Queen VS Princess

Queen VS Princess
Surat terakhir untuk Shana


__ADS_3

Mencoba menerka-nerka kembali masa lalu. Seingatnya, Tadashi memang datang di kehidupan Shana beberapa bulan setelah kematian Hiroki. Hiroki juga tak pernah menceritakan apapun tentang Tadashi. mungkinkah mereka bersaudara? Tidak. Hiroki adalah sepupu Shana. jika memang Tadashi adalah saudara Hiroki, seharusnya Shana juga tahu. Tunggu…. Rumah sakit tempat Hiroki dirawat saat mengalami kecelakaan adalah rumah sakit Tadashi. apa mungkin mereka saling mengenal saat itu? Tapi foto ini diambil sebelum Hiroki kecelakaan. Itu artinya mereka sudah saling mengenal bahkan sebelum kecelakaan itu terjadi.


Mobil Shana akhirnya berhenti di depan rumah Tadashi. ini adalah pertama kalinya Shana mengunjungi rumah Tadashi. ia selalu menolak setiap kali Tadashi meminta untuk ke rumahnya. Berharap Tadashi saat ini ada di rumah. Cleanne dan Shana saling berpandangan di depan pintu. Antara ragu untuk mengetuk pintu dan takut untuk mengetahui kebenaran. Tak butuh waktu lama untuk menunggu sampai pintu terbuka. Di luar dugaan, Tadashi sendiri yang membuka pintu. Mereka bertiga pun terkejut.


“Shana? Cleanne? Ada apa?” tanya Tadashi setelah membuka pintu dan terkejut dengan apa yang dilihat. Baginya sangat tidak mungkin jika Shana datang ke rumahnya.


Shana menunjukkan foto yang ia temukan di sekolah. Dengan raut wajah serius, Shana berkata pada Tadashi “aku butuh penjelasan untuk foto ini.”


Raut wajah terkejut sempat diperlihatkan Tadashi sekilas. Namun, sorot matanya kembali sendu dan menatap Shana tajam. “darimana kau dapatkan ini?”


“foto ini terjatuh di sekolah. Aku menemukannya.” Jawab Shana singkat.


“apa itu fotomu dan Hiroki?” tanya Cleanne yang tidak kalah penasaran dengan apa yang kemungkinan akan terjadi di hadapannya. Misteri apa yang tersembunyi dibalik sosok Hiroki yang ramah dan periang.


“masuklah. Aku perlu menunjukkan sesuatu.” Ajak Tadashi pada Cleanne dan Shana. ia berjalan perlahan menuju kamarnya. Shana dan Cleanne mengikutinya tanpa bertanya lebih lanjut. Baik Shana maupun Cleanne merasa sedikit asing saat memasuki rumah Tadashi.


“kau mau apa?” tanya Shana langsung merasa waspada saat tahu mereka dibawa ke kamar Tadashi.


“aku ingin menunjukkan sesuatu. Ini tentang foto itu.”


Karena dipenuhi rasa penasaran, Shana menginjakkan kaki memasuki kamar Tadashi. betapa terkejutnya Shana melihat sebuah foto yang cukup besar ada di dinding sebelah kanan. Foto yang lebih jelas dan terkesan lebih akrab dari foto yang saat ini Shana genggam. Sungguh,,betapa kerinduan itu kemudian muncul saat melihat wajah Hiroki tersenyum bahagia di foto itu. Mata Shana berkaca-kaca.


“aku sebenarnya tak ingin menyembunyikan hal ini darimu. Tapi kau selalu menolak untuk datang ke rumahku. Selain itu, ini juga permintaan Hiroki untuk menyembunyikannya darimu.”


Shana menatap Tadashi dengan penuh tanda tanya. Namun, ia membiarkan Tadashi sendiri yang menjelaskan semuanya. Shana menyentuh foto besar itu. Seolah ingin mengatakan pada Hiroki, “apa kabarmu disana?” foto itu terlihat bahagia. Seolah Shana kembali ke masa dimana Hiroki hanya tersenyum dan tertawa padanya. Suasana mendadak hening. Cleanne hanya mampu diam karena tak ingin merusak moment penting ini.


