
Tadashi dan Shana kembali ke kamar setelah selesai melakukan kontrol. Dalam kamar terdapat Ayah, Ibu dan kak Rhena. Shana masih berada di atas kursi rodanya.
“kalian sudah melakukan kontrol? Bagaimana hasilnya?” tanya Ibu langsung menghampiri Tadashi dan Shana.
“perkembangannya baik. Ia akan segera pulih dalam beberapa hari. Shana harus banyak istirahat karena hanya bertahan dengan satu ginjal.” Ucap Tadashi berusaha menjelaskan hasil control yang mereka lakukan siang ini.
“syukurlah, Shana. kau akan segera sembuh.” Ucap Ayah tak kalah bahagia mendengar kabar baik itu.
“apa kau ingin berbaring di tempat tidur lagi? Ibu bantu kau pindah.”
“aku disini sebentar Ibu. Capek harus berbaring terus.” Shana menggeser kursi rodanya menghadap pada Rhena. “kau sudah selesai kuliah?”
“ya. Hari ini aku selesai cepat. Selamat, ya. Sebentar lagi kamu akan pulih. Kita akan berkumpul lagi.” Ucap Rhena ikut bahagia mendengar kabar baik kondisi adik kandungnya.
__ADS_1
“terima kasih sudah mau menjagaku, kak. Maaf selama ini sering menyusahkanmu.” Ucap Shana sambil sedikit menunduk.
Rhena tersenyum melihat banyak sekali perubahan pada diri Shana. “kau ini, jangan bicara seolah kita takkan pernah bertemu lagi.”
“kau kakakku yang terbaik.” Ucap Shana sambil tersenyum. “Ibu, sepertinya aku agak lelah. Bisakah kau membantuku pindah ke tempat ti…………………………….”
Kata-kata Shana terputus. Ia merasakan rasa sakit yang luar biasa di sekitar dada dan perutnya. Bahkan ia sampai tak bisa melanjutkan kata-katanya. Shana terjatuh dari kursi rodanya sambil memegang perutnya yang kesakitan. Semua yang ada di kamar itu segera menolong Shana dan membawanya ke ruang gawat darurat.
Denyut jantungnya melemah. Tekanan darahnya cenderung tidak stabil. Nafasnya sempat menghilang sesaat. Bahkan defibrillator pun tak mampu membuat detak jantungnya kembali normal. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengembalikan Shana kembali. Namun, kondisi berkata lain. Tuhan menghendaki yang terbaik untuk Shana. pembuluh Aorta yang semula bengkak di dalam perut Shana, kini akhirnya pecah. Hal yang dikhawatirkan kini telah terjadi. Shana sudah tak bisa lagi diselamatkan. Pembuluh Aorta itu merenggut nyawanya dalam sekejap.
Tak ada satupun yang akan menduga hal ini terjadi. namun, mungkin saja Shana sudah menyadarinya sejak awal. Mungkin ia telah menyadari bahwa waktunya hanya tinggal hitungan menit saja. Tangis dan teriakan memenuhi ruang gawat darurat. Semua kehilangan. Semua bersedih. Teriakan histeris keluar dari mulut Cleanne saat baru saja datang bersama kekasihnya Misaki. Bahkan ia belum bertemu dengan Shana untuk terakhir kalinya. Leo hanya terdiam tak percaya dengan apa yang barusan ia lihat. Seolah tak percaya dengan apa yang terjadi, ia teringat kata-kata Shana kemarin. Jadi, inilah yang dimaksudkan Shana. tidak salah lagi. Shana sudah tahu hal inilah yang akan terjadi padanya.
**********
__ADS_1
--Dua Hari Kemudian—
Hana membuka matanya. Cahaya lampu yang sangat menyilaukan. Tempat apa? Mengapa banyak orang menatapnya? Ada suara seseorang memanggil namanya. Wajahnya terlihat khawatir. Apa yang sebenarnya terjadi?
“Hana? Syukurlah kau sudah sadar.” Ucap Ayah yang tadinya terlihat cemas, kini langsung bersemangat setelah melihat Hana sadarkan diri.
“apa kepalamu sakit? Apa badanmu terasa sakit?” tanya Ibu sangat terlihat takut.
Hana masih terdiam. Mengumpulkan semua kesadarannya terlebih dahulu. seluruh tubuhnya terasa pegal. Kepalanya merasakan sakit yang luar biasa. Ia masih seperti orang yang kebingungan.
“kalian……..siapa?” tanya Hana akhirnya mengeluarkan suara setelah melihat orang-orang yang sama sekali tidak ia kenali.
Ayah dan Ibu seperti terpukul mendengar ucapan Hana. Ayah segera menyuruh Leo untuk memanggil dokter yang menangani Hana. Rhena hanya bisa terkejut sambil menutup bibirnya. Sungguh ironis. Setelah kematian Shana, kini Hana harus sadarkan diri dalam keadaan hilang ingatan. Dokter datang dalam beberapa menit dan segera memeriksa kondisi Hana. Gegar otak yang dialami berdampak pada ingatan jangka panjangnya. Bahkan Hana sama sekali tak ingat dirinya sendiri. Kejadian ini benar-benar membuat semua orang terpukul. Dosa apa yang sudah dilakukan si kembar sampai harus menanggung penderitaan seperti ini. Sungguh kisah yang tragis.
__ADS_1
Dokter segera meminta seluruh keluarga Hana untuk membicarakan masalah ini di luar. Ayah, Ibu, Leo dan Rhena segera mengikuti dokter. Entah apa yang akan dibicarakan dokter. Terlihat masalah ini begitu gawat.
Hana berusaha bangkit dan duduk diatas tempat tidurnya. Pikirannya masih dipenuhi pertanyaan, Siapa mereka? Bahkan Hana sendiri tak mengenali dirinya. Matanya tertuju pada tempat tidur di sebelahnya yang tertata sangat rapi. Untuk apa ada 2 tempat tidur di kamar VIP? Tempat tidur siapa itu? Apa ada yang sakit sebelumnya? Hana merasa ada sesuatu di tempat tidur itu. Tapi apa?