Queen VS Princess

Queen VS Princess
Rasa bersalah


__ADS_3

Ponsel Shana masih tergeletak dengan tenang di sampingnya. Sesekali ia melirik ponselnya. Seolah menunggu sesuatu. Hana masih belum memberi kabar tentang masalahnya. Malam ini juga tak ada satupun pesan masuk dari Tadashi. Shana berusaha menikmati cemilan malam ini dengan sangat nikmat. ia berjalan menuju lemari es dan mencari sisa es krim kemarin. Tak ketinggalan Shana tetap membawa ponselnya. Ia melirik ponselnya sekali lagi saat duduk kembali di kursi tadi. Tak ada tanda-tanda ponselnya bernyawa. Ia kembali berdiri sambil membawa ponselnya. Shana mengarahkan ponselnya ke atas. Mungkin sinyalnya hilang. Rhena hanya melongoh melihat tingkah adik kandungnya itu.


“kau menunggu telepon dari siapa? Tadashi?”


“apaa?!! Enggaklah.” Jawab Shana langsung ceplos sambil menahan wajahnya yang memerah. Ia kembali duduk di kursi dan menikmati cemilannya sambil menonton tv.


“akhir-akhir ini mama jarang pulang.” Ucap Rhena sambil mengambil cemilan Shana.


Shana menghempaskan tangan Rhena dari cemilannya. “bukannya memang selalu seperti itu?” jawab Shana cuek.


“kau itu ya…. Peduli pada mama sedikit kenapa?!”


“kakak sih enak. Tinggal di Swiss sama nenek dan mama. Sedangkan aku ditinggalkan disini sendirian.” Ucap Shana setengah marah pada Rhena.


“kamu sendiri kan yang nangis sambil gulung-gulung gak mau sekolah di Swiss. Kamu juga kan yang gak bisa akur sama Papi makanya kamu minta segera pindah kesini. Semenjak nenek meninggal, Mama semakin sibuk setiap harinya. Mengurusi seorang diri perusahaan yang sudah tersebar ke beberapa negara. Sedangkan Papi, gak tahu deh sekarang dimana. Sok sibuk banget sampai gak pernah jenguk anaknya.”


“aku kan bukan anaknya.”

__ADS_1


“aku juga tahu. Meskipun kita bukan anak kandungnya, setidaknya sedikit peduli kek. Sibuk sendiri menghabiskan uang Mama. Menyebalkan. Laki-laki macam apa itu.”


Shana tak peduli dengan ocehan Rhena. Ia melirik kembali ponselnya dan masih tetap tak bernyawa. Shana segera menelan habis cemilannya.


“aku jadi rindu sama Papa.” Ucap Rhena sambil menerawang jauh.


"Papa meninggal karena apa kak?"


Rhena menatap wajah Shana dari samping. “aku tidak terlalu ingat bagaimana awalnya. Saat itu aku kelas 3 SD dan tinggal dengan nenek. Suatu malam aku mendengar suara nenek marah-marah sambil teriak-teriak di telepon. Nenek menyuruh Mama dan Papa untuk kembali ke Swiss. Kemudian sekitar 2 minggu kemudian Mama pulang ke Swiss bersamamu dan tanpa Papa. Saat itu aku diberitahu Mama kalau Papa meninggal. Entah karena apa.”


######


Pagi yang mulai membaik untuk keluarga Hana. Setelah kemarin menghadapi badai yang membuat keadaan serasa seperti perang dingin, kini mulai membaik. Hari ini Leo ada kuliah pagi. Seperti biasa, Ibu menyiapkan sarapan untuknya. Komunikasi antara Ayah dan Leo masih terasa canggung, namun keduanya berusaha memperbaiki satu sama lain. Sedangkan Hana, pagi ini belum terlihat di meja makan. Sejak menyamar menjadi Shana, kini Hana tak lagi bangun kesiangan seperti kebiasaannya sebelumnya.


“dimana Hana? Apa dia belum bangun?” tanya Ibu pada Leo saat sampai di meja makan.


“entahlah. Semalam ia tak berhenti menangis. Aku harus menemaninya hingga larut malam sampai akhirnya tertidur.” Jawab Leo singkat.

__ADS_1


“apa yang terjadi?”


“aku tak begitu paham. Tapi sepertinya ini tentang Sojiro. Walaupun sudah tertidur, ia masih saja mengigau ‘maafkan aku, Sojiro. Maafkan aku’ seperti itu.” Ucap Leo sambil memperagakan dengan suara aneh. Ibu terlihat menahan tawa karena tingkah Leo.


“kamu jangan seperti itu sama adikmu. Biar nanti Ibu bicara dengannya.”


Tak lama setelah itu, terdengar suara langkah kaki dari lantai atas menuju ke bawah. Hana turun menuju meja makan. Matanya masih terlihat sembab. Wajahnya pucat. Terlihat jelas ada raut kesedihan di wajah Hana. Ibu yang melihat hal itu langsung menyusul Hana dan sedikit menuntunnya berjalan menuruni tangga.


“ibu kira hari ini kamu tidak masuk.” Ucap Ibu sambil membantu Hana berjalan.


“aku akan masuk sekolah, bu.” Ucap Hana pelan.


“tapi tubuhmu masih terlihat lemah. Istirahat saja jika tak kuat.”


“mau kuantar ke sekolah?” tawar Leo pada Hana yang kini duduk di depannya sambil menyantap sarapan. Hana terlihat bingung.


“aku pakai roller blade saja.”

__ADS_1


__ADS_2