
Memikirkannya semalam pun gak akan cukup. Bahkan sampai detik ini Hana belum bisa menemukan cara untuk membuat hubungan Shana dengan Tadashi membaik. Jika dipikirkan kembali, hubungan asmara Hana saja masih amburadul gak jelas. Ini malah bantuin percintaan orang lain. Apes deh….
Tapi….semua terjadi begitu saja. Hana hampir saja lupa bagaimana ia bisa membawa Tadashi duduk di sebelahnya seperti sekarang ini. Apa yang ingin dia bicarakan bahkan sama sekali belum terpikirkan. Taman belakang sekolah memang taman yang terbaik. Banyak pohon dan tanaman hijau yang menghiasi pemandangan. Angin yang berhembus menambah kenyamanan terutama di siang hari. Banyak sekali murid yang istirahat siang dengan tidur di taman. Bahkan kali ini Hana merasa banyak sekali siswa perempuan yang menatapnya dengan tatapan mematikan. Tekanan macam apa ini. Apa yang sudah terjadi?
Dalam keheningan. Dalam kesunyian. Tanpa kata-kata. Hana dan Tadashi hanya duduk diam menatap lurus ke depan. Seolah mereka hanyut dalam imajinasi masing-masing. Hana berusaha menempatkan dirinya di posisi Shana. mengingat kembali apa yang kemarin Shana katakan. Hana sangat paham apa yang dirasakan oleh Shana. ya… itu perasaan cinta. Perasaan mencintai orang lain. Sama halnya tentang perasaan mencintai yang ia rasakan sebelumnya. Hana tersentak. Tiba-tiba ia terbayang wajah Sojiro. Hana kembali fokus pada perannya saat ini.
“ada apa? Kau mengajakku kesini tapi dari tadi hanya diam saja. Apa kau sakit, Shana? ada yang tidak enak?” tanya Tadashi sedikit mendekatkan diri ke arah Hana.
Hana terkejut saat mata mereka bertemu. Hana buru-buru mengalihkan pandangannya. Jantungnya mendadak berdegup kencang.
“anu…. Ada yang harus aku bicarakan. Tapi aku masih bingung harus mulai dari mana. Apa kau buru-buru kembali ke kelas?”
“tidak. Kalaupun kau memintaku untuk bolos pelajaran, akan kulakukan.”
“jangan!!! Bolos pelajaran itu gak baik.” Teriak Hana sambil mendadak berdiri dari duduknya.
Tadashi tertawa. “sejak kapan kamu jadi peduli dengan pelajaran? Kamu kan tipe yang hanya bisa sihir disaat terjepit”
“sihir disaat terjepit?” tanya Hana sambil kembali duduk.
“aku tahu. Kamu itu sebenarnya jenius. Hanya saja, kamu malas dan kadang moody. Nilaimu pun juga selalu bagus. Mungkin jika kamu mau sedikit bersikap rajin, pasti akan jauh lebih baik lagi.”
Hana tersenyum. “kau tahu banyak tentang Shana, ya.”
“apaa??!!!”
Tadashi yakin mendengar hal yang aneh. Ia berusaha meyakinkan apa yang sudah ia dengar.
“eh… maksudku kamu tahu banyak tentangku.” Ucap Hana buru-buru menutupi kesalahan ucapannya. Ia keceplosan.
__ADS_1
“tentu saja. Aku sudah mengenalmu bahkan sebelum aku bertemu secara langsung denganmu.” Jawab Tadashi sambil tersenyum.
Hati Hana berdegup kembali. Ia teringat cerita Shana tentang Hiroki saat di café terakhir mereka bertemu. Tak seorangpun menyangka rahasia mereka akan seperti ini. Apa yang harus Hana lakukan untuk Shana dan Tadashi? tidak mungkin jika harus melakukan hal itu dalam ‘keadaan menjadi Shana’. itu tak mungkin. Hanya akan menambah masalah di kemudian hari.
“sebenarnya….ada yang ingin kusampaikan.” Ucap Hana sedikit demi sedikit memulai kata-katanya. Entah ini akan membuat keadaan membaik ataukah semakin memburuk, tak ada jalan lain selain mencobanya.
“apa? Katakan saja. Akan kudengarkan baik-baik.”
Hana menarik nafas panjang dan dalam. Kemudian menghembuskannya perlahan. Mengatur irama nafas dan jantungnya. Hana berusaha menatap Tadashi.
“sebenarnya…..aku bukan Shana. Namaku Hana. Hana Chizuru.”
Mata Hana terpejam. Ia bahkan tak berani menatap wajah Tadashi.
