Queen VS Princess

Queen VS Princess
Pengorbanan yang sia-sia


__ADS_3

“kau yakin pulang sendiri? Wajahmu pucat.”


“tak apa. aku bisa sendiri.”


“apa perlu aku minta tolong kak Sojiro untuk mengantarmu?” tanya Mia.


Sampai detik ini, Mia memang belum mengetahui tentang putusnya Hana dan Sojiro. Bahkan Hana sendiri tak tahu harus mulai menjelaskan darimana.


“tak perlu. Kak Sojiro pasti masih pelajaran. Dia kan sudah kelas 3. Mana mungkin aku mengganggunya dengan hal sepele seperti ini.” Jawab Hana yang masih berusaha menutupi kenyataan yang sebenarnya.


“ya sudah. Kamu hati-hati ya, Hana.”


“maaf ya, Mia. Aku merepotkanmu.”


“tak masalah. Cepat sembuh ya.”


Entah semua ini bermula darimana. Tapi kepala Hana serasa ingin pecah. Mungkin karena hari ini ia memaksakan diri untuk tetap masuk sekolah. Setelah semua kejadian kemarin, ia masih cukup syok dan tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa. Bahkan kejadian sejak 3 hari kemarin masih berputar di kepalanya.


Sampai sekarang Hana bahkan belum menanyakan seperti apa perasaan Leo, bagaimana pendapat Ayah dan Ibunya tentang semua ini. Mungkinkah masih ada harapan untuk perasaannya yang kacau balau ini? Hana meninggalkan sekolah saat jam istirahat dimulai. Mia sangat khawatir dengan keadaan Hana. Ia segera berlari menuju kelas Sojiro. Tanpa pikir panjang ia menemukan Sojiro sedang bersama temannya mengobrol santai saat jam istirahat.


“Mia? Ada apa?” sapa Sojiro setelah melihat Mia terengah-engah mengatur nafasnya.


“Hana……” ucap Mia terbata-bata karena mengatur nafasnya.


“ada apa? Hana kenapa?” Sojiro langsung pucat. Raut wajah khawatir muncul seketika.


“dia tadi sakit. Sekarang pulang sendirian. Aku khawatir kak. Tadi aku mau minta tolong kakak untuk mengantarnya tapi Hana menolak. Katanya dia tidak ingin merepotkanmu.”


Sojiro mengepalkan telapak tangannya. Terlihat ia berfikir sejenak kemudian langsung bergegas meninggalkan Mia. Tak bisa dipungkiri jika dalam lubuk hati Sojiro masih sangat menyayangi dan peduli pada Hana. Meskipun setelah semua hal itu terjadi. ia segera berlari menyusul Hana. Berharap ia masih bisa mengejarnya.


Entah siapa yang lebih bodoh dalam hal ini. Setelah semua ini Hana masih memikirkan perasaan Sojiro. Hal itu membuat Sojiro tak bisa membiarkannya begitu saja. Akan jauh lebih baik jika Hana bersikap jahat setelah apa yang sudah dilakukan Sojiro di taman malam itu. Pasti akan jauh lebih mudah bagi Sojiro untuk segera melupakan Hana. Namun, mungkin masih ada sedikit kesempatan bagi Sojiro untuk memenangkan perjudian ini. Bukan hal yang tak mungkin jika selama beberapa bulan ini ia berhasil menyembuhkan hati Hana dan membuatnya berpaling. Malam itu, Hana hanya menangis mendengarkan kata-kata kejam Sojiro. Tak ada yang tahu seperti apa perasaan Hana. “masih ada kesempatan !!” ucap Sojiro dalam hati. Ia bahkan lupa tentang mobilnya dan berlari mengejar Hana.

__ADS_1


Sedikit lagi. Nafas Sojiro mulai memburu. Padahal ia juga rajin olahraga, tapi tetap saja fisiknya tidak sekuat kelihatannya. Dari kejauhan terlihat Hana yang berjalan sedikit linglung. Hana sendiri sudah sampai di depan rumahnya. Sojiro menambah kecepatannya dengan sedikit sisa tenaganya. Berharap masih bisa memperbaiki kesalahannya kemarin. Pikirannya kemarin benar-benar dipenuhi rasa cemburu pada Leo.


