
“keterlambatanmu kali ini benar-benar kelewatan, Sha.” Ucap Tadashi sambil menyilangkan kedua tangan di dadanya. Wajahnya cukup seram. Sepertinya ia marah dengan keterlambatan yang ditimbulkan Hana karena tak bisa bangun pagi.
“maafkan aku.” Ucap Hana sambil memejamkan mata karena ketakutan dengan ekspresi yang ditunjukan Tadashi. Hana sampai ke sekolah ketika jam pelajaran pertama hampir selesai.
Tadashi dan Cleanne seketika langsung terkejut dengan kata “Maaf” yang baru saja diucapkan Hana. Mereka berdua sangat hafal dengan kebiasaan Shana yang tak pernah bisa mengucapkan kata “Maaf”. Tadashi dan Cleanne pun langsung saling berpandangan dengan ekspresi tak percaya dengan apa yang sudah mereka dengar. Mungkinkah mereka salah dengar?
“aku benar-benar minta maaf. Tadi aku bangun kesiangan. Aku janji mulai besok akan belajar bangun pagi.” Ucap Hana pada Cleanne dan Tadashi. Hal itu seketika langsung membuat Tadashi tersenyum. Sedangkan Cleanne masih belum percaya dengan apa yang terjadi. Mungkin tadi Shana salah makan.
“bagaimana kalau mulai besok pagi aku telepon agar kamu bangun dan sekaligus aku jemput saja. Bagaimana?” ucap Tadashi menawarkan bantuan pada Hana yang terlihat sangat kesusahan.
Dengan wajah memancarkan sinar kebahagiaan, Hana mengiyakan tawaran Tadashi. “benarkah itu? Kau sungguh baik sekali.”
__ADS_1
“serius itu, Tadashi?” tanya Cleanne seolah tak percaya pada semua yang terjadi dan berusaha memastikan apa yang barusan ia dengar.
“tentu saja. Sebagai pacar yang baik kan memang harus begitu.” Ucap Tadashi dengan santai sambil membenarkan posisi dasi seragam sekolahnya.
Hana cukup terkejut dan terdiam sesaat mendengar hal tersebut. Matanya menatap wajah Tadashi dengan seksama. “jadi dia pacar Shana.” Ucapnya dalam hati. Hana pun menyadari kalau Tadashi ternyata baik juga. Shana pasti sangat beruntung, begitulah pikirnya.
*************
“Gimana sekolahmu hari ini, Hana?”
“baik. Semua berjalan seperti biasa.” Ucap Shana singkat dan hanya menoleh pada Sojiro sedikit. Tidak tahu harus mengatakan apa lagi, Shana tanpa sadar seperti merasa gugup. Ini tidak seperti Shana yang mengalaminya sendiri. Bagaimana mungkin ia malah gugup. “e….pernyataan kakak minggu lalu masih berlaku, kan?” tanya Shana akhirnya memecah keheningan.
__ADS_1
Sojiro terlihat terkejut mendengar pertanyaan Shana. Ia pun menoleh sesekali ke arah Shana untuk memastikan apa yang baru saja ia dengar. “masih dong. Kamu mau jawab sekarang?” ucap Sojiro sambil tersenyum menggoda Shana. Matanya hanya sesekali melirik ke arah Shana tanpa mengurangi konsentrasi mengemudinya.
“iya.” Ucap Shana singkat tapi masih tetap menundukkan kepalanya. Meskipun saat ini ia hanya melakukan peran sebagai Hana, tapi terasa seolah Shana yang sedang ditembak. Detak jantung Shana berdegup cukup kencang. Sepertinya ia terlalu menghayati perannya sebagai Hana. “aku…aku…aku…mau jadi pacar kakak.” Ucap Shana sambil sedikit memejamkan matanya.
“benarkah itu, Hana?” tanya Sojiro yang tak kalah terkejut. Ia pun segera menghentikan mobilnya ke tepi jalan. Menoleh ke arah Shana yang saat ini masih gugup tak percaya dengan apa yang terjadi. Bahkan saat ini Sojiro sedang menatap Shana dengan tajam. Seolah hanya ingin memastikan kalau ini bukan mimpi.
“iya. Sejak kakak mengutarakan perasaan padaku, pikiranku cuma tertuju pada kakak. Hingga akhirnya aku menyukai kakak.” Ucap Shana pelan-pelan namun tetap menunduk.
“yeeesssssss…..aku seneng banget!!! Thanks ya, Hana!!! “
Shana menghembuskan nafas lega. Ini hanya sekedar acting menggantikan Hana, kenapa jantungnya ikut berdegup kencang? Maaf ya, Hana. Tapi ini demi kelangsungan hidupku selama menggantikanmu. Semoga Han6a gak marah dengan semua ini, omel Shana dalam hatinya. Kemudian ia tersenyum manis pada Sojiro.
__ADS_1