“sebenarnya aku sudah bersahabat dengan Hiroki sejak kecil. Bahkan sebelum ia bertemu denganmu. Suatu ketika kau pindah ke rumahmu dan kalian bertemu. Sejak saat itu, semua hal yang dibicarakan Hiroki adalah tentangmu. Kedua orang tua kalian adalah saudara jauh yang sudah lama tidak bertemu. Ketika Hiroki tahu jika kalian adalah sepupu, ia tak bisa berhenti memikirkanmu. Semakin hari, semakin ia menyadari jika kau adalah segalanya untuknya. Namun, tak mungkin bagi kalian untuk membentuk sebuah hubungan khusus. Pada saat itulah, Hiroki menyadari bahwa dia mencintaimu lebih dari siapapun.”


Air mata Shana menetes. Susah payah ia tahan semenjak melihat foto Hiroki. Kini menetes begitu saja. Cleanne segera menghampiri Shana dan memegang bahunya. Berusaha membuat Shana tenang.

__ADS_1


“hubungan kalian semakin dekat. Hiroki semakin menceritakan tentang dirimu padaku. Mungkin karena hampir setiap hari aku mendengar tentangmu, aku merasa ada suatu perasaan aneh dalam hatiku. Pada akhirnya, aku melihatmu bersama Hiroki sedang bersama. Saat itulah aku sadar. Perasaan itu adalah rasa cemburu. Aku mencintaimu juga, Shana. Tapi, Hiroki jauh lebih berharga darimu. Aku memilih untuk menyembunyikan perasaan ini.”


Tadashi berjalan menuju tempat tidurnya. Ia duduk sambil menunduk. Setetes air mata mengalir dibalik kepalanya yang menunduk. Baru kali ini Shana melihat Tadashi dalam keadaan menangis. Bahkan, Shana pun tak pernah sedikitpun melihat Hiroki menangis.


“sampai suatu hari, Hiroki divonis mengidap penyakit leukemia stadium 3. Saat itu, Hiroki tak ingin peduli dengan penyakitnya. Bahkan ia tak percaya mengidap penyakit itu. Hiroki akhirnya memeriksakan dirinya di berbagai rumah sakit sampai ke luar negeri. Hasilnya pun sama. Ia memintaku untuk tidak memberitahumu tentang penyakit yang dideritanya. Baginya, kamu sudah terlalu menderita dengan keluargamu yang bahkan tidak peduli padamu. Hiroki tak ingin menambah beban pikiranmu lagi. Rupanya penyakit itu lebih ganas dari yang diperkirakan. Hanya dalam waktu 5 bulan, penyakit itu sudah menjalar stadium akhir. Mau tidak mau, ia harus menjalani kemoterapi.”


Air mata Shana semakin deras menetes. Pertahanan dirinya melemah. “leukemia?”


“kau ingat saat Hiroki bilang ingin sekolah di luar negeri?”


Shana mengangguk pelan.


“itulah saat dia menjalani kemoterapi di rumah sakit milikku. Hampir setiap hari ia merasa ingin menemuimu. Tapi, hanya mendengar suaramu lewat telepon membuatnya kembali ceria.”


Shana mengepalkan tangannya. Air matanya masih membasahi pipinya yang putih bersih.


“semakin hari kondisi fisiknya semakin lemah. Penyakit itu lebih ganas dari yang terlihat. Beberapa kali ia masuk perawatan IGD karena pendarahan yang tanpa sebab. Pada saat itu, ia sempat berkata padaku bahwa dia ingin datang pada pesta ulang tahunmu.”


“melihat kondisi fisiknya yang semakin lama semakin menurun, hal itu tak mungkin terwujud. Akan tetapi, keajaiban terjadi pada malam sebelum pesta ulang tahunmu. Kondisi Hiroki berangsur membaik. Aku sendiri sempat tak percaya. Mungkin itu kekuatan cintanya padamu. Aku pun memberikannya izin untuk datang ke pesta ulang tahunmu. Tapi, hal buruk justru terjadi beberapa jam sebelum acara pesta itu dimulai. Hiroki mengalami kejang dan sempat beberapa kali kehilangan detak jantungnya. Pendarahan terjadi dimana-mana. Beberapa dokter terbaik dan alat medis terbaik kukerahkan untuk menyelamatkan sahabatku. Hiroki sempat sadar beberapa menit dan mengatakan sesuatu padaku. Ia menyuruhku untuk menghubungimu bahwa Hiroki mengalami kecelakaan selama perjalanan menuju rumahmu. Hiroki juga mengatakan padaku untuk menjagamu demi dirinya.”


