
Tak lama setelah itu, Leo dan Ibu datang dengan diantar oleh salah satu sopir pribadi Shana. ibu dan Leo tak kalah terkejut melihat Hana dan Shana yang berdiri hampir berdekatan. Ibu segera mendekat menyusul Ayah yang berdiri di sisi Hana. Leo masih berdiri kaku di depan pintu. Beribu pertanyaan berputar di kepalanya.
“baiklah. Kurasa semua sudah berkumpul. Cleanne dan Tadashi, kalian berhak bergabung disini ataupun meninggalkan tempat ini. Saya ulangi pertanyaan pertama. Ada hubungan apa antara Tuan Shiki Chizuru dan Naomi Kozuki?” ucap Rhena kemudian mengulangi pertanyaan yang dia lontarkan sebelumnya.
“baiklah. Aku dan Naomi dulu adalah sepasang suami istri.” Ucap Ayah langsung menjawab tanpa menunggu lebih lama lagi.
Semua terkejut mendengar pernyataan Ayah. Tak terkecuali dengan Leo dan Ibu. Selama ini, mereka mengira jika istri Ayah yang dulu sudah meninggal.
“kami keluarga bahagia yang telah dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Namanya Rhena Chizuru.”
Tangan Rhena gemetaran. Matanya berkaca-kaca. Shana segera meraih tangan Rhena dan menggenggamnya erat. Berusaha saling menguatkan hati dan diri mereka masing-masing.
“saat itu Naomi sedang mengandung 2 bulan anak kedua kami. Tapi, beberapa hari setelah itu, masalah keuangan mulai melilit kami. Merasa tak mampu melanjutkan sekolah, akhirnya Rhena dikirim ke Swiss untuk tinggal dan bersekolah disana. Rhena dirawat oleh nenek. Sampai akhirnya Shana dan Hana lahir. Kami tak punya pilihan lain lagi. Nenek adalah orang yang menentang pernikahan kami. Saat itu nenek mengetahui kondisi ekonomi keluarga kami dan segera menyuruh Naomi untuk kembali ke Swiss. Aku tahu jika keluarga Kozuki adalah keturunan keluarga kaya raya. Namun, aku hanya ingin kami bisa mandiri tanpa ditopang oleh orangtua kami. Tapi sepertinya keadaan tak memihak. Naomi memilih kembali ke Swiss dan meninggalkanku di tengah keterpurukan. Kami berdua telah sepakat bercerai walaupun pada akhirnya meninggalkan luka yang dalam. Naomi membawa Shana dan aku membawa Hana. Kami terpaksa memisahkan kalian.”
Air mata Hana menetes. Leo yang melihat hal itu segera berlari ke arah Hana dan memeluknya. Mata Shana berkaca-kaca. Berusaha menahan semuanya.
“karena tak ingin membuat Hana bertanya-tanya lebih dalam, aku memutuskan untuk mengatakan bahwa Ibu kandungnya sudah meninggal. Maafkan Ayah, Hana.”
Hana hanya menangis di pelukan Leo.
“baiklah. Sudah terjawab. Pertanyaan kedua, untuk Naomi Kozuki. Kenapa kau membuang Shana di Jepang?”
Semua mata tertuju pada Mama. Pandangan terkejut dan bertanya-tanya berkumpul pada satu titik saat ini.
“kau jangan seenaknya berkata seperti itu. Sebenarnya setelah berada di Swiss, aku merasa sangat menyesal telah meninggalkanmu saat itu. Tidak seharusnya aku hanya memikirkan kebahagiaanku sendiri tanpa memikirkan bagaimana dirimu. Nenek sangat bahagia saat tahu dia punya satu lagi cucu. Hari demi hari berganti. Shana semakin tumbuh besar. Kondisi nenek semakin menurun. Hingga akhirnya aku yang harus turun tangan di berbagai bisnis nenek. Sampai kusadari jika wajah Shana sangat mirip denganmu. Hal itu selalu mengingatkan pada penyesalanku. Aku pun juga mengaku pada mereka jika Papa kandungnya telah meninggal. Hal itu karena kupikir tak mungkin aku bertemu denganmu lagi. Sampai akhirnya aku meninggalkan Shana di Jepang. Aku berharap ia bisa bertemu denganmu suatu hari nanti.”
“tapi apa kau harus memperlakukan Shana seolah dia adalah otak dari semua masalahmu? Dia bahkan tak tahu apa-apa.” Bantah Rhena yang sudah dari tadi menahan emosinya.
Shana menarik tangan Rhena. Berusaha menahan agar emosi kakaknya tidak meluap-luap. “sudahlah, kak. Aku tak apa-apa. Awalnya aku memang sangat terpukul. Bertanya-tanya apa salah dan dosaku. Tapi aku sudah jauh lebih kuat. Tak perlu lagi mencemaskanku.”
Rhena menghentikan emosinya setelah mendengar ucapan Shana.
“mama tidak salah. Mungkin aku yang salah. Seharusnya aku menjadi anak yang jauh lebih cerdas sehingga bisa membantu Mama menyelesaikan masalahnya.”
__ADS_1
“itu hanya caramu menyalahkan dirimu sendiri, Shana.”
