Queen VS Princess

Queen VS Princess
Leo vs Sojiro


__ADS_3

Malam pun tiba. Hana terpaksa harus sedikit memaksa Sojiro untuk ikut dalam acara makan malam bersama. Karena tak ingin mengecewakan, Sojiro terpaksa membuang gengsinya. Rasa jengkel pada Leo masih menyelimuti perasaan Sojiro. Walaupun Hana tak melihat kejadian dahsyat kala itu, ia bisa merasakan apa yang dirasakan Sojiro. Hana dan Sojiro pun turun dari mobil. Ibu Hana langsung seketika menyambut kedatangan mereka.


“Selamat datang, Sojiro. Terima kasih sudah bersedia datang makan malam. Tante senang sekali kamu sudah menjaga Hana.” Ucap Ibu Hana begitu mereka ada di depan pintu.


“saya juga merasa terhormat diizinkan untuk bergabung makan malam, tante.” Ucap Sojiro dengan senyum manisnya.


“ayo, masuk. Leo dan Kumika sudah ada di dalam.”


Hana menghentikan langkahnya. Ia menatap Sojiro yang ada di belakangnya. Ada rasa khawatir tersirat pada sorot matanya. Sojiro melihat kejadian itu segera menggenggam tangan Hana.


“tenanglah. Aku akan melindungimu.” Ucap Sojiro sambil mengusap pipi Hana.


Hana mengangguk pelan. Bukan khawatir atau rasa takut yang ada dalam dirinya. Bukan khawatir adanya perkelahian ataupun takut pada Kumika, tapi khawatir hatinya tak sanggup melihat Leo dan Kumika bersama. Tangannya mengikuti kemana tangan Sojiro menggenggamnya. Tak butuh berjalan lama untuk sampai pada ruang keluarga dimana acara makan malam diadakan. Leo dan Kumika sudah ada di meja makan dan duduk berdampingan. Hana mempererat genggamannya pada tangan Sojiro.


“Hana dan Sojiro sudah datang. Bisa kita mulai makan malamnya sekarang.” Ucap Ibu.


“terima kasih sudah datang, Sojiro. Terima kasih juga sudah menjaga Hana selama ini.” Ucap Ayah pada Sojiro.


“sama-sama, om. Sudah tugas saya menjaga Hana.”


Hana duduk berhadapan dengan Leo, sedangkan Sojiro berhadapan dengan Kumika. Hana hanya menunduk. Jangan sampai ia dan Leo bertatapan mata. Suasana di meja makan cukup canggung. Yang terdengar dominan hanya suara Ayah dan Ibu saja. Entah apa yang ada dalam pikiran Hana saat itu. Ia memang tak berada disana saat perkelahian itu, tapi sangat terasa sekali aura panas di sekitarnya. Tatapan Kumika padanya pun tidak seperti dulu yang penuh dengan kehangatan. Rasanya ia sedikit memahami betapa hancurnya saat tahu orang yang paling disayang justru menyayangi orang lain.


Aura panas pun juga ia rasakan disebelahnya. Dimana Sojiro duduk. Ia bisa merasakan kemarahan dan kecemburuan. Seperti apa rasanya orang yang kamu sayang tinggal satu atap dengan orang yang menyukai kekasihmu. Aura yang panas juga ia rasakan tepat di depannya. Dimana Leo duduk. Seperti ada kilatan petir menyambar diantara Sojiro dan Leo. Saat ini Hana ingin tahu siapa yang paling bersalah disini.


Makan malam kala itu terasa lebih lama dari biasanya. Atau hanya perasaan mereka masing-masing. Setelah acara itu, Hana dan Sojiro memisahkan diri. Mereka mengobrol di halaman belakang. Sejak kejadian itu, terlihat sekali bahwa Sojiro memperketat perhatiannya pada Hana. Takut jika Hana berhasil direbut Leo.


“kamu tak apa tetap tinggal disini bersama Leo? Dia tidak mengganggumu, kan?”


“aku tak apa. Lagipula ada orangtuaku.”


“aku tahu khawatirku ini berlebihan. Aku tahu kalian bukan saudara kandung. Apapun bisa saja terjadi. itu sebabnya aku tak ingin kau tinggal satu atap dengan Leo.”


“tenanglah. Ada orangtuaku. Lagipula jika aku ingin pergi dari sini, alasan apa yang bisa kukatakan. Justru itu akan membuat orangtuaku curiga.”


