Queen VS Princess

Queen VS Princess
Switch on again


__ADS_3

Malam yang hening. Sunyi. Sepi. Tak terdengar apapun. Hanya suara kicauan jangkrik dan sedikit hembusan angin. Lampu taman telah menyala beberapa jam yang lalu. Shana melangkah perlahan menuju rumah Hana. Masih teringat jelas apa saja yang diceritakan Hana selama di café. Cerita itu bahkan sampai menghabiskan waktu hampir 4 jam. Kini mereka sepakat untuk melakukan pertukaran posisi lagi. Shana hanya merasa masalah itu belum selesai. Seolah berlalu begitu saja. Shana yakin suatu hari nanti pasti akan meledak lagi jika tidak segera diselesaikan sampai akar. Selain itu, Shana tak bisa lagi menumpang pada mobil mewah milik Sojiro. Itu membuatnya sedikit frustasi.


Leo juga sudah tidak ada di rumah itu. Jika dipikir-pikir kembali, bukankah sama saja dengan keadaannya di rumah? Seorang diri setiap hari. Orangtua Hana juga sering lembur dan pulang malam. Meskipun mereka tetap ingat untuk pulang. Tidak seperti Mama. Bahkan sudah 3 bulan ini tidak pulang. Menelepon saja hanya beberapa kali. Kak Rhena juga sering menggerutu dengan sikap Mama. Sepertinya bukan hanya Shana saja yang sering protes. Tapi, semakin sering protes, Shana semakin tidak peduli.


“hei, jangan jalan sambil melamun!!”


“hah? Kak Leo?” ucap Shana terkejut tiba-tiba melihat Leo ada disampingnya.


“Ibu memintaku untuk pulang. Jadi, aku kembali.” Ucap Leo.


“apa ada sesuatu yang gawat?”


“sepertinya tidak. Kau tahu, kan? Ibu tak pernah bisa berpisah denganku walaupun sedikit saja. Aku benar-benar seperti anak manja saja.”


Shana tersenyum mendengar kata-kata Leo.


“ayo naik. Kita pulang bareng.”


“iya.” Jawab Shana dengan riang gembira.


Tentu saja Shana bahagia. Daripada harus berjalan kaki setiap hari, bukankah lebih enak jika ada tumpangan lain selain Sojiro. Tapi, kira-kira Hana marah tidak ya?

__ADS_1


Pikiran Leo sedikit melayang. Ia mencoba mengingat kembali terakhir kali ia bertemu Hana. Saat itu terlihat sekali bahwa Hana sangat marah padanya. Tapi, bagaimana bisa sekarang ini Hana malah terlihat riang gembira? Apa Hana sehat-sehat saja?


Mata Leo tertuju pada seseorang yang berdiri di depan rumah. Cahaya di sekelilingnya terlihat sedikit remang-remang. Ia menghentikan laju motornya saat hampir sampai depan rumah dan terkejut saat tahu siapa yang berdiri di depan rumah.


“Ibu?” teriak Leo saat menyadari sosok itu adalah Ibunya.


“kenapa Ibu berdiri disini?” tanya Shana melirik dari balik bahu Leo.


“Hana belum pulang dari tadi sore. Kau juga belum sampai rumah. Ibu khawatir terjadi sesuatu. Makanya Ibu menunggu kalian disini.” Ucap Ibu terlihat khawatir dan sekarang sudah merasa lega saat melihat Shana dan Leo pulang bersama.


“kami pulang, Ibu !!!” ucap Shana dan Leo secara bersamaan.


“selamat datang. Hana, kau ingin mandi? Ibu akan siapkan air hangat,ya. Leo, kamarmu sudah Ibu bersihkan. Taruh dulu tasmu di kamar lalu turun untuk makan malam ya.”


************


“aku pulang !!!” ucap Hana melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah besar yang terkesan istana baginya.


Jauh dalam lubuk hatinya selalu berfikir, rumah sebesar istana ini hanya ada Shana seorang. Dia serasa seorang ratu di rumahnya. Betapa bahagianya Shana jika bebas melakukan apapun yang dia mau tanpa ada yang melarang. Namun, ia selalu terlihat kesepian.


“Shana?!!!! Ya Tuhan, aku mencarimu. Dari tadi kamu belum pulang.” Teriak Rhena yang langsung berlarian mendengar suara Hana.

__ADS_1


“Kak Rhena? Ada apa?”


“kau tidak apa-apa, kan? Baik-baik saja?” raut wajah Rhena terlihat khawatir. Baru kali ini ia melihat ekspresi itu. Mungkin sebenarnya kak Rhena yang terlihat cuek adalah sosok yang sangat peduli pada Shana.


Hana pun tersenyum manis pada Rhena. “aku baik-baik saja, kak.”


Hana pun meninggalkan Rhena yang masih terhipnotis oleh senyuman Hana yang semerbak bagai bunga. Hauwaahh….


Rhena terbengong menatap Hana dari belakang. Dalam hatinya penuh tanda tanya. “sejak kapan Shana bisa tersenyum seperti itu? kemarin dia masih uring-uringan, apa masalahnya dengan Tadashi sudah beres? Tunggu…sejak kapan aku seperti merasa dia bukan Shana?” semua pertanyaan itu seakan memenuhi batin Rhena.


“oh iya, Sha. Minggu depan aku menyusul Mama ke Inggris. Perusahaan Mama disana mengalami kebangkrutan gara-gara suami baru Mama yang gak jelas itu.”


“Suami Mama?”


“iya. Apa kau mau ikut?”


“ehm… aku gak yakin bisa membantu apa disana. Tapi……..”


“kau bisa membuat Mama lebih tenang jika kau ikut.” Ucap Rhena meyakinkan Hana untuk ikut ke Inggris.


“akan kupikirkan lagi, kak. “

__ADS_1


Hana pun masuk kamar. Tentu kali ini ia tak bisa seenaknya mengambil keputusan sebelum berunding dengan Shana. hal ini menghindari adanya masalah lagi di lain waktu. Ia segera mengambil ponsel dan menghubungi Shana. setelah beberapa kali tersambung, tak ada yang mengangkat teleponnya. Shana kemana?


__ADS_2