Hana membuka pintu rumahnya dan terkejut melihat Leo juga membuka pintu bersamaan. Namun, ia lebih terkejut lagi melihat 2 koper dan beberapa kardus yang hendak dibawa Leo. Bahunya bergetar. Mencoba menahan tubuhnya agar tidak roboh. Hana mencoba membuka mulutnya.


“apa ini? Kak Leo mau kemana?” tanya Hana dengan sedikit terbata-bata. Matanya tak sanggup menatap Leo dan hanya melihat ke arah koper.


“kenapa kau sudah pulang? Bukankah pulang sore.” Ucap Leo tak kalah terkejutnya. Ia bermaksud pergi tanpa sepengetahuan Hana. Tapi malah kepergok seperti ini.


“apa kau mau pergi? Kenapa?”tanya Hana yang mulai menangkap reaksi aneh dari Leo.


Leo hanya diam tak bicara apapun. Ia menatap Hana dengan tajam dan tersenyum. Hana pun akhirnya berani menatap mata Leo setelah beberapa hari selalu menghindari kontak mata. Sojiro akhirnya sampai di depan rumah Hana. Melihat kejadian ini, Sojiro hanya bisa bersembunyi dibalik tembok. Menunggu saat yang tepat untuk keluar.


“Hana, maafkan aku sudah membuat masalah untukmu. Aku tahu ini sangat berat untukmu. Masalah satu belum selesai, kau harus menerima masalah lain. Aku minta maaf atas kebodohanku.”


Mata Hana masih tak beranjak dari mata Leo. Berusaha menebak apa yang akan dikatakan Leo. Apakah sama antara mulut dan matanya. Sesaat Hana lupa tentang sakitnya.


“sebenarnya aku sudah merencanakan ini sejak lama. Aku tak mungkin tinggal terus menerus bersamamu. Itu hanya akan menghambat proses melupakanmu. Saat itu aku tak bermaksud mengatakan perasaanku sampai kapanpun. Sama seperti saat ini, aku tak bermaksud mengatakan apapun tentang kepindahanku. Bahkan aku tak berniat untuk berpamitan padamu.”


“tak bisakah kau tetap disini? Ibu akan khawatir.” Ucap Hana berusaha menahan kepergian Leo. Air matanya nyaris pecah.


Sojiro masih tetap mendengarkan percakapan mereka dari luar. Tangannya mengepal. Giginya bergemertak.


“aku sudah bilang pada Ibu. Jika aku tetap disini, aku tak bisa menjamin tak akan terjadi apa-apa nantinya. Aku bisa saja lebih menyakitimu.”


Air mata Hana pecah. Tak sanggup lagi ia menahannya. Apa yang harus ia lakukan? Apa yang ia inginkan? Harus diselesaikan. Semua ini harus diselesaikan.


“aku mencintaimu.”


Kepalan tangan Sojiro semakin erat. Pandangannya mulai kabur. Haruskah ia meninggalkan tempat itu dan kembali ke sekolah? Semua sudah berakhir. Tak ada lagi harapan untuknya. Tapi mengapa kakinya tak ingin bergerak?


“aku tahu. Aku juga mencintaimu. Tapi ini tak mungkin diteruskan. Hubungan kita telah menyakiti banyak pihak. Kita tak mungkin bersama.”

__ADS_1


Ini bohong. Lalu kenapa? Kenapa semua ini harus terjadi jika pada akhirnya tak menghasilkan apapun? Bagai menggarami lautan. Ini sia-sia.


“kenapa kau menyalahkanku atas perbuatan yang kau perbuat sendiri? Kau yang memulai semua ini. Kau yang memberitahu Kak Kumika tentang perasaanmu, kau juga yang mengatakan pada Ayah dan Ibu tentang masa lalu kita, kau sendiri yang mengatakan pada Sojiro tentang apa yang selama ini kau rasakan padaku, kau yang telah menyakiti mereka, tapi kenapa seolah kau menyeretku dan bersikap seolah ini kesalahan kita?”


