
Pagi pun tiba. Suasana menegangkan masih menyelimuti keluarga Hana. Ayah dan Ibu sudah duduk di ruang keluarga. Di depannya sudah ada Leo dan Hana yang menghadap. Wajah Leo masih terlihat memar akibat pukulan Sojiro semalam. Sedangkan mata Hana bengkak, sepertinya ia menangis semalaman. Sudah hampir 15 menit berlalu, namun belum ada satu pun yang membuka percakapan diantara mereka. Hana terpaksa bolos sekolah demi menyelesaikan masalah ini. Begitu juga pada Leo, tak mungkin ia ke kampus dengan wajah seperti itu.
“Leo, ceritakan pada Ayah awal mula kejadian semalam.” Ucap Ayah akhirnya membuka percakapan. Wajahnya sangat serius.
Leo masih diam. Seakan-akan ia tak ingin menjawab apapun pertanyaan dari Ayah. Hana hanya menunduk. Entah bingung harus menjelaskan darimana.
“Ayah, aku mencintai Hana.” Ucap Leo tegas sambil menatap wajah Ayah dan Ibunya.
“bagaimana bisa?!” ucap Ayah sedikit terkejut. Hal semacam ini sama sekali tak disadari baik Ayah maupun Ibu.
“aku sudah mencintainya bahkan sebelum Ayah dan Ibu menikah. Aku sangat terpukul saat tahu bahwa pria yang akan menikahi Ibu adalah Ayah kandung Hana. Memangnya aku bisa apa? Aku hanya seorang anak yang ingin melihat Ibunya bahagia. Walaupun harus mengorbankan perasaanku sendiri.”
Hana kembali meneteskan air mata. Seolah hatinya terlalu sakit mendengar semua yang dikatakan Leo. Tangannya gemetar. Semua yang ia simpan rapat-rapat dalam hatinya berhasil dikatakan oleh Leo.
“tapi saat ini kalian bersaudara. Mana mungkin….. lagipula bagaimana dengan Kumika?” tanya Ibu yang tidak kalah terkejut dengan perkataan Leo.
“aku sudah bicara dengannya. Aku sudah putus bahkan sebelum acara makan bersama kemarin.”
“Hana, bagaimana denganmu? Bicaralah, nak.” Ucap Ibu pada Hana yang daritadi hanya menangis. “bagaimana perasaanmu pada Leo?”
Hana terisak-isak. Tangisnya semakin keras. “maafkan aku, Ibu, Ayah. Aku mencintai kak Leo. Aku juga menyukainya sebelum kalian menikah.”
__ADS_1
Leo terkejut mendengar ucapan Hana.
Ayah dan Ibu terlihat kebingungan. Rasa khawatir di wajah mereka berubah menjadi rasa bersalah. Bagaimana mungkin mereka tak menyadari sedikitpun tentang anaknya. Mungkinkah nasi sudah menjadi bubur? Apa yang mungkin bisa dilakukan Ayah dan Ibu untuk membahagiakan kedua anaknya?
“minggu depan aku berencana pindah kos. Aku tak mungkin terus-menerus berada disini satu atap dengan Hana. Kalian tak perlu merasa bersalah. Biar aku saja yang mengalah.” Ucap Leo dengan mantap. Semalam ia sudah memikirkan hal ini.
“tapi kampus kamu tidak terlalu jauh dari rumah, bukan? Kenapa harus kos?” tanya Ibu yang mulai khawatir akan ditinggal anak kandung satu-satunya.
“ini yang terbaik, Ibu.”
“sebenarnya secara darah kalian tak ada hubungan apapun. Kalian bisa saja berpacaran atau bahkan menikah. Maafkan kami sudah gagal sebagai orangtua yang baik. Kami bahkan tak menyadari perasaan kalian. Jangan pedulikan apa kata orang lain. Kalian bisa memulai hubungan.” Jawab Ayah akhirnya setelah melihat keadaan Leo dan Hana.
“iya. Tapi Ayah tak izinkan kalian tinggal satu atap lagi !! kau harus tetap kos.”
Leo pun terlihat bahagia. Hana pun tersenyum dan menyeka air matanya.
“tapi, Hana. Bagaimana dengan Sojiro?” tanya Ibu pada Hana. Seketika Hana kembali terdiam dan sejenak ia melupakan tentang Sojiro.
***********
Pelajaran siang ini terasa membosankan untuk seorang Shana. tangannya sedari tadi hanya memutar-mutar bolpoin. Semalam ia tak henti-hentinya melirik handphone. Berharap Hana memberi kabar perkembangan masalah itu. Namun, ia seperti merasa ada satu hal lagi yang mengganjal hatinya. Tapi sampai saat ini pun belum juga ia sadari. Di tengah lamunannya, ada seseorang yang melempar gulungan kertas ke mejanya. Ia mencari sosok pemilik kertas ajaib itu. Di sisi lain kelas, ada Cleanne yang melambaikan tangan padanya. Rupanya itu kertas dari Cleanne. Perlahan Shana membuka kertas itu, ia pun membacanya dalam hati.
__ADS_1
Apa Tadashi menghubungimu semalam?
Memang hanya 1 baris kalimat. Tapi sudah membuat hati Shana bercampur aduk dengan perasaan yang gak jelas. Hampir setiap hari Tadashi berusaha mengirim pesan singkat di ponsel Shana. terkadang dibalas, tapi sering tidak dibalas. Entah apa yang saat ini dirasakan Shana. jika dipikirkan kembali, memang dulu Shana menerima perasaan Tadashi. Entah itu dari lubuk hatinya yang terdalam ataukah hanya sebagai pelarian atas meninggalnya Hiroki.
Semua yang sudah Shana lakukan pada Tadashi adalah hal yang jahat. Mungkin sudah sepantasnya jika Tadashi mengakhiri hubungan ini. Apakah semua ini yang terbaik? Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahu Shana dari belakang dan membuyarkan lamunannya.
“hei, Shana. aku dengar kau sudah putus dengan Tadashi, ya?” ucap salah seorang teman sekelas Shana dengan berbisik-bisik.
“eh,,iya. Kemarin kami putus.” Jawab Shana pelan dan agak ragu-ragu.
“yesss… aku ada kesempatan mendekati Tadashi, donk. Dia itu ketua OSIS yang keren. Sudah kaya, pintar, keren, baik hati pula. Benar-benar idaman. Kenapa kau putus dengannya?”
“eh…itu… kami sudah tidak cocok saja.” Jawab Shana singkat. “eh tapi, darimana kamu tahu kalau aku pacarnya? Seingatku, aku gak pernah mengenalkan pada kalian.”
“kamu memang gak pernah kenalin ke orang-orang. Tapi Tadashi selalu bilang kalau orang yang ia sayangi adalah kamu, Sha. anak-anak lain yang nembak Tadashi langsung meleleh saat dia mengucapkan itu.”
Shana terdiam.
“kamu benar-benar beruntung dicintai lelaki seperti Tadashi. Dimana lagi coba kamu bisa menemukan laki-laki sebaik Tadashi?”
Shana diam. Ia hanya merenung dan menunduk. Bertanya dalam hati apakah ini keputusan terbaik?
__ADS_1