
Mungkin tak hanya Hana yang tak bisa tidur. Sepertinya Shana pun tak bisa tidur kali ini. Rasa bersalah karena memaksa untuk tetap bertukar posisi membuatnya harus menerima pikiran bersalah ini. Tapi, benarkah begitu? Hana sama sekali tak protes tentang Sojiro. Bukankah dia menyukai Leo? Tapi Hana tak masalah jika jadian dengan Sojiro. Apa sebaiknya besok minta kembali ke posisi masing-masing saja?
“hana? Kamu lagi ngapain?” tanya Leo yang tiba-tiba masuk kamar.
“bisa gak sih, kalau masuk kamar orang itu ketok pintu dulu?” jawab Shana kesal. Tiba-tiba privasinya diganggu.
“apa ini? Tumben kamu marah-marah gitu? Apa? Kamu berantem sama Sojiro, ya?” goda Leo yang langsung duduk di sebelah Shana. “sepertinya kamu beneran suka sama Sojiro. Sehebat apa sih dia?”
“bukan urusan kak Leo.” Jawab Shana sambil buang muka.
Entah hanya perasaan atau memang terkesan seperti itu, Shana merasa ada bumbu cemburu dari ucapan Leo barusan. Tapi ia masih belum yakin. Shana menatap Leo dengan tajam. Apa yang terjadi jika Hana mulai menyukai Sojiro, sedangkan sebenarnya Leo memiliki perasaan yang sama pada Hana. Tunggu…. Seharusnya Shana tak perlu ikut campur sejauh ini.
“ya,,, aku sangat mencintai Sojiro. Dia segalanya untukku.” Jawab Shana berusaha menggoda Leo. Ia ingin melihat reaksi seperti apa yang ditunjukan.
__ADS_1
Leo terkejut. Ya… itu terlihat sangat jelas dari raut wajahnya. Seketika wajah Leo berubah pucat. Shana tetap menatapnya dengan tajam. Tangan Leo berusaha menggenggam sesuatu. Seperti berusaha menahan sebuah badai. “tinggalkan dia.” Ucap Leo balas menatap Shana dengan tajam. “dia tak pantas untukmu.”
Kali ini Shana terdiam. Ia memang sengaja memancing Leo, tapi tak disangka reaksinya terlalu jelas seperti ini. Sepertinya ia harus menyelesaikan apa yang sudah ia mulai.
“apa maksudmu?”
“apa perlu aku mengatakannya untuk membuatmu percaya?” wajah Leo semakin dekat dengan wajah Shana. “atau kau sengaja memancingku?”
Terlalu dekat.
Tangan Leo seketika langsung menyambar wajah Shana yang terlihat berusaha menghindari tatapannya. Mereka bertatapan lagi.
Tanpa kata. Namun tatapan ini semakin dalam.
__ADS_1
Leo menjatuhkan tubuh Shana ke atas tempat tidur. Semua terjadi begitu saja, begitu cepat. Bahkan Shana tak sempat mengelak.
“apa ini? Mau apa kau?” ucap Shana sambil berusaha memberontak.
Tangan Leo menggenggam lengan Shana erat. Seolah tak ingin melepasnya sedikitpun. Tatapannya berubah menakutkan. Ratapan penuh rasa kesepian dan kesedihan. Shana berusaha memberontak sekuat tenaga. Namun, sejak awal ia sama sekali tak siap dengan situasi ini. Shana mulai menunjukan ekspresi ketakutan.
“pernahkah kau memikirkan apa yang kurasakan? Aku sangat terluka saat tahu kau bersama laki-laki itu. Bahkan aku sama sekali tak sanggup melihat kalian bersama.” Ucap Leo tanpa melepas genggaman tangannya. Suaranya terdengar bergetar.
“apa yang kau bicarakan? Kita ini saudara, kan?” balas Shana sambil tetap memberontak. Kali ini ia berhasil lepas dari genggaman Leo.
Shana bangkit dari tempat tidurnya. Ia menatap Leo dengan pandangan jijik. Sedangkan Leo terduduk sambil menunduk di atas tempat tidur. Kedua tangannya mengepal dan menutupi wajahnya. Penyesalan menyelimuti seluruh tubuhnya. Bagaimana mungkin ia melakukan hal bodoh seperti itu. “maafkan aku, Hana. Tolong lupakan yang terjadi tadi.” Ucap Leo.
“kau pikir semudah itu mengatakan? Kau hampir menyerangku !!! apa kau sadar yang sudah kau lakukan? Keluar dari kamarku !!!!”
__ADS_1
Tak butuh waktu banyak untuk membuat Leo pergi dari kamar. Shana masih terlihat syok. Ia tak bermaksud sampai sejauh ini. Kini Shana sadar bahwa ia sudah membuat masalah untuk Hana. Tak bisa terus-menerus membiarkan hal ini, Shana menelepon Hana untuk ketemuan membicarakan masalah ini.