Queen VS Princess

Queen VS Princess
Persimpangan hati


__ADS_3

“tadi bener-bener keren deh. Sumpah.” Ucap Misaki sambil menelan bekal makanan yang dibawakan Cleanne untuknya.


“harus kuakui rencana kalian kali ini tanpa kekerasan sedikitpun. Tak seperti biasanya.” Tambah Tadashi yang langsung menyeruput juice yang ia pesan.


“siapa dulu donk, Shana gitu loh. Iya kan, Sha?” sahut Cleanne pada Shana. Tapi sepertinya Shana tak mendengar.


Pandangan mata Shana kosong. Nyawanya tak berada disini. Seolah sedang memikirkan sesuatu. Sampai-sampai ia tak mendengar perkataan Cleanne.


“Sha?” tanya Cleanne sambil memegang bahu Shana. Nyawanya kembali pada tubuhnya. Reaksinya seperti orang bingung. “ada apa, Sha?”


“enggak kok. Tadi apaan ya?”


“tenang, Sha. masa skorsingmu sudah berakhir. Besok kau bisa ke sekolah seperti biasanya. Jangan khawatir, Queen. Kau menang.” Ujar Misaki pada Shana yang seperti sedang memikirkan hal berat.


“iya kau benar. Tanpa kalian aku pasti masih diskors. Terima kasih, ya.” Ucap Shana sambil tersenyum dan menyantap spaghetti di hadapannya.


Spontan Misaki, Cleanne dan Tadashi terkejut sekaligus heran. Mereka sama sekali tak percaya pada apa yang sudah mereka lihat. Seorang Shana bisa mengucapkan ‘terima kasih’ sambil tersenyum. Bukankah itu suatu keajaiban? Apa perlu mereka rayakan? Mereka saling memberi kode yang mengisyaratkan rasa penasaran mereka pada apa yang sudah berubah dalam diri Shana. Mereka akhirnya menyerah memikirkan keanehan Shana dan melanjutkan makan siang.


************

__ADS_1


“Semua sudah beres, kok. Kamu tenang saja.” Ucap Shana di tengah perbincangan via telepon dengan Hana.


“syukurlah. Aku khawatir kamu bakalan diskors lama.” Ucap Hana dengan nada lega. Wajahnya berseri-seri bahagia lagi.


“Arisa memang seperti itu. Sudah dari dulu. Aku sendiri gak tau apa yang dia mau dariku.”


“kamu harus tetap hati-hati hlo, Sha. sepertinya dia sangat licik.”


“beres. Oiya… maaf ya soal Sojiro. Aku gak bisa naik roller blade kamu, dan saat itu ada Sojiro menawarkan tumpangan mobilnya. Kau tahu kan, Han…………”


“tak masalah. Aku tahu kok, Sha. kamu gak biasa naik bis atau jalan kaki kan?”


“makasih banyak ya, Sha. berkat bantuanmu, aku sedikit membaik sekarang.”


“oke. Udah dulu, ya.” Ucap Shana mengakhiri telepon mereka.


Sebenarnya dalam hati Hana masih ada rasa kecewa. Di satu sisi ia merasa rindu dengan rumah ini, ibu dan ayah, juga Leo. Tapi di sisi lain ia harus menghadapi perasaannya sendiri ketika bertemu Leo. Kak Leo dan kak Kumika apa kabar, ya?


“Hana? Kamu sibuk?” tanya Leo tiba-tiba membuka kamar Hana.

__ADS_1


“ehh.,,e.,,,enggak kak. Ada apa?” jawab Hana terkejut melihat Leo. Sepertinya ia sudah pulang kuliah.


“mau ikut aku gak?”


Leo mengajak Hana untuk pergi ke lantai atas rumah. Tempat itu biasa dipakai untuk menjemur pakaian. Hana sama sekali tak tahu kalau malam ini bintang bertaburan seindah ini. Langit malam kala itu serasa hanyut dalam taburan sejuta bintang. Begitu tenang begitu indah. Bahkan ia mungkin bisa melihat susunan rasi bintang yang terbentuk. Meskipun tanpa bulan, bintang tetap menyinari langit malam. Hana memejamkan matanya. Menghirup dalam-dalam angin malam yang berhembus.


“wwaaaaaaahhhhhhh……keren banget !!!!!” teriak Hana ketika ia melihat taburan bintang dari lantai atas rumahnya.


“apa kau suka?” tanya Leo sambil duduk di sebelah Hana.


“aku gak pernah tahu kalau pemandangan dari atas sini sangat indah.”


“aku selalu ingin membawa orang yang kusayang kesini. Melihat bintang dan bulan bersama seperti ini.” Ucap Leo sambil menatap barisan bintang di langit.


“pasti sudah terwujud. Kak Kumika pasti juga suka pemandangan ini kan?”


“…….iya…………….” ucap Leo menatap Hana tajam. Sorot matanya seakan menyiratkan suatu kerinduan dan rasa kesepian.


Hana menunduk. Ia sangat sadar dengan apa yang barusan ia katakan. Hana mencoba untuk kuat walaupun hatinya teriris.

__ADS_1


__ADS_2