Sojiro terdiam. Hana mengerti jika Sojiro sangat cemburu dengan Leo yang bisa setiap hari selalu bersama. Tapi jika ada yang berubah, Ayah dan Ibu pasti curiga. Itu sebabnya Hana berusaha bersikap seperti biasa.


Sojiro menggenggam lagi tangan Hana yang mulai kedinginan. Seolah ada rasa hangat yang mengalir ke setiap jemari Hana. “aku tak ingin kehilanganmu. Aku tak ingin kau direbut orang lain.”


Hana menunduk. Seakan rasa bersalahnya pada Sojiro semakin membesar. Seolah tak lagi bisa ia bendung. Sedangkan Leo dan Kumika berada di kamar Leo. Suasana disana sangat tidak enak. Leo hanya sibuk dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


“kau tak berusaha merebut Hana dari pacarnya? Bukankah kau bilang kau mencintainya?” ucap Kumika sinis pada Leo.


“diam. Bukan urusanmu.”


“dari awal aku tahu. Kau hanya menerima perasaanku hanya sebagai pelarian saja. Saat itu aku tak tahu siapa orang itu. Bahkan aku pun tak menaruh curiga sedikitpun pada Hana. Aku hanya tahu kalau dia adikmu. Jadi mana mungkin kau menyukainya.”


Leo tak menghiraukan perkataan Kumika. Ia masih sibuk sendiri.


“tak kusangka kalau ia adik tirimu. Bagaimana mungkin kau bisa menyukai adikmu sendiri? Pasti itu hanya perasaan sesaatmu. Apa perlu aku bicarakan hal ini pada orangtuamu?”


Leo langsung menoleh dan menahan Kumika. “sudah kukatakan jika ini tak ada hubungannya denganmu. Jika kau berani mengatakan pada orangtuaku, kupastikan kau tak akan pernah melihatku lagi.”


Kumika mendorong Leo. Wajahnya memerah. “seharusnya kau melupakan Hana. Sekarang bahkan dia sudah bahagia dengan kekasihnya. Apa kau mau merusak kebahagiaan mereka?”


“sudah kubilang, kan. Ini bukan urusanmu. Apa yang akan kulakukan sudah bukan urusanmu. Kita sudah berakhir kemarin.”


“kuberitahu saja. Kau bisa merebut Hana. Tapi kau akan melukai perasaan Sojiro yang sudah menyayangi Hana. Kau juga akan melukai perasaan kedua orangtuamu. Karena mereka akan sangat merasa bersalah tidak mengetahui perasaan anak-anaknya.”


“sepertinya aku perlu mengusirmu.” Ucap Leo sambil menyeret tangan Kumika.


Kumika berusaha memberontak. Namun, tenaga Leo terlalu besar untuk dilawan.


“hati-hati, nak. Terima kasih sudah mau datang.” Ucap Ayah pada Kumika.


“terima kasih untuk hidangannya. Kapan-kapan saya mampir lagi.” Ucap Kumika berusaha bersikap sopan di depan orangtua Leo.


“Leo, hati-hati mengantar Kumika, ya.” Ucap Ibu Hana.


Mood Leo sangat berantakan malam itu. Rasanya ia sangat ingin menghantam sesuatu dengan tangannya. Ia pun kembali ke rumah dengan wajah yang masih kusut. Penyesalan muncul dalam benak Leo. Kenapa ia tak berjuang dari awal untuk perasaannya sendiri? Bahkan entah bagaimana Leo yakin jika Hana juga memiliki perasaan yang sama padanya. Langkah demi langkah ia tempuh dengan lunglai. Matanya lurus menatap jalanan. Langkah kakinya terhenti saat mendengar suara Hana. Rupanya Hana dan Sojiro masih di depan rumah. Sepertinya Sojiro hendak pulang.


“kak Leo?” ucap Hana saat melihat Leo datang. “kak Kumika sudah pulang?”


“Hana, maafkan sikap Kumika saat itu. Dia sudah menamparmu. Tolong maafkan dia.” Ucap Leo pada Hana. Langkahnya sedikit demi sedikit mendekat pada Hana.


Sojiro yang melihat sikap Leo tersebut langsung keluar mobil dan sedikit mendorong Leo. “jangan dekati Hana !!”


