
“nah, perhatikan langkahmu, ya. Hati-hati.” Ucap Ibu saat menuntun Shana berpindah dari tempat tidur ke kursi roda. “hari ini kau ingin berkeliling kemana? Akan Ibu temani. Biarkan Ayahmu menemani Hana.”
“terima kasih, Ibu.” Ucap Shana sambil tersenyum.
“putri Ayah sekarang lebih banyak tersenyum. Syukurlah.” Ucap Ayah sambil mengusap rambut Shana dengan lembut.
“aku sayang Ayah. Terima kasih karena menjadi Ayahku. Maaf karena aku masih jadi anak bandel. Ayah, Ibu, terima kasih sudah mau menerimaku di keluarga ini.” ucap Shana setelah berhasil duduk dengan baik diatas kursi roda.
“ada apa ini? Kau bicara seolah kita takkan bertemu lagi. Kau dan Hana harus sembuh. Kita akan mengadakan piknik bersama.” Ucap Ayah berusaha menahan tangisannya. Ia bahkan baru saja beberapa hari bertemu putrinya yang selama ini terpisah. Hati Ayah terasa ngilu saat mendengar ucapan Shana yang seolah seperti pertanda akan sesuatu.
Shana hanya tersenyum. Matanya berkaca-kaca menahan tangisnya menetes.
“jangan berkeliling terlalu jauh. Setelah ini kau harus kontrol.” Ucap Tadashi sambil berlutut menggenggam tangan Shana. Matanya berkaca-kaca setiap kali menatap kedua mata Shana yang terlihat sayu.
__ADS_1
“siap, sayang !!” ucap Shana sambil tersenyum. Ini pertama kalinya ia memanggil Tadashi dengan sebutan manja seperti itu.
Ibu segera mengantarkan Shana untuk berkeliling mencari udara segar. Sedangkan Ayah masih berada disana untuk menjaga Hana. Tadashi kembali ke kantor untuk mengurusi beberapa pekerjaannya sebelum nanti menemani Shana untuk kontrol.
Hari semakin siang. Shana telah selesai menjalani kontrol rutin. Saat ini ia dan Tadashi sedang berada di taman. Udara siang ini terasa sejuk. Pepohonan yang hijau dan rindang menambah kesejukan siang itu. Shana menyandarkan kepalanya di pundak Tadashi. Hembusan angin terasa sangat sempurna untuk suasana romantis seperti ini.
“hari ini kau manja sekali. Tumben.” Ucap Tadashi melihat tingkah Shana yang serasa selalu ingin berada di dekatnya.
“apa kau tak suka?”
“aku hanya ingin lebih lama bersamamu.” Ucap Shana sambil berkaca-kaca. Tak mungkin ia perlihatkan air matanya saat ini. “hei, Tadashi. terima kasih untuk segala yang terbaik yang telah kau lakukan untukku dan Hana. Aku tak bisa bayangkan jika tak ada dirimu.”
“aku hanya tak ingin kehilangan orang yang berharga untukku. Aku tak bisa bayangkan akan jadi apa diriku jika kehilanganmu.” Ucap Tadashi sambil memeluk kepala Shana yang bersandar di pundaknya.
__ADS_1
Air mata Shana menetes perlahan. Jauh dalam lubuk hatinya, ia masih tak ingin mengakhiri semua ini. Tak mungkin baginya untuk mundur lagi. Ia harus bertanggung jawab tentang Hana.
“hei, cepatlah pulih. Aku akan membawamu pesta kebun.” Ucap Tadashi mencoba merubah topik pembicaraan.
Shana mengangkat kepalanya. “haruskah aku membuatkanmu sendiri bekal makan siang? Akan kumasakkan untukmu.”
Tadashi tersenyum. “boleh saja kau membawakan bekal. Tapi lebih baik biar koki masak di rumahmu saja yang membuatkannya.”
“jadi kau meragukanku? Aku bisa memasak untukmu.”
“sudahlah. Aku tak ingin sakit perut nantinya.” Ucap Tadashi sambil tertawa lepas.
“kau jahat.”
__ADS_1
Mereka berdua tertawa tanpa beban. Membuang semua rasa gelisah yang menyelimuti keduanya. Melupakan semua rasa sakit yang pernah mereka lewati. Hanya melangkah tanpa keraguan. Tanpa mengetahui apa yang ada di hadapan mereka.
***********