
Malam itu Hana dan Shana bertemu di café tempat mereka biasa bertemu. Shana menceritakan semua yang terjadi. Pelan-pelan ia menjelaskan satu demi satu kejadian yang terjadi. Hana mendengarkan dengan hati-hati. Ekspresi wajahnya terlihat sedikit pucat. Tentu saja, ia harus menyelesaikan masalah demi masalah yang telah ditimbulkan Shana.
“aku minta maaf. Ini semua salahku.” Ucap Shana. ia terlihat sangat menyesal.
“tidak, Sha. awalnya aku memang sempat kesal karena kamu menerima Sojiro tanpa membicarakan denganku terlebih dulu. Tapi saat kupikirkan kembali, tak ada salahnya bagiku untuk move on. Aku perlu seseorang yang baik hati seperti Sojiro untuk melupakan Kak Leo.”
"Jadi kau akan tetap bersama Sojiro, kan? Dia pria yang baik, Hana.”
Hana terdiam. Ia terlihat berfikir keras. Pasti berat bagi Hana untuk memilih antara Leo yang dicintainya ataukah Sojiro yang mencintainya. Wajah Hana terlihat tegang.
“aku gak bisa memutuskan masalah ini. Makanya aku menyerahkan semua ini padamu. Hanya kamu yang bisa memberi keputusan. Kuharap kau mengambil keputusan yang terbaik.”
“itu berarti kita kembali ke posisi semula? maafkan aku atas perlakuan kak Kumika.”
“iya. aku juga minta maaf karena menamparnya balik. Tak seharusnya aku membalas.”
“lupakan saja. Hati-hati di jalan, Sha.”
__ADS_1
Mereka pun kembali pada posisi masing-masing. Langkah mereka yang berjalan berlawanan perlahan menjadi searah. Walaupun tanpa mereka sadari, keduanya sudah saling mencampuri urusan masing-masing. Berawal dari sebuah pelarian semata, kini mereka harus menemui masalah di setiap langkah mereka.
************
Pagi ini Hana sama sekali tak semangat bangun. Ia bahkan mulai terbiasa dengan kebiasaan sebagai Shana. kini, ia tak lagi bangun kesiangan. Kepalanya masih terasa berat. Kata-kata Shana kemarin masih berputar-putar di kepalanya. Ingin rasanya membentur kepala pada tembok. Kalau perlu sampai berdarah saja biar encer.
Hana segera menyiapkan buku-buku pelajaran hari ini. Sojiro akan datang sekitar 10 menit lagi. Sojiro…. Apa yang ia pikirkan setelah tahu perasaan Kak Leo pada Hana? Mana yang harus Hana selesaikan terlebih dahulu? tak butuh waktu lama untuk mempersiapkan keperluan hari ini. Hana pun segera turun untuk sarapan. Langkahnya terseok-seok. Hana melihat Leo sudah ada di meja makan. Wajah seperti apa yang harus ia tunjukan di depan Leo.
“eh, Hana. Ayuk sarapan. Kamu sekarang sudah tidak kesiangan lagi, ya.” Ucap Ibu sambil menghidangkan roti panggang di atas piring. Sarapan Hana pagi ini.
Hana hanya mengangguk dan melanjutkan melangkah ke meja makan. Matanya berpapasan dengan mata Leo. Secepat kilat Hana mengalihkan pandangannya.
“pagi.” Jawab Hana singkat sambil membenarkan posisi duduknya.
“hari ini kamu dijemput Sojiro lagi?” tanya Ibu sambil menghidangkan susu untuk Hana.
Pertanyaan itu membuat Leo dan Hana berekspresi yang sama. “iya, bu.”
__ADS_1
“kalian yang akur ya. Gimana kalau nanti malam ajak Sojiro makan malam disini?”
Leo tersedak. Hana langsung terbatuk-batuk mendengar ucapan Ibu. Di saat yang tidak tepat seperti ini. Apakah itu mungkin? Lagipula setelah kejadian kemarin, apa mungkin Sojiro mau bertemu Leo.
“Leo, ajak Kumika juga ya. Kalau ngumpul semua pasti rame.” Jawab Ibu tetap ceria walaupun kedua anaknya gelagapan.
Kali ini Hana tersedak. Sedangkan Leo terbatuk-batuk. Benar-benar situasi yang tidak mungkin terjadi mempertemukan mereka berempat.
“ya? Ibu akan memasak makanan yang enak.”
Sungguh permintaan yang tidak mungkin ditolak. Namun, sesungguhnya tak mungkin pula mengiyakan permintaan itu saat ini. Dalam keadaan seperti ini Hana harus tetap tenang. Jangan sampai Ibu curiga dengan kejanggalan ini.
“iya. Nanti coba aku tanyakan Sojiro. Sepertinya dia bisa malam ini.”
Tak ingin kalah dengan apa yang dilakukan, Leo pun mengikuti apa yang dilakukan Hana.
“Kumika juga sepertinya bisa. Nanti aku bilang padanya.”
__ADS_1
“wahhh…. Syukurlah. Ibu akan masak yang enak malam ini.”
Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti. Mungkin ini adalah pagi yang tenang sebelum badai. Mungkin juga ini cara tepat bagi Hana menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi. Tak ada yang tahu.