
Hari-hari kembali berjalan seperti biasa. Hana menjalani kehidupannya sendiri dan Shana juga menjalani kehidupannya sendiri. Pertukaran singkat mereka mungkin tak memberi dampak signifikan pada diri mereka masing-masing. Namun ada beberapa hal yang mungkin akan berubah di sekitar mereka. Entah perubahan itu membawa dampak positif ataukah sebaliknya.
Shana sendiri tak terlalu memikirkan dampak apa yang terjadi padanya. Baginya pertukaran kemarin hanyalah untuk menolong Hana melarikan diri sementara dari Leo. Lagipula itu bukan urusan Shana. Ia sedang menikmati acara istirahat santainya.
“Shaaaaaa………. Kita double date yuk !!” ajak Cleanne tiba-tiba datang mengganggu ketenangan bersantai yang sedang dilakukan Shana.
“haaa??? Apaan? Terus Aku sama siapa?” tanya Shana sambil terkejut dengan kedatangan Cleanne yang tiba-tiba.
“sama Tadashi lah, Sha. aku sama Misaki. “ ucap Cleanne sambil meringis.
“Misaki? Jangan-jangan kalian………………..”
“ahhh,Shana jangan gitu lah…aku kan jadi malu. Sebenarnya ini peringatan sebulan kita jadian lagi. “
“whaaaaaattttt….?! Kalian kok jadian lagi?” teriak Shana sambil berdiri.
“Sha,,,kamu gimana sih? Kan kamu yang menyatukan kita lagi. Jangan bilang kamu lupa ya…”
Shana kembali duduk dengan lemas. Wajahnya terlihat sebal. “ini pasti ulah Hana.” Pikir Shana dalam hati.
“kau mau kan, Sha?”
“enggak. “ tolak Shana tegas. “aku bakal jadi obat nyamuk buat kalian. Aku gak mau ikut.
__ADS_1
“kamu kan sama Tadashi. Ayolah Sha, Kumohon.” Rayu Cleanne dengan wajah melas.
“baiklah. Aku pikir-pikir dulu.” Jawab Shana cuek. Ia menatap sinis sahabatnya yang sedang dirundung asmara ini. Dalam hatinya bertanya-tanya. Kenapa mereka harus balikan lagi?
“kamu yang terbaik, Shaaaa….. makasih ya…” ucap Cleanne sambil memeluk Shana.
***********
Akhirnya mereka sampai di depan kamar Shana yang tertutup rapat. Mendengar suara Rhena dan Tadashi, Shana bergegas sembunyi di dalam lemari.
“Sha….ada Tadashi nih.” Ucap Rhena sambil membuka pintu kamar.
HENINGGGG……
“tidak, kak. Kata Cleanne tadi dia masih ada di rumah.” Ucap Tadashi lirih. Sepertinya ada rasa kecewa dalam sorot matanya.
“nanti kalau dia pulang akan aku katakan kalau kamu kesini.” Ucap Rhena berusaha menenangkan Tadashi.
“makasih ya, kak. Aku pulang dulu.”
Rhena segera mengantar Tadashi pulang setelah gagal menjemput Shana. Ada kecurigaan muncul dalam benak Rhena. Pasti ada yang tidak beres. Ia segera kembali masuk ke kamar Shana.
“keluar kau !!!” teriak Rhena di dalam kamar Shana. Wajah sebal muncul disela kecantikan alaminya. “aku tahu kamu sembunyi, kan, Shana Kozuki !!”
__ADS_1
Pintu lemari tiba-tiba terbuka. Shana muncul dari dalam lemari bajunya. “apa dia sudah pergi?” tanya Shana pada Rhena setelah ia keluar dari dalam lemari.
“apa yang kau inginkan?” tanya Rhena dengan nada sedikit marah. “sampai kapan kau akan memanfaatkan Tadashi? Kau tahu kan, kalau seperti ini hanya akan menyakiti perasaan Tadashi. “
“apa maksudmu?”
“kau sama sekali tak mencintai Tadashi kan? Lalu apa yang kau cari darinya? Kenapa tidak putus saja.”
“asal kakak tahu ya !! aku bukan orang yang suka memanfaatkan orang lain demi kepentingan diri sendiri. Sudah berkali-kali aku minta putus dari Tadashi, tapi dia gak pernah mau. Jadi jangan salahkan aku.” Bentak Shana gak kalah marah.
“tapi kau kan bisa bersikap tegas padanya.” Ucap Rhena masih sedikit membentak. “ atau jangan-jangan kau masih melihat Tadashi sebagai Hiroki?”
“sadarlah, Sha !! Hiroki itu sudah meninggal !!! kau harus bisa menerima kenyataan itu !!” jelas Rhena sedikit kesal dengan sikap adiknya yang cenderung tak bisa menerima kenyataan.
Shana tersentak. Ia tak menyangka kalau nama Hiroki akan disangkut pautkan dalam hal ini. “apa hak kak Rhena mencampuri urusanku !!! walaupun Hiroki sudah meninggal, ia akan tetap hidup dalam hatiku !!” balas Shana gak kalah marah dari Rhena. Perdebatan mulai panas. Bukan hal yang aneh jika mereka berdebat, hampir setiap kali mereka bertemu selalu bertengkar.
“tapi Tadashi terlalu baik untukmu.”
“siapa suruh dia untuk tetap mencintaiku?! Padahal dia sendiri juga pasti sudah sadar jika kuperlakukan seperti ini.”
“terserah kau saja.” Ucap Rhena memilih mengakhiri pertengkaran kali ini. Ia keluar dari kamar, meninggalkan Shana yang jatuh terlutut sambil menangis.
“Hiroki…………………………..”
__ADS_1
Dan air mata Shana menetes.