
“kak Sojirooooo…….!!!” Teriak Mia sambil melambaikan tangannya.
Sojiro segera berlari ke arah Mia yang melambaikan tangan padanya.
“dimana Hana? Apa kau bersamanya? Apa kau melihatnya?” tanya Sojiro yang terlihat panik. Nafasnya terengah-engah.
“kak Sojiro sama sekali gak tahu?” tanya Mia yang malah balik bertanya pada Sojiro. “hari ini dia tidak masuk. Bahkan Hana tidak memberi keterangan apapun pada pihak sekolah. Menghubungiku saja tidak. Apa kakak tahu sesuatu?”
Sojiro hanya terdiam. Ia teringat kejadian fatal kemarin. Mungkinkah Hana sakit karena terlalu berat memikirkan masalah kemarin? Apa yang bisa dia lakukan? Bahkan ia takut untuk ke rumah Hana lagi setelah kemarin memukul Leo.
“Mia, boleh aku bertanya sesuatu?”
“silakan, kak.” Mia merasa sepertinya akan jadi pembicaraan yang panjang. Ia segera mencari tempat duduk yang nyaman untuk mengobrol dengan Sojiro.
“apa kau tahu kalau Leo menyukai Hana?” tanya Sojiro yang langsung pada inti pokok pertanyaan.
Terlihat sekali jika Mia benar-benar terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan, memastikan apa yang ia dengar tidak salah.
“darimana kak Sojiro tahu soal itu? Apa Hana yang cerita?”
“apa dari awal mereka sudah saling dekat?” Sojiro mulai khawatir. Nada suaranya mulai bergetar. “semalam, Leo mengatakan perasaannya pada Hana. Itu terjadi di depan mataku. Karena marah, aku memukul Leo. Hal itu menyebabkan keributan pada keluarga Hana.”
“gak mungkin.” Ucap Mia sambil menutup mulutnya. Matanya berkaca-kaca mendengar pernyataan Sojiro.
“apa yang kau tahu tentang mereka? Sebenarnya apa yang belum kuketahui?”
Mau tidak mau sepertinya Mia harus menjelaskan semuanya pada Sojiro. Jika memang benar ceritanya seperti itu, tak ada lagi yang perlu disembunyikan.
__ADS_1
“sebenarnya kak Leo adalah guru les privat Hana sewaktu ujian SMP. Perlahan mereka dekat dan bahkan sering keluar bersama walaupun bukan untuk kepentingan les. Padahal saat itu terlihat jelas sekali jika mereka berdua memiliki perasaan yang sama.”
Sojiro terdiam mendengarkan cerita Mia.
“namun, kebahagiaan diantara mereka langsung hancur saat tahu bahwa Ayah Hana akan menikah dengan Ibu Leo. Mana mungkin ada seorang anak yang secara egois menentang kebahagiaan orangtuanya karena memilih kebahagiaannya sendiri. Saat itu Hana benar-benar hancur. Ia terpaksa harus melupakan Leo apapun alasannya. Tapi, mereka yang tinggal satu atap membuat Hana semakin tak mampu melupakan Leo. Kehancuran Hana semakin menjadi saat Leo memperkenalkan Kak Kumika sebagai pacarnya.”
Sojiro menunduk mendengarkan setiap kata dari Mia.
“di saat seperti itu, kak Sojiro hadir memberi perhatian dan kehangatan pada Hana. Jujur,,, aku berharap kalian tetap bersama selamanya. Aku berharap hati Hana yang terluka bisa disembuhkan oleh kak Sojiro.”
Mia menoleh pada Sojiro. Ia yakin jika ini bukanlah hal baik yang ingin didengar oleh Sojiro. “jika kak Sojiro sangat menyayangi Hana, aku yakin saat ini kakak tahu apa yang terbaik untuk kalian.”
Sojiro mulai bangkit dan tersenyum. Senyum yang terlihat memaksa. Namun, ada sedikit cahaya harapan muncul di wajahnya. “aku akan lakukan yang terbaik. Thanks Mia.”