“apaa?!!!” tanya Tadashi berusaha meyakinkan apa yang sudah ia dengar. “apa maksudmu? Hana siapa?!”
“kemiripan wajah? Jangan-jangan kamu menculik Shana?!” teriak Tadashi sambil berdiri.
Hana buru-buru menenangkan kembali Tadashi. “bukan!!! Ini tak seperti yang kamu duga. Kami tak sengaja bertukar tempat. Hal itu terjadi beberapa bulan yang lalu. Semua itu membuat Shana dan aku sekarang menjadi bersahabat. Kami beberapa kali bertukar posisi seperti ini. Itu semua aku dan Shana yang merencanakan.”
“gak mungkin.” Raut wajah ketakutan dan tidak percaya mulai terlihat di wajah Tadashi. “lalu, saat aku menceritakan tentang Hiroki, siapa yang menjadi Shana? apa itu kau?”
“bukan. Itu benar-benar Shana. sehari setelah peristiwa itu, Shana memintaku untuk menggantikan posisinya. Shana memintaku untuk mengatakan hal ini.”
Tadashi menatap Hana dengan tajam. Dalam kepalanya masih berputar-putar tentang pengakuan Hana barusan. Sikap waspada masih saja terlihat jelas dalam ekspresi wajahnya.
“apa itu?”
Hana tersenyum. “shana memang tidak mengatakan secara jelas padaku. Tapi aku tahu bahwa saat ini dia sedang jatuh cinta.” Hana berdiri dan menoleh pada Tadashi yang masih duduk. “bagi Shana….kaulah orang yang paling berharga. Atau bahkan mungkin lebih berharga dari pada Hiroki.”
__ADS_1
Tadashi tersentak mendengar ucapan Hana. Ia lalu berdiri dan berusaha menghampiri Hana. Tangannya menarik lengan Hana. “katakan, jika itu bohong.”
“aku tidak berbohong. Apa perlu aku mempertemukan kalian besok?”
Tadashi hanya terdiam. Ia tak menemukan tanda kebohongan dari mata Hana. Sorot mata yang penuh keceriaan dan energy posistif. Sangat berlawanan dengan sorot mata Shana. saat itulah Tadashi mulai menyadari jika mereka berbeda. Tangannya perlahan melepaskan genggaman lengan Hana. Antara percaya tapi tidak yakin.
“aku akan bicarakan hal ini pada Shana. jika dia mau, kita bisa bertemu besok sore sepulang sekolah.” Ucap Hana.
“kenapa? Kenapa harus kau yang mengucapkan? Kenapa bukan Shana sendiri?”
“Shana belum menyadari perasaannya. Tapi cepat atau lambat, dia akan tahu. Hanya ini yang bisa kulakukan. Awalnya aku berfikir untuk mengakui cinta namun, sebagai Shana. tapi, itu hanya seakan terdengar menipu perasaanmu. Jadi, kuputuskan untuk mengatakan yang sebenarnya.”
Tadashi masih terdiam. Ia butuh seseorang yang bisa menjelaskan secara rinci apa yang sudah terjadi diantara mereka.
Seolah bisa membaca pikiran Tadashi, Hana pun menjawab, “kau bisa mendengar cerita lengkapnya dari Cleanne. Dia tahu tentang aku dan Shana. Hari ini, aku izin pulang cepat ya, pak!! Aku harus mengurus passport.”
“passport??? Kau mau kabur kemana?!” teriak Tadashi yang berfikir seolah Hana akan kabur setelah menipunya seperti ini.
Mata Hana menyipit. Ekspressi sebal terlihat dari ujung bibirnya.
“aku harus ke Inggris bersama kak Rhena. Ada urusan.”
“apa keluarga Shana tahu tentangmu?”
“tidak. Mereka sama sekali tidak tahu.” Hana menundukkan kepalanya. Membayangkan reaksi seperti apa yang akan ditunjukan orangtua mereka jika mengetahui hal aneh semacam ini. “tolong jangan katakan apa-apa, ya.”
Hana pun berjalan meninggalkan Tadashi yang masih berdiri kaku di taman. Sepertinya kali ini Tadashi harus mencari Cleanne untuk menjelaskan secara rinci.
Hana meninggalkan Tadashi dan menuju gerbang depan. Pasti saat ini, kak Rhena sudah menunggu untuk menjemputnya. Dari lubuk hati Hana, ia merasa sangat lega sudah mengatakan semuanya pada Tadashi. seakan seperti beban berat yang terangkat. Hana berjalan perlahan melewati jalan setapak yang menuju gerbang depan. Jalanan yang panjang dikelilingi rumput dan tanaman hijau.
__ADS_1