Queen VS Princess

Queen VS Princess
Foto masa lalu


__ADS_3

“demamnya tidak turun dari tadi. Kau ingin Ayah melakukan apa, Hana?” tanya Ayah sambil menaruh kembali thermometer yang telah digunakan. Tertulis 39o pada thermometer itu.


“tidak, Ayah. Mungkin aku kecapekan.”


“jangan terlalu banyak pikiran. Ayah tahu beberapa hari kemarin adalah hari-hari yang cukup berat untukmu. Tapi percayalah, semua akan baik-baik saja. Apa kau bertemu Leo tadi siang? Dia pamitan pada Ayah akan berangkat tadi siang.”


Jangankan untuk melihat wajahnya, mendengar namanya disebut saja membuat Hana serasa ingin menangis lagi. Antara benci namun cinta.


“aku tak bertemu.” Jawab Hana singkat sambil memeluk bantal.


“baiklah. Ayah biarkan kamu istirahat. Semoga besok sudah sembuh.” Ucap Ayah sambil mencium kening Hana.


Selama ini Ayah mampu bersikap baik sebagai seorang ayah yang baik maupun seorang Ibu yang pengertian. Hal itulah yang membuat Hana tumbuh menjadi seorang anak yang mandiri dan tidak manja.


Hana tidak segera tidur. ia masih memikirkan banyak hal. Tiba-tiba ponselnya berdering. Panggilan masuk dari Mia.


“bagaimana keadaanmu, Hana?” sapa Mia dari seberang telepon.


“masih demam. Dari tadi gak mau turun.”


“aku khawatir. Tadi kamu pucat sekali. Untung saja kamu diantar kak Sojiro. Aku jadi lega. Aku gak mau sakitmu tambah parah.” Jelas Mia panjang lebar.


“kak Sojiro?” Hana terkejut dengan ucapan Mia. Hana sangat yakin jika tadi siang ia pulang sendirian tanpa diantar siapapun.


“kau tadi bertemu dia, kan? Maaf, ya. Aku khawatir padamu. Jadi aku minta tolong kak Sojiro untuk menyusulmu. Kau tahu? Dia segera berlari menyusulmu saat tahu kamu sakit. So sweet kan? Kapan ya aku punya pacar kayak kak Sojiro.”

__ADS_1


Hana tak mempedulikan ocehan Mia yang panjang lebar. Dalam benaknya dipenuhi kemungkinan bahwa tadi Sojiro menyusulnya. Mungkinkah ia melihat perdebatan antara Hana dan Leo? Dia pasti merasa sangat tersakiti jika melihat kejadian tadi siang. “haruskah aku menghubunginya?” tanya Hana dalam hati.


“kau masih disitu Hana?” kau dengar aku?”


“eh… iya. Aku dengar kok. Eh…Mia… aku udah putus sama kak Sojiro.”


Mia melotot. Tak menyangka jika endingnya seperti ini. Mia sudah mengatakan pada Sojiro tentang Hana dan Leo, tapi dengan harapan Sojiro tetap memperjuangkan Hana. Namun, sepertinya ia salah langkah. Atau… Sojiro yang tidak peka?


“kak Sojiro tahu perasaanku, tapi kau tahu Mia, aku juga hampir mencintai kak Sojiro. Mungkin sudah terlambat. Aku ingin sendiri dulu.”


“lalu kak Leo gimana?”


“antara aku dan dia tak ada harapan untuk bersama. Itu yang dia katakan.”


“tak apa. Kau sudah lakukan yang terbaik, Hana.” Ucap Mia sambil tersenyum. Berusaha membangkitkan kembali semangat Hana.


Panggilan telepon diakhiri. Hana masih menatap layar ponselnya. Matanya berkunang-kunang karena pengaruh demamnya. Serasa ingin membuang kepalanya yang sangat pusing itu. “Kak Sojiro apa kabar?” tanya Hana dalam hati. Harus ia apakan perasaannya yang kacau ini.


TOK TOK


“apa Ibu boleh masuk?” tanya Ibu sambil mengintip ke dalam kamar Hana. Sepertinya ia baru saja pulang dari kantor. Ayah dan Ibu akhir-akhir ini sibuk bekerja.


Hana mengangguk. Kepalanya masih berdengung. Namun ia harus bisa kuat.


“Ibu dengar kamu sakit. Apa sudah mendingan?”

__ADS_1


“masih pusing, Ibu. Demamnya gak mau turun.” Jawab Hana bersikap manja. Seumur hidupnya, ia tak pernah sekalipun bersikap manja pada seorang Ibu pada saat sakit seperti ini. Ia bersyukur masih bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu. Ia tak ingin kehilangan kebahagiaan ini.


