Queen VS Princess

Queen VS Princess
Pemakaman


__ADS_3

“baiklah. Jika dia pulang nanti, kita akan memberitahunya. Ayah langsung ke pemakaman Shana setelah pulang kerja.”


Raut wajah mereka tiba-tba menjadi pucat saat pintu rumah terbuka. Hana dan Leo pulang dari kuliah.


“oh, ada tamu ya.” Ucap Hana saat sampai di ruang tamu dan berusaha menyapa Cleanne, Misaki, Tadashi dan Rhena.


Mereka berempat hanya terdiam dan agak menunduk. Ini pertama kalinya mereka bertemu Hana setelah 2 tahun kecelakaan itu berlangsung. Hati Tadashi serasa tersayat saat ditatap oleh Hana. Seolah Shana sedang menatapnya. Leo sedang memberi kode pada Misaki tentang apa yang sedang terjadi. mereka seperti melakukan Bahasa isyarat.


“kemarilah sayang. Ada yang ingin Ibu sampaikan padamu. Apa kau ingat mereka?” tanya Ibu memulai pembicaraan yang terasa bagi Hana sangat menegangkan.

__ADS_1


Hana menatap wajah masing-masing untuk mencoba mengingat sesuatu. Nihil. Tak satupun ingatan muncul dalam pikirannya. Selama ini Hana cenderung tak mau memaksa untuk mengingat. Entah mengapa. Baginya mengingat hal yang tak bisa diingat adalah hal yang sangat membuang waktu. Hana hanya menggelengkan kepala tanda ia tak mengingat apapun.


“baiklah. Dua tahun yang lalu, saat kamu pertama kali sadar berada di rumah sakit, sebenarnya kamu mengalami kecelakaan yang cukup parah. Mereka semua adalah teman-teman yang selalu ada saat kamu di rumah sakit. Namun, ada 1 orang lagi yang saat ini sedang berada di tempat yang sangat jauh. Kami berencana untuk menemui ‘orang itu’ setelah ini. Ibu minta kamu ikut dengan kami.”


“tapi aku sama sekali tak mengenal mereka, Ibu.” Ucap Hana berusaha menolak .


Akhirnya Hana tetap ikut. Mereka naik mobil yang dibawakan Tadashi. suasana dalam mobil benar-benar terasa sangat canggung. Hana duduk di samping Ibu dan Leo. Rhena duduk di depan menemani Tadashi yang sedang mengemudi. Cleanne dan Misaki berada di kursi paling belakang. Perjalanan panjang yang bahkan tak diketahui oleh Hana sedikitpun.


Mobil bergerak masuk menuju sebuah rumah kecil dan mungil yang terlihat bersih namun kosong tak berpenghuni. Pemandangan di halaman luar terasa begitu hijau. Rumah siapa ini? Mobil pun masuk seperti sudah menjadi rumah milik pribadi. Mobil berhenti di depan rumah kecil itu. Ada seorang pria separuh baya yang datang menemui dan berbicara sejenak dengan Tadashi, namun kemudian seperti mempersilakan untuk masuk.

__ADS_1


Kesan pertama yang ditemukan saat memasuki rumah kecil itu adalah bau dupa. Terasa seperti dupa pemakaman. Rumah apa ini? Bau dupa yang menyengat dan memenuhi seluruh ruangan. Tak seorangpun memulai pembicaraan di dalam rumah yang kini berubah menjadi kesan angker.


“nah, semuanya. Selamat datang di rumah yang kusediakan khusus untuk orang-orang yang berharga bagiku yang telah meninggal lebih dulu.” Ucap Tadashi akhirnya membuka percakapan setelah beberapa menit membisu.


“kenapa….kita kesini?” tanya Hana mulai merasa tak nyaman dengan suasana dan bau dupa yang menyengat.


Tadashi terdiam sejenak. Kemudian melanjutkan bicaranya kembali, “kemarilah. Akan kutunjukkan sesuatu.”


Hana mengikuti Tadashi perlahan. Bau dupa itu terus saja menyengat di hidungnya. Tadashi mengajak Hana memasuki sebuah kamar yang masih gelap. Saat lampu dinyalakan, mata Hana terkejut menatap satu tempat dimana terdapat foto wajahnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2