Mia menatap Sojiro yang berlari meninggalkannya. “Hana, keputusan ada padamu. Semoga itu yang terbaik.”
*************
“kau baik-baik saja? Hari ini kudengar dari Mia kau tak masuk.” Ucap Sojiro akhirnya memecah keheningan antara mereka.
Hana duduk manis di sebelah Sojiro. Tanpa menatap wajah Sojiro, ia menjawab pertanyaannya. “maaf, aku tak mengabarimu. Aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit pusing tadi pagi.”
“Hana, ada yang ingin kubicarakan.”
“aku juga ada hal yang ingin kukatakan.”
Sojiro menatap lurus ke depan. Pandangannya mulai menerawang. Wajahnya berubah menjadi sendu. Ia terdiam selama beberapa detik sampai akhirnya mulai mengatakannya.
__ADS_1
“aku sudah dengar semua dari Mia. Semuanya. Tentang kau dan Leo.”
Hana menatap wajah Sojiro. Rasa bersalah muncul dalam hatinya. Ia bisa merasakan jika ini adalah akhir dari segalanya. Hana kembali menunduk. Membiarkan Sojiro menyelesaikan semua yang ingin ia bicarakan.
“Hana, jujurlah padaku. Seperti apa perasaanmu padaku dan seperti apa perasaanmu pada Leo. Aku ingin kau jujur mengatakannya. Aku ingin mendengarnya langsung darimu.”
Hana terdiam. Tangannya mengepal. Menguatkan hatinya sendiri untuk mengatakan yang sebenarnya.
“maafkan aku, kak Sojiro. Awalnya aku menerima perasaanmu karena aku ingin melupakan kak Leo. Aku patah hati saat tahu bahwa dia sudah punya pacar. Itu sebabnya aku menerimamu untuk pelarianku.”
Sojiro menatap Hana dengan tajam. Matanya terlihat sendu.
“aku berharap bisa membalas cintamu seperti kau mencintaiku. Kau sangat baik dan perhatian padaku. Pribadimu juga hangat dan dewasa. Ada bagian diriku yang bangga menjadi pacarmu. Tapi aku tahu bahwa aku hanya akan menyakitimu.”
Sojiro mengepalkan tangannya. Berusaha menguatkan hatinya sendiri.
“kupikir aku sudah melupakan kak Leo semenjak ada dirimu. Tapi ternyata aku salah. Rasa itu masih ada dan tetap sama tak berkurang sedikitpun. Justru semakin bertambah setiap harinya. Sampai akhirnya aku tak kuat menampungnya lagi dalam hatiku. Saat kudengar ia mencurahkan segala perasaannya pada orangtuaku, aku menangis. Seolah kak Leo mengatakan semua beban di hatiku selama ini.”
Sojiro menggenggam tangan Hana. Saling menguatkan hati.
“maafkan aku kak Sojiro. Sampai kau sebaik ini padaku, tapi aku masih saja tak bisa mencintaimu. Aku merasa tak pantas menjadi orang yang kau sayang.”
Sojiro meraih wajah Hana dan menyeka air matanya.
“kau tak perlu minta maaf. Justru akulah yang seharusnya menyadari sejak awal. Kau sudah melewati berbagai banyak hal menyedihkan. Sudah sepantasnya kau bahagia dengan orang yang kau sayang. Jika memang ini yang membuatmu bahagia, aku rela melepasmu.”
Hana menatap Sojiro dengan pandangan terkejut. Sojiro pun meraih wajah Hana dan kemudian mencium keningnya perlahan.
__ADS_1
“terima kasih telah mengisi hari-hariku selama ini. Semoga kau bahagia.”
Air mata Hana menetes. Sojiro segera meninggalkan Hana tanpa menoleh ke belakang lagi. Bahunya gemetar menahan tangis. Bahkan seorang lelaki pun akan meneteskan air matanya jika itu menyangkut seseorang yang berarti. Sebuah cinta yang dipaksakan memang tak akan berhasil. Namun, jika itu membuat orang yang berarti merasa bahagia, apapun akan dilakukan.