
Sojiro melihat Shana dengan wajah khawatir. Sejak tadi Shana hanya diam tak bicara. Perjalanan menuju rumahnya memang sedikit lagi sampai. Tapi tak ada satupun percakapan membuat Sojiro merasa tidak nyaman.
“apa kau sakit, Hana? kau memikirkan apa?” tanya Sojiro tetap dalam kondisi mengemudi.
“aku baik-baik saja. Hanya kurang tidur.” Jawab Shana singkat. “Tak usah khawatir.”
“kalau kamu seperti itu, aku justru malah khawatir.”
Mobil yang ditumpangi Shana dan Sojiro sudah berhenti di depan rumah Hana. Tanpa menjawab apapun, Shana langsung keluar dari mobil. Sojiro yang melihat hal itu langsung keluar menyusul Shana. tangannya berusaha meraih tangan Shana.
“kau marah padaku?” tanya Sojiro pada Shana saat menggapai tangannya.
Mata Shana terbelalak. Tak menyangka Sojiro akan bertindak sejauh ini hanya karena ia bersikap sedikit cuek.
“aku minta maaf. Tapi sungguh ini tak apa. aku tak marah padamu.” Jawab Shana berusaha menenangkan Sojiro.
Pintu rumah Hana terbuka. Terlihat seorang wanita bertubuh tinggi dan cantik. “Siapa?” ucap Shana dalam hatinya. Ia belum pernah melihat wanita cantik itu. Tapi, wanita itu terlihat menangis. Apa yang sudah terjadi? Shana tak mengeluarkan kata-kata. Ia masih membaca situasi. Membiarkan wanita itu yang berkata lebih dulu.
PLAAKKKK….Sebuah tamparan keras melayang pada Shana.
“Ap-Apa?!!” Shana hanya menjerit dalam hatinya. Tak sanggup berkata apapun. Ia terlalu terkejut dengan semua ini. Hanya merasakan panas di pipinya.
“Apa yang kau lakukan pada Hana?” ucap Sojiro berusaha melindungi Shana.
__ADS_1
“Apa? Seharusnya itu pertanyaanku.” Ucap Kumika sambil menahan air matanya. “apa yang sudah kau lakukan padaku, Hana? Kupikir selama ini kau berada di pihakku.”
“Apa maksudmu?” ucap Shana akhirnya buka suara.
“aku memang tahu sejak awal kalau Leo menyukaimu dan dia terpaksa menerima perasaanku. Tapi bukankah kau merestui hubungan kami? Bukankah kau mendukungku? Tapi apa? Kenapa?” Kumika tak sanggup lagi menahan tangisnya. Matanya memerah. Penuh rasa kecewa. Perasaan marah. Ia tulus menyukai Leo.
“aku…Aku tak mengerti maksudmu?” jawab Shana masih memegang pipinya yang sakit.
“kak Leo menyukai Hana?” tanya Sojiro memperjelas apa yang ia dengar.
“ya… kau sama sekali tak tahu, kan? Atau mungkin kau juga hanya sebagai pelarian atas perasaan tak tersampaikan yang dirasakan Hana pada Leo.” Ucap Kumika dengan wajah sinis.
PLAAAAKKKKK
Kali ini Shana yang menampar wajah Kumika. Apa yang diucapkan Kumika memang tak sepenuhnya salah. Kemarahan muncul di wajah Shana.
“memangnya kenapa? Ini rumahku dan kau membuat keributan disini. Kau pikir aku takut padamu hanya karena kamu lebih tua dariku?!”
“kau…. Aku tak akan memaafkanmu.”
Kumika berusaha menampar Shana lagi namun berhasil dicegah oleh Sojiro. Ia segera menempatkan dirinya di depan Shana. melindunginya. Leo datang dan memisahkan mereka.
“apa ini? Kumika aku minta kamu pulang sekarang.” Ucap Leo segera menghentikan sebelum ada pertumpahan darah. “kita sudah tak ada yang perlu dibicarakan.”
__ADS_1
Air mata Kumika kembali tumpah. Namun, baginya perintah Leo adalah mutlak. Ia menyeka air matanya kemudian pergi meninggalkan mereka yang masih saling terdiam.
“kau tidak apa-apa, Hana?” tanya Leo pada Shana yang bersembunyi di balik tubuh Sojiro.
“jangan sentuh dia !!” Sojiro menepis tangan Leo dari Shana.
Kata-kata Kumika terngiang hebat di kepala Sojiro. Leo menyukai Hana. Sojiro hanya tahu kalau mereka hanyalah saudara tiri. Tapi tak menyangka hal itu terjadi.
“apa hakmu melarangku?” balas Leo.
“aku pacarnya. Benarkah kau menyukai Hana?”
Leo melempar pandangannya. Shana masih tertunduk tak sanggup berfikir. Ini masalah bukanlah urusannya. Tapi saat ini ia berada di posisi ini. Jika salah melangkah, Hana akan mendapat masalah yang jauh lebih parah.
“terima kasih, Sojiro. Kau bisa pulang sekarang. Aku baik-baik saja.” Ucap Shana langsung berjalan masuk ke rumah. Tangan Leo segera menggapai tangan Shana. namun, ditepis olehnya. “jangan ganggu aku dulu.”
Leo terpaku melihat reaksi Shana. tanpa ragu Shana berjalan melewati Leo. Ia perlu waktu berfikir. Mungkin sebaiknya biarkan Hana yang memutuskan.
Sojiro menatap Leo dengan tajam.
“apa?! Kau mau apa lagi?!” tanya Leo sambil menatap Sojiro kesal.
“aku tak menyangka jika sainganku adalah kakak tirinya sendiri. Aku takkan menyerahkan Hana padamu.” Ucap Sojiro menegaskan keadaan genting ini.
__ADS_1
“kita lihat saja. Hanya Hana yang bisa menentukan.” Ucap Leo sambil masuk ke rumah dan menutup pintu.
“siaaalll…” teriak Sojiro sambil memukul pintu rumah.