
Mobil Limoushin milik Shana memasuki halaman rumah milik Shana. Hana menginjakkan kakinya keluar dari mobil diikuti oleh Cleanne yang sepertinya akan menginap di rumah Shana. Misi penyamaran Hana dan Shana pun masih berlanjut. Sudah hampir 1 minggu mereka berdua bertukar tempat. Semoga tidak ada hal yang tidak diinginkan selama penyamaran ini. Hana membuka pintu utama. Walaupun sudah hampir 1 minggu ia berada di rumah yang besar nan mewah itu, Hana masih saja terkagum-kagum melihat rumah Shana. Sebagian besar dindingnya dipenuhi dengan kaca yang langsung terpantul oleh pemandangan di halaman belakang. Kaca itu hanya bisa terlihat dari dalam, namun tak bisa terlihat dari luar. Sinar matahari pun hanya terserap sekitar 10% sisanya terserap dalam kaca ajaib yang memenuhi dinding rumah ini. Banyak foto-foto Shana dari kecil sampai saat ini tergantung di ruang keluarga. Foto keluarga dan foto kak Rhena pun juga menghiasi dinding ruangan itu. Satu hal yang kurang. Ruang keluarga yang besar itu sama sekali tak digunakan. Kedua orangtua Shana jarang pulang. Kalaupun pulang, itupun hanya 1-2 hari berada disana.
Langkah kaki Cleanne langsung menuju tangga. Sepertinya ia sudah cukup mengantuk. Tapi sepertinya langkahnya harus terhenti sejenak.
“hai kak Rhena. Apa kabar?” sapa Cleanne pada Rhena. Keluarga Shana dan keluarga Cleanne sudah saling mengenal cukup lama. Mungkin itu sebabnya Cleanne bisa dengan leluasa menginap di rumah Shana tanpa harus merasa sungkan.
“hai Cleanne. Baik nih. Mau nginep lagi ya?” jawab Rhena sambil tersenyum manis pada Cleanne. Hal itu sudah biasa bagi Rhena karena satu-satunya teman Shana yang diizinkan menginap hanya Cleanne.
“iya. Gak apa,kan kak?”
“silakan aja. Anggap rumah sendiri.” Rhena segera meninggalkan Cleanne dan Hana.
“boleh aku bertanya sesuatu?” Tanya Cleanne mencoba mendekatkan wajahnya ke wajah Hana. Tatapannya penuh pertanyaan. Mungkinkah dia tahu kalau gadis di depannya itu bukan Shana?
“apa?” Tanya Hana pelan dan ragu-ragu. Berusaha menepis semua prasangka buruk yang daritadi menghantuinya. Tenang…tetap tenang…. Pikir Hana dalam hati.
“akhir-akhir ini kamu jadi baik banget sama Tadashi. Ada apa? Kamu tertawa bareng, istirahat bareng, makan siang bareng. Kamu gak salah makan, kan?”
Hana merinding mendengar pertanyaan itu. Apa yang salah dengan itu semua? Bukankah Tadashi itu pacar Shana? Apa yang aneh? Apa ia sudah berbuat salah? Apa bakal ketahuan?
__ADS_1
“engga ada kok. Aku cuma biasa aja.” Jawab Hana berusaha tidak menatap mata Cleanne. Khawatir jika ketakutannya terlihat di wajahnya.
“kamu gak merencanakan ssesuatu kan?” sepertinya Cleanne masih berusaha mengorek informasi dari Hana.
“engga kok.” Jawab Hana santai, kemudian tersenyum manis pada Cleanne. “mau masuk kamar, gak?” ucap Hana tersenyum sambil membuka pintu kamar.
*******************
Shana hanya berdiam diri di kamar. Di depannya tergeletak beberapa buku pelajaran, namun semua itu hanya dilihat sekilas oleh Shana. Ia benar-benar tidak ada niat untuk belajar. Matanya beberapa kali tertuju pada beberapa hiasan kecil yang terletak diatas meja belajar. Pernak-pernik lucu & cenderung feminin yang mencerminkan pribadi Hana. Shana pun menoleh ketika terdengar pintu kamarnya diketok.