“aku…….”


Tak sanggup lagi. Tak sanggup lagi Hana membendung segalanya. Meledaklah !! Keluarkan semua yang ingin dikatakan !!


“bukankah cukup jika hanya aku saja yang tahu? Jika pada akhirnya tak ada diantara kita yang bisa kita perjuangkan, lalu untuk apa kau menyakiti banyak pihak?!”


Leo terdiam. Kata-kata Hana membuatnya tersadar jika selama ini ia hanya memikirkan perasaannya sendiri. Ia menyakiti orang lain hanya demi agar orang lain tahu betapa tersakitinya dia. Betapa kekanakannya. Tanpa disadari, Leo justru menyakiti orang yang ingin ia lindungi.


“kau hanya memindahkan bebanmu padaku. Seolah kau memberiku masalah, lalu kau meninggalkanku dengan setumpuk masalah yang kau timbulkan. Aku hampir menyerah tentangmu. Aku bahkan hampir mencintai Sojiro. Seandainya, kau tak memberitahu Sojiro, mungkin aku bisa mencintainya. Kau seperti memberi harapan terhadap rasa cinta yang kupendam selama ini, namun akhirnya yang kau berikan hanya sekedar harapan busuk.”


Sojiro masih di tempat. Rasa marahnya sudah menyelubungi seluruh tubuhnya. Seolah ingin menghancurkan Leo saat itu juga. Sojiro rela putus dari Hana dengan harapan agar Hana bisa bahagia dengan Leo. Namun, apa yang ia dengar membuat semua yang ia lakukan kemarin sia-sia. Kini Sojiro seolah telah menambah hancurnya hati Hana.


“pergi kau dari sini !!! ini rumahku dan Ayahku !! aku berhak mengusirmu dari sini !!!”


“Hana, aku minta maaf. Aku tak memikirkan perasaanmu atau apa yang terjadi sampai sejauh ini. Aku minta maaf. Aku mencintaimu, Hana !!” ucap Leo sambil mulai mengemis maaf.


“aku tak ingin melihatmu lagi !!!” ucap Hana sambil membanting pintu rumah.


Leo terdiam. Tak menyangka jika Hana bisa semarah itu padanya. Ini pantas ia terima. Semua sudah terlanjur terjadi. minta maaf tak bisa mengembalikan segala yang telah diperbuat Leo. Hana benar. Seandainya ia hanya jujur pada Hana, ia tak perlu menyakiti banyak pihak seperti ini. Jika memang diperlukan, sudah seharusnya Hana dan Leo bersama untuk melewati masalah ini. Tapi, ia sudah salah langkah. Langkah kaki Leo beranjak pergi dari rumah itu. Sudah sepantasnya dia menerima semua ini. Kata-kata Hana terus bergema dalam hatinya. Penyesalan pun tak berarti apapun saat ini. Lamunannya terhenti saat sadar Sojiro berada dibalik tembok depan rumah.


“kau…..sejak kapan ada disini?” tanya Leo terkejut melihat Sojiro berdiam diri dan menunduk.


“malam itu…. Malam itu aku yakin Hana menangis sepanjang malam. Aku ingin Hana bahagia dengan orang yang benar-benar ia cintai. Meskipun aku rela terluka. Tapi setelah tahu semua ini, betapa aku menyesal telah menyakiti Hana dan membiarkannya hancur di tanganmu. Kau yang terburuk. Bahkan jika sekarang aku memukulmu, itu hanya akan menodai tanganku.”


“saat ini aku tak butuh makianmu. Aku sudah cukup pusing dengan masalahku.”


“kau pantas mendapatkannya. Akan lebih membahagiakan lagi jika Hana menamparmu.” Ucap Sojiro sambil pergi meninggalkan Leo yang masih terdiam dengan segala pikiran bodohnya. Nasi telah menjadi bubur. Bubur yang basi.

__ADS_1


__ADS_2