“Ibu, maafkan Hana. Apapun yang sudah terjadi, Hana bahagia karena Ibu menjadi Ibuku. Jangan khawatirkan aku dan kak Leo. Aku sudah memutuskan jalan hidupku sendiri, dan kak Leo juga sudah punya jalan hidupnya sendiri. Aku tidak ingin merubah keadaan ini, Bu.”


Ibu hanya tersenyum. Betapa beruntungnya ia memiliki seorang anak perempuan yang sangat pengertian dan baik hati. “kau yakin tidak apa?”


“iya, Ibu. Tak perlu khawatir.”


“baiklah. Istirahat yang nyenyak, ya. Semoga cepat sembuh.” Ucap Ibu sambil mencium kening Hana.


Mata Hana terlalu berat untuk memaksakan tetap terbuka. Meski begitu, ia masih saja berfikir, “apa ini yang terbaik?”


************


Langkah demi langkah. Gerak demi gerak. Waktu yang berjalan serasa berhenti. Ketika tangan tak lagi mampu menggapai. Ketika mata tak lagi mampu bertatap. Ketika tangan tak mampu lagi saling berpegang. Hati pun seolah tak lagi terpaut. Ya…. Shana Kozuki, putri pemilik perusahaan berlian terbesar di Swiss sedang mengalami kegalauan publik. Kenapa harus merasa kehilangan dan berpisah dulu untuk menyadarkan betapa berharganya seseorang untuk kita? Tak bisakah rasa itu dirasakan tanpa harus kehilangan?


Shana berjalan pelan sambil melamun. Tepat lurus dengan pandangannya, terlihat Tadashi sedang bercanda dengan temannya. Sedikitpun ia tak berani menyapa Tadashi walaupun ia sangat menginginkannya. Perasaan kehilangan kembali ia rasakan. Melihat Tadashi yang tertawa bahagia seolah tak menyimpan sedikitpun kesedihan, membuat Shana bertanya-tanya. Samar-samar ia bisa mendengar percakapan Tadashi dan teman-temannya dari belakang.


Hanya bisa menatap dari kejauhan. Ya… itu yang sedang dilakukan putri konglomerat yang kisah asmaranya selalu berakhir mengenaskan. Shana menghela nafas panjang. Ia melihat Tadashi seperti mengambil dompet dari sakunya. Tadashi seperti menjatuhkan sesuatu dari dompetnya. Tapi sepertinya Tadashi tidak tahu. Shana tetap berjalan perlahan di belakang Tadashi dan teman-temannya. Berusaha mendekati sesuatu yang dijatuhkan Tadashi tadi. Dari kejauhan bentuknya seperti selembar foto. Langkah Tadashi dan teman-temannya semakin menjauh sedangkan Shana menghentikan langkahnya. Berharap dengan cara seperti ini, jarak antara mereka semakin menjauh. Shana ingin mengambil kertas yang tak sengaja dijatuhkan oleh Tadashi. perlahan Shana melangkah maju mendekati kertas yang dijatuhkan. Semakin dekat semakin terlihat jelas kalau itu sebuah foto. Shana mengambil foto itu dan membaliknya. Seluruh tubuhnya membeku. Mulutnya membisu tak mampu mengeluarkan kata-kata.


Shana sangat mengenal foto ini. Bagaimana mungkin jika ia tak tahu. Tangannya gemetar. Kenapa foto ini ada pada Tadashi? Shana masih dalam lamunannya saat sahabatnya Cleanne menyapa. Tak butuh waktu lama untuk Shana kembali ke dunia nyata. Wajahnya memancarkan ketakutan. Cleanne pun ikut terkejut melihat foto yang dipegang oleh Shana. bagaimana ini bisa terjadi? pikir Cleanne.


Dalam foto itu terlihat dua orang anak laki-laki yang sedang tertawa bersama. Tak mungkin Shana salah mengenali. Ia menatap wajah Cleanne. Seolah mengerti apa yang ingin dikatakan Shana, Cleanne segera menjawab.


“iya, Sha. ini foto Tadashi dan Hiroki.” Ucap Cleanne.

__ADS_1


Tak mampu berkata-kata, Shana hanya bertanya-tanya dalam hati. Mereka berdua ada hubungan apa? Sejak kapan mereka saling mengenal? Kenapa hal sepenting ini tidak diketahui Shana maupun Cleanne? “aku harus menemui Tadashi.” ucap Shana tegas.


__ADS_2