Queen VS Princess

Queen VS Princess
Fitnah


__ADS_3

“AAAAARRRGGGGHHH……!!!!! kalungku….kalungku…..” ucap Arisa sambil wajahnya pucat.


Kelas Shana dan Cleanne pun tiba-tiba heboh mendengar suara teriakan seorang siswa yang bernama Arisa. Hana dan Cleanne langsung buru-buru menghampiri Arisa.


“ada apa?” Tanya salah seorang siswa pada Arisa.


“ kalung berlianku hilang. Gak mungkin !! aku taruh di dalam tas.” Jelas Arisa sambil ketakutan. "Pasti ada yang mencurinya!!”


Datanglah wali kelas untuk melihat apa yang terjadi. “ada apa ini?”


“Bu Guru, kalung berlianku hilang. Aku yakin pasti ada yang mengambilnya. Tolong geledah semua tas disini. Aku gak mau tau. Pokoknya harus ketemu!!”


Tanpa berfikir panjang, Bu Guru menggeledah semua tas para siswa di kelas. Satu per satu tas siswa digeledah. Tas Cleanne sedang digeledah, semua barang-barangnya berhamburan keluar termasuk peralatan make up yang selalu ia bawa kemana-mana. Guru tak menemukan apapun di dalam tas Cleanne. Giliran tas Hana digeledah. Satu demi satu barang yang ada di dalam tas dikeluarkan. Kemudian, semua mata terkejut ketika Guru menemukan sebuah kalung berlian di dalam tas Hana. Berlian yang sangat cantik dan pastinya sangat mahal.


“itu kalungku…..!!!!” teriak Arisa sambil menunjuk pada kalung yang ditemukan itu.

__ADS_1


“gak mungkin !!” ucap Hana terkejut kalung itu berada di dalam tasnya.


“Shana Kozuki? Kau yang mencuri kalung Arisa Amano? Benarkah itu?” Tanya Guru.


“engga bu. Itu bukan saya.


“mana mungkin ada maling yang mengaku, bu.” Teriak Arisa dengan mata melotot.


“sungguh, bu. Bukan saya. Saya tak tahu apa-apa.” Ucap Hana sambil setengah menangis. Tangannya gemetar.


*************


Pandangan mata Shana daritadi tak berada dalam satu titik fokus. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. Sojiro dari tadi mengoceh tanpa ada satu katapun yang masuk dalam ingatan Shana. Pandangannya mengarah keluar jendela. Namun pikirannya entah kemana. Shana pun menghela nafas berat.


“ada apa? Sepertinya daritadi kurang sehat.” Tanya Sojiro sambil tetap mengemudikan mobilnya.

__ADS_1


“perasaanku gak enak aja.” Jawab Shana singkat.


“kamu sakit? Apa kita langsung pulang saja?”


Belum sempat Shana menjawab pertanyaan Sojiro, handphone miliknya berbunyi. Ia terkejut melihat nama yang tertera di ponselnya. Sepertinya memang terjadi sesuatu yang buruk. Segera ia menerima telepon.


“ada apa?” Tanya Shana


“Shana………” rengek Hana di telepon. Sepertinya sedang menangis.


“baiklah, aku kesana.” Ucap Shana sambil menutup telepon. Tanpa pikir panjang, ia menyuruh Sojiro untuk melaju ke arah sekolahnya, dimana Hana sedang berada.


Sojiro hanya terdiam melihat ekspresi Shana yang sedang marah. Sepertinya ada hal gawat yang membuatnya harus segera berangkat. Tanpa bertanya lebih lanjut, Sojiro mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup menakjubkan. Seumur hidup selama ia mengemudi bersama seorang wanita, ia tak pernah mengemudi dengan kecepatan 120 km/jam.


Hanya dalam waktu 15 menit, Sojiro bahkan bisa menempuh jarak 150 km. mobil berhenti di depan sekolah elit yang sepertinya tidak asing untuk Sojiro. Ia teringat bahwa dahulu ia sempat didaftarkan keluarganya di sekolah itu. Namun, karena kedudukan dan materi yang dimiliki Sojiro masih cukup kalah, ia tidak diterima di sekolah elit itu. Dalam hati ia bertanya, Hana ingin bertemu siapa di sekolah elit ini? Apa dia punya kenalan di sekolah ini? Shana segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam halaman sekolah yang sangat luas itu. Bayangan Shana semakin menghilang seiring ia masuk semakin dalam ke sekolah. Sojiro hanya bisa menunggu.

__ADS_1


__ADS_2