekolah Shana tidak tahu siapa orang yang berjasa mengantarkannya. Shana pun keluar dari mobil dengan anggun dan seolah menunjukan kecantikan seorang Shana. Meskipun bukan seorang model, tapi kecantikan dan kharisma Shana tak bisa diremehkan begitu saja. Apalagi berkat pergaulannya dengan seorang model, ia jadi pandai menggunakan make up dengan sempurna.
“Terima kasih atas tumpangannya, ya.” Ucap Shana memperlihatkan senyum indahnya pada Sojiro. Tentu saja ia sangat berterima kasih. Seandainya tak ada tumpangan itu, mungkin ia tak akan pernah sampai di sekolah.
“baiklah.” Jawab Shana dengan riang gembira. Tentu saja dia bahagia. Ia tak perlu capek-capek jalan kaki.
__ADS_1
Belum sampai masuk kelas, ia sudah disambut seorang cewek bertubuh mungil dengan kulit yang cukup putih. Cewek itu berlarian ke arah Shana sambil terburu-buru. Sepertinya ada hal penting yang akan disampaikan.
“Hana? Kamu berangkat bareng kak Sojiro?” ucap Mia yang langsung bicara ketika sampai tepat dihadapan Shana.
Dengan pandangan bertanya-tanya, Shana menatap Mia dari atas sampai ke bawah. Kemudian sedikit menunjukan ekspresi berfikir, ternyata cowok kece tadi namanya Sojiro. Sepertinya kakak kelasnya Hana. Sepertinya cewek mungil ini teman dekat Hana. Dia mungkin tahu segala keperluan selama menjadi Hana. Dengan senyum lebar Shana menjawab pertanyaan Mia. “iya. Kenapa?”
“kamu sudah menjawabnya kan? Iya kan? Apa jawabanmu?” tanya Mia seakan mendesak Shana untuk harus menjawab sederet pertanyaannya.
“menjawab apa?” tanya Shana yang tak mengerti apa yang daritadi dibicarakan. Ia pun berjalan menuju koridor dengan santai. Ia pun tak menyadari tatapan para murid laki-laki ketika melihatnya. Bagaimana tidak, Hana yang biasanya tampil tanpa make up, kini berubah cantik namun tetap terlihat alami.
__ADS_1
“apa kau lupa? Minggu lalu kak Sojiro mengutarakan perasaan padamu.” Ucap Mia yang masih berusaha mengejar langkah Shana di belakangnya.
“APAAA…?” teriak Shana langsung menoleh ke belakang, terkejut dengan perkataan Mia barusan. Mereka berdua pun hanya terdiam saling menatap selama beberapa detik.