Queen VS Princess

Queen VS Princess
Keluarga idaman


__ADS_3

Situasi kembali normal. Kehidupan sekolah Hana kembali seperti semula. Tak perlu lagi menyamar atau bertukar posisi. Tak ada lagi masalah karena penyamaran. Masa-masa kelas 2 SMA akan segera berakhir. Banyak hal sudah terjadi. banyak pelajaran pula yang dapat diambil sisi baiknya. Shana masih tinggal di rumah besarnya. Walaupun sesekali ia mampir untuk menginap di rumah Hana.


Malam ini, Ayah pulang dari Hongkong. Rencananya Shana akan menginap untuk bertemu Ayah. Selain itu, hari ini Rhena menyusul Mama ke Inggris. Tanpa Shana tentunya. Hubungan antara Hana dan Leo juga jauh lebih baik sekarang. Ayah dan Mama tak mempermasalahkan hubungan yang lebih dari sekedar kakak-adik. Asalkan dengan satu syarat. Leo harus meninggalkan rumah, karena tak mungkin membiarkan mereka dalam satu atap.


“apa Rhena sudah berangkat ke Inggris?” tanya Ibu pada Shana. pagi-pagi sekali ia sudah sampai di rumah Hana.


“sudah. Dini hari tadi.” Jawab Shana santai.


“kau mau Ibu siapkan kamar sendiri atau mau satu kamar dengan Hana? Kau akan menginap mulai hari ini, kan?”


“satu kamar dengan Hana saja, Ibu. Tak perlu repot-repot.”


“hari ini Ayah pulang. Leo juga akan pulang. Bagaimana kalau kita pergi bersama ke suatu tempat? Mungkin untuk makan malam?”


Shana tersenyum gembira. “aku mau, Ibu. Aku punya rekomendasi tempat makan keluarga yang keren banget. Pasti kalian suka.”


“bagus. Kau atur saja ya. Oh iya…bagaimana kalau kau ajak Tadashi juga?”

__ADS_1


Shana terkejut. Ia pun sejenak terdiam.


“bukankah….ini makan malam keluarga? Kenapa harus mengajak Tadashi?”


“Tadashi kan pacarmu. Dia sudah Ibu anggap seperti keluarga sendiri. Tapi kalau kamu tidak mau, Ibu tak memaksa.”


“aku telepon Tadashi, Bu.” Teriak Shana langsung meraih ponsel dan menghubungi pacar tercintanya.


Ibu tersenyum melihat ekspresi Shana yang bahagia.


“kenapa, Bu?” tanya Hana baru selesai mandi. Ia melihat Ibunya tersenyum sendiri.


Malam itu, mereka sekeluarga pergi untuk makan malam di suatu tempat yang telah disiapkan Shana. Tempat yang indah dan sedikit nuansa romantis. Banyak lampu bergantungan di kedua sisi jalan setapak menuju area restoran. Mata Shana tertuju pada sebuah meja yang sudah ia pesan. Kehangatan dan kebersamaan mereka sangat terlihat.


“jadi… setelah sekolah kamu langsung ke rumah sakit untuk mengontrol situasi disana? Tadi kamu juga ke rumah sakit dulu sebelum kemari?” tanya Ayah memulai pembicaraan dengan menginterogasi Tadashi.


“iya, Om. Papa menyerahkan segala urusan rumah sakit di Jepang padaku. Karena urusan bisnis Papa masih banyak.” Jawab Tadashi dengan penuh sopan.

__ADS_1


“masih muda tapi bisa menjalankan bisnis rumah sakit sampai sebesar itu. Kamu anak muda yang punya semangat dan daya juang yang tinggi. Pertahankan itu.”


“terima kasih, Om. Itu semua berkat seluruh karyawan rumah sakit yang sudah berusaha yang terbaik untuk kemajuan.”


“tapi ingat…meskipun kamu sudah mapan dan punya bisnis sukses, Ayah belum mengizinkan kamu melamar Shana. Dia masih harus kuliah dan mengembangkan karirnya sebelum menikah.” Ucap Ayah dengan mantap sambil menyantap pesanannya.


Shana terkejut dan segera membantah, “Ayah apaan sih?”


Hana dan Leo berusaha menahan tawanya.


“kamu juga Leo. Jika kamu belum kerja dan sukses, jangan harap kamu Ayah bolehkan untuk melamar Hana. Jangan ketawa kamu !!!” ucap Ayah sambil menodongkan sendok ke arah Leo.


“iya, Ayah. Aku mengerti.” Jawab Leo singkat dan menghentikan tawanya.


“tenang saja, Om. Saya akan menunggu sampai Shana siap dengan sendirinya. Walaupun harus menunggu lama sekalipun.” Ucap Tadashi dengan tegas dan seperti tanpa ada keraguan sedikitpun.


“waaahhh…. Tadashi gagah sekali. Pasti Shana bahagia punya pacar yang gagah dan dewasa seperti Tadashi ini. Sudahlah Ayah. Jangan terlalu mengkhawatirkan mereka. Nanti malah mereka kabur semua. Percaya saja pada mereka.” Ucap Ibu berusaha menghentikan pembicaraan yang membuat ketegangan antara Tadashi dan Leo.

__ADS_1


Mereka tertawa dalam kehangatan masing-masing. Sungguh kebahagiaan yang tak pernah bisa digantikan oleh apapun. Masalah demi masalah telah mereka lewati. Kesedihan demi kesedihan perlahan telah lenyap. Meskipun harus menyakiti banyak pihak, kebahagiaan ini adalah pencapaian yang tidak sia-sia. Meskipun harus melalui jalan memutar dan berliku, takdir tetap akan mempertemukan sesuatu yang telah terpisah. Asalkan masih menyimpan suatu ikatan, suatu saat pasti dipertemukan kembali.


__ADS_2