“maaf, apa masih ada lagi yang perlu diluruskan? Kondisi Hana sangat lemah saat ini. Sepertinya dia terlalu shock.” Ucap Leo memotong pembicaraan mereka. Ia cemas dengan Hana yang sedari tadi menangis dan tubuhnya sangat lemas bahkan untuk menopang berat tubuhnya sendiri ia tak mampu.
“sepertinya cukup. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk berkumpul disini.”
Leo segera membawa Hana berbaring di sofa. Kesadarannya sempat menghilang beberapa saat. Namun, setelah sadar tubuhnya sangat lemah. Ayah sangat mencemaskan keadaan Hana.
“baiklah. Kalau begitu aku harus kembali sekarang juga.” Ucap Mama sambil bergegas berjalan menuju kamar untuk mengambil kopernya.
“kau akan langsung pergi begitu saja?” teriak Rhena berusaha menahan Mama untuk tetap tinggal disini.
“apa masih ada yang perlu dibahas? Tadi kau bilang sudah cukup. Lalu aku harus bagaimana? Urusanku masih banyak, Rhena.”
“kau lihat kan tadi? Hana pingsan. Anak kandung yang telah terpisah darimu selama 17 tahun itu pingsan tapi kau masih peduli bisnismu?”
“Hana sudah banyak yang mengurusi. Kehadiran Mama tidak terlalu penting. Mama tunggu kedatanganmu dan Shana di Inggris minggu depan.” Ucap Mama sambil membawa koper dan langsung pergi keluar rumah. Di depan pintu sudah ada sopir pribadi Shana yang mengantar Mama menuju bandara.
Shana berlari menyusul Mama yang hendak keluar rumah. “mama !!”
“tidak, Ma. Jika itu penting untuk Mama, pergilah. Aku hanya minta izin untuk tidak ikut ke Inggris minggu depan. Bolehkah aku tinggal dengan Ayah dan Hana?”
Mama hanya terdiam melihat Shana. “lakukan sesukamu.”
“terima kasih, Tante.” Teriak Tadashi sambil berlarian menyusul Shana yang masih diluar rumah bersama Mama.
“untuk apa?”
“terima kasih karena telah melahirkan dan merawat serta menjaga orang yang paling berharga untukku.” Ucap Tadashi dengan yakin sambil menggenggam tangan Shana.
Mama hanya diam. “Mama pergi sekarang.”
Mama tetap pergi meninggalkan rumah. Shana dipenuhi rasa malu dan canggung saat bersama Tadashi. Kini dalam hidup Shana bukan lagi berputar pada Ibunya. Masih banyak hal yang perlu ia jaga saat ini.
__ADS_1
“aku sudah dengar semua dari Hana. Kalian bertukar posisi, kan?” ucap Tadashi memulai pembicaraan.
“maaf. Aku tak bermaksud mempermainkan perasaanmu atau hal buruk yang lain.”
“aku tak berfikir jika kau jahat atau hal buruk lainnya. Seandainya…tak ada Hana, apa kau akan mengatakan padaku dengan jujur?”
Wajah Shana merona. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Shana hanya menunduk malu. Tadashi tersenyum melihat tingkah Shana. baru pertama kali ini ia melihat Shana bersikap malu-malu seperti sekarang ini.
“maafkan aku sudah berkata kasar padamu saat itu. Sampai kapanpun, aku tak pernah bisa membencimu. Satu-satunya orang yang paling berharga dalam hidupku. Aku sudah berjanji pada Hiroki akan selalu menjagamu apapun yang terjadi. jadi, maukah kamu membantuku menepati janji pada Hiroki?”
Shana tersenyum. Ia mengangguk perlahan menyetujui apa yang dikatakan Tadashi.
Raut wajah bahagia terpancar keluar dari wajah Tadashi. ia langsung memeluk Shana tanpa pikir panjang. Shana yang terkejut tanpa ragu-ragu lagi memeluk Tadashi.
“kita masuk sekarang, yuk.”
Suasana di dalam rumah masih sedikit kacau. Hana masih belum sadarkan diri. Cleanne langsung bergegas saat melihat Shana dan Tadashi masuk ke rumah. Cleanne langsung tersenyum saat melihat tangan Shana dan Tadashi yang bergandengan.
“sepertinya bakal ada makan besar malam ini.” Ucap Cleanne sambil menggoda pasangan baru yang sedang kasmaran di depan matanya.
“baiklah. Kita akan pesta di rumahku malam ini.” Ucap Shana.
“Shana, sepertinya kami harus pulang sekarang. Besok Ayah akan ke Hongkong untuk tugas kerja. Lagipula sepertinya Hana harus istirahat.” Ucap Ayah pada Shana.
“begitu, ya. Apa aku boleh main kesana kapan-kapan?”
“tentu saja. Kau dan Rhena bisa kapan saja ke rumah Ayah. Kalian anak Ayah.” Ucap Ayah sambil memeluk Shana.
“pintu rumah kami terbuka lebar untuk kalian. Datanglah kapan saja.” Ucap Ibu pada Shana dan Rhena.
“terima kasih, Ibu.”
Hana menghampiri Shana dan berbisik. “kita kembali ke posisi semula, ya. Selamat untuk kau dan Tadashi.”
__ADS_1
Wajah Shana merona merah. Tak bisa berkata apa-apa, Shana hanya tersenyum. Hana, Leo, Ayah dan Ibu segera meninggalkan rumah Shana. rumah yang besar itu kini mulai sepi lagi.