
Café yang cukup sederhana dengan dekorasi nuansa klasik. Shana yang terbiasa kemana-mana naik mobil, kali ini harus bersusah payah naik bis ke Café kota. Rumah macam apa tadi itu? Kecil, bahkan tidak ada AC. Bagaimana bisa orang-orang itu hidup dalam rumah yang kecil seperti itu? Gerutu Shana dalam hati. Ia hanya memesan Strawberry Shake selagi menunggu seseorang yang sedang ia tunggu.
Mulai bosan menunggu, Shana memutar-mutar sendok. Tapi tak lama setelah itu datanglah seorang cewek menggunakan seragam sekolah yang sama persis dipakai oleh cewek yang menyeret Shana ke rumah tak dikenalnya itu. “Mungkin itu si penyusup.” Batin Shana.
Di sisi lain, Hana melihat seorang cewek mengenakan seragam yang sama persis dengan beberapa foto yang tergantung di kamar istimewa itu. Tanpa pikir panjang Hana berjalan mendekati cewek berseragam itu dan mulai menyapanya. Cewek itu hanya menunduk melihat handphone miliknya.
“maaf, apa benar kamu Shana?” tanya Hana memulai pembicaraan setelah berada di hadapan Shana. ia berusaha ramah pada orang yang bahkan tidak ia kenal sama sekali.
Shana pun segera mengangkat wajahnya dan betapa terkejutnya mereka ketika saling berhadapan. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulut mereka. Bagaikan menatap sebuah cermin. Seperti pinang yang dibelah dua. Wajah Shana dan Hana sangat mirip. Bahkan seperti tak ada sedikitpun perbedaannya. Hana yang merasa ketakutan melihat langsung kemiripan mereka, segera memutar balik dan bersiap pergi. Namun, tangan Shana menghalanginya.
“jangan lari!! Kamu siapa sebenarnya? Apa-apaan wajah itu?” bentak Shana merasa bahwa ini semua tak mungkin terjadi. Ini mungkin penipuan. Ia tak merasa punya saudara kembar, tapi ia bertemu seseorang yang mirip dengannya. Bukankah hal itu aneh?
“kamu sendiri siapa? Bagaimana bisa kita semirip ini?” ucap Hana ketakutan. Ia masih berusaha lepas dari genggaman tangan Shana.
“kamu…sengaja melakukan operasi plastik untuk bisa mirip denganku? “ tuduh Shana pada Hana. Ia pun sepertinya tidak kalah ketakutan dengan Hana.
__ADS_1
“operasi plastik? Mana mungkin. Itu mustahil. Dari kecil wajahku seperti ini.” Bela Hana yang tidak terima dituduh sekejam itu. Dari mana uang yang diperoleh untuk operasi plastik?
“baiklah. Kita lupakan sejenak masalah itu. Tidak heran kalau Cleanne sampai salah orang ” Jelas Shana mulai tenang dan berusaha meraba-raba keadaan yang ada.
“Cleanne? Apa dia temanmu?” tanya Hana berusaha mengakrabkan diri
“okey. Anggap saja hal ini tidak pernah terjadi dan kita kembali ke rumah masing-masing. Anggap saja kita tak pernah bertemu. “ Ucap Shana sambil menghela nafas dan berdiri meninggalkan Hana. Tapi sepertinya kepergian Shana ditahan oleh Hana.
“tunggu. Bisa kita bicara sebentar?” tanya Hana yang berusaha menahan Shana dengan menampakan wajah sedih.
Hana hanya terdiam sejenak. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. “apakah ini benar?” Ragu-ragu ia mengucapkan. Akhirnya Hana pun mulai bicara.
“aku tak ingin kembali ke rumah untuk sementara. Ada seseorang yang tak ingin kutemui.” Ucap Hana terbata-bata karena ragu dengan apa yang dia ucapkan.
Shana bergidik. “lalu apa urusanku? Itu masalahmu sendiri,kan?” ucap Shana yang mulai merasa kesal. Kenapa dia harus berurusan dengan masalah yang dihadapi orang lain? Shana pun mulai merasa jijik.
__ADS_1
“aku mohon…ijinkan aku menginap di rumahmu.” Rengek Hana pada Shana. Hal itu membuat Shana geram dan kemudian angkat suara.
“kamu gila ya? Apa kamu gak sadar kalau wajah kita ini mirip? Kalau kamu menginap di rumahku, apa yang akan dikatakan orangtuaku?” ucap Shana mengeraskan suaranya. Ia tak peduli lagi dengan pandangan oran-orang di sekitar café itu.
“lalu aku harus gimana? Hiks…aku tidak ingin ketemu kak Leo untuk saat ini. Aku ingin melupakan perasaanku padanya. Kumohon tolonglah aku…” rengek Hana sambil menangis. Terlihat sekali ia begitu sedih dengan masalah yang menimpanya.
Shana terdiam sejenak. Sepertinya ia sedang berusaha mengingat sesuatu. “kak Leo itu bukannya kakakmu ya?” tanya Shana perlahan karena takut akan semakin menyinggung perasaan Hana. Sesaat sebelum Shana pergi ke Café, ia sempat berpapasan dengan Leo.
“ya…dia kakak tiriku. Hubungan kami tak bisa berlanjut karena pernikahan orangtua kami. Sekarang kak Leo punya pacar dan aku harus segera melupakannya.” Ucap Hana dengan terbata-bata berusaha mengatur emosinya. Air matanya tak lagi bisa ia bendung. Menangis semalaman ternyata tak mampu menutupi luka hatinya.
“menyukai kakak sendiri? Jelas tak mungkin mudah melupakannya apalagi mereka tinggal satu atap.” Gumam Shana dalam hati. Ia mulai bersimpati pada Hana. Ia sadar betul betapa sulitnya melupakan orang yang disayang.
“baiklah. Tapi kamu tidak menginap bersamaku.” Ucap Shana dengan tatapan mata yang tajam. Ia merencanakan sebuah ide gila yang entah itu demi kebaikan siapa.
“kita akan bertukar tempat.” Ucap Shana yakin.
__ADS_1
“maksudmu?”