Queen VS Princess

Queen VS Princess
Bimbang


__ADS_3

“ada apa? Beberapa hari ini kamu murung.” Tanya Cleanne mencoba membuka pembicaraan di dalam mobil. Suasana terlalu mencekam baginya.


“tidak ada.”


Pembicaraan selesai. Tak ada satupun yang berani membangunkan singa yang tidur. Bahkan Pak sopir pun tak berani menatap mata Shana. meskipun sesekali melirik kaca spion. Sebenarnya Cleanne sudah bisa menduga hal seperti ini akan terjadi. Tapi ia tak berani berkomentar apapun.


“pelan banget sih jalannya !!! mau nyampek tahun depan?!!” bentak Shana melihat laju mobilnya sangat pelan. “kau mau aku pecat ?!!”


“maaf, nona. Akan saya tambah kecepatannya.” Jawab sopir memilih untuk tidak memperpanjang pembicaraan.


Cleanne hanya bisa menepuk jidatnya. Seseorang tolong hentikan Shana.


Hanya butuh waktu 10 menit dengan kecepatan luar biasa yang dilajukan pak sopir untuk sampai ke sekolah. Shana segera keluar dari mobil dan membanting pintu mobil. Melihat kejadian itu, Pak Sopir yang khawatir segera menanyakan keadaan Shana. sejujurnya Cleanne pun juga ketakutan dengan tingkah Shana.


“apa yang terjadi pada nona Shana?” tanya Pak Sopir pada Cleanne .


“banyak hal terjadi, Pak. Doakan saja dia bisa mengontrol dirinya.”


“ngapain aja, Cleanne !!! ayo cepaaattt !!!” teriak Shana dari halaman sekolah.

__ADS_1


“duh, sudah dulu ya, Pak.” Cleanne segera bergegas menuju Shana sebelum singa mengamuk lagi.


Cleanne menyusul Shana dengan sedikit memperlambat langkahnya. Bahkan Cleanne yang merupakan teman masa kecil Shana, tidak berani menatap saat Shana sedang dalam kemarahan seperti sekarang. Dalam hatinya bertanya-tanya, mungkinkah ini hanya karena Hana belum memberi kabar tentang masalahnya? Tapi sepertinya bukan hanya itu. Dari arah yang berlawanan terlihat Tadashi yang sedang berjalan sambil bicara dengan temannya. Biasanya jika seperti ini Tadashi selalu menyempatkan untuk berhenti sejenak hanya untuk menyapa Cleanne dan Shana. atau hanya sekedar menanyakan “apa kabarmu hari ini, Shana? menyenangkan?”


Tapi kali ini Tadashi tak peduli sedikitpun dan bahkan tetap terus berjalan lurus tanpa melirik sedetikpun. Sungguh perubahan besar yang sangat cepat. Hampir tak bisa dipercaya jika Tadashi bisa melakukan hal ini. Mata Cleanne tertuju pada sosok di depannya. Shana menoleh ke belakang –ke arah Tadashi-. bahkan Shana menatap punggung Tadashi yang terus berjalan dengan mata sendu. Sorot mata kesepian. Bibir Shana seolah berusaha mengatakan sesuatu namun kemudian tertahan kembali dan berbalik melanjutkan langkahnya. Tanpa diberitahu, Cleanne sudah menyadarinya. Betapa Shana sesungguhnya bergantung pada Tadashi. Betapa Shana sangat membutuhkan Tadashi di sampingnya. Walau Shana terus saja mengelak.


Tak adakah yang bisa dilakukan? Sudah sesakit itukah hati Tadashi? apa tak ada lagi harapan untuk Shana? tanpa Shana sadari, Tadashi telah mengisi hatinya yang kosong menggantikan posisi Hiroki dalam hatinya.


Berita Tadashi jomblo secepat kilat menyebar dan membuat para kaum gadis mendekati Tadashi dengan cepat. Selama ini tak ada yang berani mendekati Tadashi karena posisi Shana yang cukup berpengaruh. Di sekolah elite itu, posisi keluarga dan bisnis yang dijalankan sangat berpengaruh. Tadashi pemilik rumah sakit terbesar di Jepang. Sedangkan Shana putri pemilik perusahaan berlian terbesar di Swiss. Banyak siswi yang bahkan tak berani mengusik ketenangan Shana –selain karena sifat judesnya-.


“Sha, boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Cleanne dengan perasaan sedikit takut dan masih berada tepat di belakang Shana.


“maaf, Sha. jujur aku takut dengan perubahan sikapmu ini. Kamu jadi sedikit pemarah dan uring-uringan. Aku tidak terlalu paham dengan keadaanmu saat ini. Kamu sekarang jadi tertutup. Apa semua ini ada hubungannya dengan Tadashi yang meninggalkanmu?”


Shana hanya diam. Bahkan tidak untuk menoleh sedikit pun ke arah Cleanne. Sepertinya berat bagi Shana untuk mengakui seperti apa yang dirasakannya saat ini. Cleanne pun menyadari jika pertanyaannya mungkin sedikit menyinggung. Tapi ia tak bisa hanya diam saja seperti ini. Keadaan ini harus segera diperbaiki.


“maafkan aku, Cleanne. Tapi aku belum bisa mengatakannya padamu. Aku sendiri bahkan tak mengerti apa yang kurasakan sekarang.”


“jika kau butuh pendapatku, aku bisa kapanpun, Sha.”

__ADS_1


Shana menganggukkan kepalanya. Ia sangat mengerti jika sahabatnya yang satu ini bisa diandalkan kapan saja. Hanya saat ini, ia belum siap untuk membuka semua.


**********


“kau yakin akan pergi sekarang?” tanya Ibu pada Leo yang sedang mempersiapkan baju-bajunya. Hari ini ia mulai pergi dari rumah dan mulai hidup sendiri.


“aku harus segera menempati rumah itu, Bu.


“tak bisakah menunggu sampai lulus kuliah? Ibu akan kesepian jika kamu tak ada.”


“ada Hana, Ibu. Lagipula Ibu masih bisa menjengukku.”


“apa kau pindah untuk menghindar dari Hana?” tanya Ibu langsung menusuk ke pokok pembicaraan. Leo tak berkutik. Ia tetap melanjutkan persiapan baju-bajunya.


“kurasa ini yang terbaik, Bu.” Jawab Leo singkat. Semua keputusan ini sudah ia pikirkan baik-baik sejak lama. Tak ingin terlalu lama ada pihak yang tersakiti. “setelah makan siang, aku akan berangkat.”


“kau tak ingin berpamitan pada Hana?”


“mungkin tidak, Bu. Biarkan saja begitu.”

__ADS_1


__ADS_2