
Hana membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah sebuah pemandangan kamar yang mewah dan besar tertata sangat rapih dan bersih. Ini kamar Shana. Hana sedikit memutar ingatannya kembali. Mencoba mengingat kejadian kemarin. Ingatannya terhenti saat terdengar suara pintu diketuk. Ia pun berlari secepatnya membuka pintu kamar itu. Dihadapannya berdiri Ayah yang sudah sangat rapih. Sosok wajah separuh baya yang sangat ia kenal. Betapa Hana sangat menyayangi Ayah selama ini. Karena hanya beliau yang telah merawatnya dari kecil sampai saat ini.
“apa Ayah boleh masuk?” tanya Ayah
“iya.”
Hana akhirnya teringat kejadian kemarin. Hal apa yang membuat Ayah saat ini berada di rumah Shana. Kini Hana yakin bahwa akan ada suatu hal besar menanti di depan matanya.
“Ayah melihat Shana di bawah. Kalian sangat mirip sampai Ayah kira itu kamu.”
Hana hanya tersenyum. Kenapa Shana tidak ikut tidur di kamar? Ini kan kamarnya.
“Hana, apapun yang terjadi, kamu tetap anak Ayah kan? Kamu tak akan meninggalkan Ayah, kan?”
Hana tersenyum lebar. “walaupun dunia berakhir sekalipun, tidak akan pernah merubah sedikitpun kenyataan kalau Ayah adalah Ayah terbaik di dalam hidupku.”
Ayah memeluk Hana dengan erat. Air mata Ayah seolah ingin menetes. Di saat adegan mengharukan itu berlangsung, Shana membuka pintu kamar dan melihat Ayah dan Hana sedang berpelukan erat. Tanpa pikir panjang, Shana langsung membalikkan badan dan menutup pintu kembali. Namun sepertinya Hana menyadari kedatangan Shana dan memanggilnya.
“Shana, tunggu !!!” teriak Hana sambil melepas pelukan Ayah.
__ADS_1
Shana menghentikan langkahnya. Ia segera membalikkan badan dan masuk ke kamar. “maaf aku mengganggu. 10 menit lagi kita akan berkumpul di ruang tengah.”
Hana mengangguk, mengiyakan perkataan Shana.
“Shana, kemarilah. Ayahku ingin memelukmu.” Ucap Hana sambil tersenyum sedikit jahil. Ia melirik pada Ayah dan memberinya kode.
Ayah langsung salah tingkah dengan perkataan Hana yang tiba-tiba itu. Shana melangkahkan kakinya tanpa pikir panjang. Ia langsung mendekati Ayah.
“bolehkah?” Ayah bertanya pada Shana dengan hati-hati. Takut sedikit menyinggung.
Shana hanya mengangguk dan langsung memeluk Ayah dengan erat. Pemandangan yang sangat menyejukkan hati. Seolah telah melelehkan sebongkah hati yang dilapisi es. Hana tersenyum bahagia melihat hal itu.
Peristiwa singkat tadi seolah harus dihentikan sementara. Hana, Shana, dan Ayah bergegas turun untuk berkumpul di ruang tengah. Terlihat disana sudah ada Mama dan Rhena. Mereka berdua hanya saling diam. Meskipun duduk berhadapan, tak ada satu katapun yang keluar dari bibir Rhena. Keheningan tersebut lenyap seketika saat Hana, Shana dan Ayah datang menghampiri mereka. Mama terlihat sangat terkejut saat melihat Hana dan Shana berdiri bersebelahan. Tak kalah terkejut pula saat bertemu Ayah. Namun, pandangan terkejut itu seolah membaur dengan rasa rindu yang tertahan.
Ini bukan pertama kali bagi Hana bertemu dengan Mama Shana. meskipun hanya sekali, Hana tidak tahu harus menunjukkan ekspresi seperti apa saat ini. Ia hanya mengangguk pelan.
“lama tak bertemu, Shiki. Kau terlihat sehat.” Ucap Mama
“kau masih saja seperti dulu.” Balas Ayah dengan nada suara yang datar.
__ADS_1
“baiklah. Pertanyaan pertama yang akan aku ajukan adalah…..ada hubungan apa diantara kalian?” ucap Rhena memulai pembicaraan. Tak ingin menunda terlalu lama masalah ini.
Semua hening. Tak satupun mengeluarkan kata-kata mereka.
“sebelumnya saya minta maaf. Tapi bisakah hal ini kita tunda sejenak? Istri dan anak laki-lakiku sedang dalam perjalanan kesini. Mereka juga perlu tahu tentang hal ini.” Ucap Ayah memotong kesunyian diantara mereka. Tangan Ayah hanya menggenggam erat tangan Hana.
“baiklah aku mengerti. Kita tunggu sampai mereka tiba disini.”
Ketegangan diantara mereka semua tak menghilang walau sehelai pun. Pintu utama tiba-tiba terbuka dan seketika Cleanne dan Tadashi masuk ke rumah begitu saja.
“Shanaaaaaa….. Tadashi mengajakmu kencaaannnnn !!!!!!!” teriak Cleanne sambil menyeret Tadashi masuk ke rumah.
Shana menepuk jidatnya. Ia merasa malu punya sahabat gila seperti Cleanne. Tidak biasanya Cleanne datang tanpa memberitahu Shana terlebih dahulu. merasa kikuk dan canggung seolah salah kostum di acara meeting penting, Cleanne hanya bisa nyengir tanpa dosa. Tadashi berusaha melepaskan genggaman tangannya dari Cleanne.
“ehh…ehh….hai semua…. Kenapa semua berkumpul disini? Eh, ada tante juga. Selamat pagi, tante.” Ucap Cleanne berusaha menutupi rasa malunya.
“selamat Pagi, Cleanne, Tadashi. sepertinya kalian ada perlu dengan Shana.” ucap Mama pada Cleanne.
“ohh…bukan hal yang penting kok. Silakan dilanjutkan saja acara keluarganya.” Ucap Cleanne tetap sopan. Tiba-tiba matanya tertuju pada Hana yang berdiri di belakang sofa. “waahhhh…kok Hana ada disini? Bagaimana mungkin?”
__ADS_1
“bagaimana kalian mengenal Hana?” ucap Rhena dan Mama bersamaan. Baru kali ini mereka terlihat kompak.
Shana menepuk jidatnya lagi. Sedangkan Hana hanya menunduk. Hal yang niatnya ingin mereka rahasiakan sementara tapi sepertinya tidak akan mungkin terjadi. masalah satu belum terungkap. Kini harus mengungkap masalah lain.