“masuk. Gak dikunci.” Jawab Shana tanpa menoleh pada pelaku yang mengetok pintu kamarnya. Matanya masih asyik memainkan aksesoris Hana.
“enggak, kak Leo. Ada apa?”
“gak ada apa-apa sih. Suntuk aja di kamar.” Jawab Leo asal sambil langsung nyelonong masuk dan duduk di kasur. Shana hanya memelototi kelakuan Leo. “kamu ngerjain PR?”
“enggak. Lagi males.” Jawab Shana asal. Kali ini ia berusaha memaklumi kelakuan Leo dan mencoba tidak judes, walaupun sebenarnya ingin sekali ia mencekik leher Leo yang asal masuk kamar orang.
“o iya. Tadi yang anter kamu pulang itu cowokmu ya?” Tanya Leo yang saat ini menyilangkan kedua kakinya diatas kasur. Hal itu semakin membuat Shana ingin menelan hidup-hidup manusia yang satu ini. “temen satu sekolah kamu?”
__ADS_1
“huum. Yah….lebih tepatnya kakak kelas sih.” Jawab Shana berusaha sabar dengan mengalihkan pandangannya ke arah pernak-pernik lucu milik Hana.
“berapa lama kalian pacaran? Apa kamu benar-benar menganggap dia berharga?” Tanya Leo. Kali ini matanya serius menatap Shana tanpa keraguan. Entah disadari Leo atau tidak, ekspresi wajahnya seperti menujukan kecemburuan.
“kenapa kau begitu penasaran?”
“aku…aku hanya ingin tahu seperti apa cowok yang kamu suka itu.”
“Mau seperti apa cowok yang aku sukai itu kan urusanku. Memang apa hubungannya denganmu? Dan berapa lama itu juga masalah pribadiku. Gak usah ikut campur, deh!!”
Kali ini Shana akhirnya meluapkan kekesalannya. Namun sebenarnya bukan hal itu saja yang membuatnya kemudian membentak Leo seperti itu.
“aku kan hanya ingin tahu saja.” Jawab Leo yang sepertinya merasa agak takut dengan gertakan Shana barusan.
“memangnya kamu siapa aku? Pacarku? Bukan, kan? Jadi buat apa ingin tahu?” teriak Shana yang mulai lepas kendali. Ia seperti melihat sebuah de javu. Shana hanya bisa menahan emosinya dengan mengepalkan telapak tangannya.
“aku…aku…” tanpa menyelesaikan kata-katanya, Leo pun keluar dari kamar meninggalkan Shana yang sedang dalam keadaan berusaha keras menahan emosinya.
Kedua kakinya seolah tak lagi mampu menyangga tubuhnya. Shana jatuh tersungkur. Air matanya mulai membasahi kedua pipinya. Ia pun kembali teringat masa lalunya. Masih teringat dengan jelas dalam ingatannya. Kejadian itu terjadi 3 tahun lalu, saat Hiroki masih hidup dan masih selalu disisi Shana. Pertengkaran antara Hiroki dan Shana tak bisa dihindari. Saat itu Shana sangat terpukul dengan sikap kedua orangtuanya yang jauh lebih memikirkan pekerjaan dibanding kedua anaknya. Saat itu Hiroki berusaha untuk selalu ada di dekat Shana karena ia sangat paham kondisinya. Hiroki berusaha menenangkan Shana yang sedang marah besar.
__ADS_1
Tangan Shana gemetar sambil memeluk tubuhnya sendiri. Ia tak sanggup mengenang semua hal tentang Hiroki. Terlalu pahit. Orang yang sangat ia percaya, satu-satunya orang yang selalu ada di sisinya, orang yang paling mengerti tentang rasa kesepiannya, harus pergi untuk selamanya.