Leo dan Sojiro saling bertatapan. Ada aura mencekam di sekitar mereka. Tak ingin ada perkelahian lagi, Leo segera masuk ke rumah. “aku tak akan mengganggu kalian. Tapi asal kau tahu Hana, aku memang menyukaimu. Bahkan sebelum kedua orangtua kita memutuskan untuk menikah.”


Hana terkejut. Sojiro mulai marah.

__ADS_1


“entah bagaimana, tapi aku yakin kamu juga memiliki perasaan yang sama padaku. Itu sebabnya aku berani maju sampai sejauh ini. Selama ini aku tak memiliki perasaan apapun pada Kumika. Ia mengutarakan perasaannya padaku dan aku menerimanya karena berfikir hubungan kita tak mungkin menemukan jalan keluar.”


“apa yang kau katakan?! Jangan pernah merebut Hana dariku !!!!” teriak Sojiro berusaha menghampiri Leo akan tetapi ditahan oleh Hana.


“kumohon, jangan ada keributan. Ayah dan Ibu ada di dalam.” Ucap Hana.


“aku pun berusaha menahan perasaanku sendiri. Namun, malam itu kau seakan berusaha membuatku mengatakan yang sebenarnya.”


Malam itu? Saat Shana menyamar sebagai diriku?


“maafkan aku karena telah berusaha menyerangmu saat itu.” Ucap Leo tanpa membalikkan badan ke belakang.


Hana terkejut mendengar itu. Ia belum mendengar pernyataan itu dari Shana. apa yang terjadi? kenapa Shana merahasiakan awal mula semua ini terjadi.


Mendengar kata-kata Leo, Sojiro langsung bergegas menghampiri Leo dan memukulnya.


BUUGGGGG !!!


Sebuah tinjuan melayang ke wajah Leo. Ia pun jatuh tersungkur di tanah akibat pukulan Sojiro. “hentikan, Sojiro, Kumohon !!!! teriak Hana sambil menahan tubuh Sojiro.


Mendengar teriakan Hana, Ayah dan Ibu keluar dari rumah dan memeriksa apa yang terjadi. keduanya terkejut melihat Leo yang sudah jatuh tersungkur dan Hana yang menangis sambil menahan tubuh Sojiro, sedangkan wajah Sojiro dipenuhi api kemarahan.


“ada apa ini?” ucap Ibu yang langsung menghampiri Leo dan membantunya untuk berdiri. Sudut bibir Leo langsung berdarah saat itu juga.


“maafkan aku sudah memukul anak anda, tante. Sepertinya ia perlu sedikit pelajaran. Tapi saya tak menyesal sedikitpun telah memukulnya. Saya minta tolong untuk menjaga Hana. Karena mungkin saja Leo menyerang ke kamar Hana lagi.”


“APAA?!!!” teriak Ayah tak kalah marah mendengar ucapan Sojiro.


“apa itu benar, Leo?” tanya Ibu pada Leo yang masih meringis kesakitan. Namun Leo hanya menunduk tak menjawab pertanyaan Ibu.


“kita bicarakan masalah ini besok. Sekarang kau masuk Leo. Dinginkan kepalamu sebelum menghadap Ayah besok pagi. Sebaiknya kau segera pulang, Sojiro. Hana kau juga segera masuk kamar dan jangan lupa kunci kamarmu.” Jelas Ayah yang terlihat sangat marah namun masih tetap bisa mengontrol diri.


Ibu segera menuntun Leo masuk ke rumah dan mengobati luka di wajahnya. Sedangkan Hana yang masih menangis tetap berdiri disana. Kepalanya terasa penuh dengan masalah. Banyak hal terjadi dalam sekejap. Otaknya tak mampu menampungnya dalam sekejap. Sojiro segera melepaskan tangannya dari genggaman Hana. Ia pun menyeka air mata Hana.


“kenapa? Kenapa kau tak katakan tentang penyerangan Leo? Kenapa harus kamu sembunyikan dariku? Kau mencintai Leo juga?!”


Hana tak sanggup menjawab apapun. Kepalanya seakan ingin meledak. Air mata tak berhenti mengalir di pipi lembutnya.


“maafkan aku sudah buat keributan disini. Istirahatlah. Aku percaya padamu.”

__ADS_1


Sojiro segera masuk mobil dan meninggalkan kediaman rumah Hana. Masalah masih akan berlanjut besok pagi.


__ADS_2