Tangis Shana semakin tak terkendali. Nafasnya diburu. Shana menangis sesenggukkan. Dalam hatinya paling dalam tak ingin mendengar lebih lanjut cerita ini. Tapi, ia harus tahu. Karena semua ini tentang Hiroki. Orang yang pernah berarti dalam hidupnya.


“dalam hitungan detik setelah ia mengatakan kata-kata terakhirnya, Hiroki menghembuskan nafas terakhirnya dengan tersenyum. Aku merasa tak berguna sebagai sahabatnya. Bahkan aku punya rumah sakit terbaik dan terbesar, tapi aku tak bisa menyelamatkan nyawa sahabatku sendiri. Kemudian kau datang beberapa menit setelah aku menghubungimu. Aku tak ingin melihatmu menangisinya, tapi aku juga sangat sedih melihat sahabatku terbaring tak berdaya lagi.”


Tadashi berjalan perlahan sambil menyeka air matanya. Ia berjalan menuju meja kerjanya di sebelah jendela. Mengambil sesuatu dari laci meja. Sepucuk surat. Tadashi memberikannya pada Shana yang masih penuh dengan air mata.


“aku menemukan surat ini di kamar tempat Hiroki dirawat. Surat ini untukmu. Maaf jika baru sekarang aku bisa menyerahkannya. Aku berharap tak pernah menyerahkannya padamu. Aku berharap kau tak pernah tahu kejadian yang sebenarnya. Tapi mungkin Hiroki akan memaafkanku. Aku sungguh ingin kau tahu bagaimana perasaan Hiroki selama ini padamu.”


Shana menerima surat itu dan menyeka air matanya. Mengatur kembali nafas dan perasaaannya.

__ADS_1


******Dear Shana,


Aku yakin saat kau membaca ini, aku mungkin sudah berada di surga.


Hei, kau jangan menangis dulu……. Ini belum dimulai….. ^_^


Hari-hari bersamamu sangat menyenangkan. Melihatmu tertawa ceria bersamaku adalah hal paling berharga untukku. Walaupun hubungan kita penuh tentangan.


Maafkan aku tak memberitahumu tentang apa yang kualami. Aku yakin kau sudah mendengarnya dari Tadashi.


Percayalah…. Aku hanya ingin kau bahagia dengan orang-orang yang mencintaimu.


Kau tahu, sebenarnya Tadashi sangat mencintaimu, hlo.


Aku mempercayakanmu padanya. Aku yakin dia bisa membahagiakanmu.


Kau tahu, Shana. aku sangat mencintaimu lebih dari apapun.


Aku yakin aku bahagia disini. Jadi, kau juga harus bahagia, kan?


Jangan pernah menyalahkan dirimu atas semua ini. Kau harus tetap hidup untuk bagianku juga. Tunjukkan padaku jika kau mampu bahagia.


Walaupun terlihat judes, cuek, dan pemarah, aku tahu kau sebenarnya penyayang, baik hati dan jujur.


Terima kasih untuk waktu-waktu yang berharga itu.


Semua kenangan kita tersimpan rapi dalam ingatanku.


Selamat tinggal, Shana. aku mencintaimu. Aku bahagia mengenalmu.

__ADS_1


Hiroki Kozuki****


Tadashi mengambil alih posisi Cleanne Shana menangis sejadinya di pelukan Tadashi. Melihat moment itu, Cleanne kemudian keluar kamar sambil menyeka air matanya. Ia menatap langit lewat jendela ruang tengah. "Shana pasti akan bahagia juga disini, Hiroki. Kau tak perlu khawatir. Dia punya banyak teman yang mencintainya."


__ADS_2