
Hari pertama Shana menyamar sebagai Hana sudah dimulai. Seperti biasa Shana sudah bangun pagi untuk menyiapkan segala sesuatunya. Di tengah kesibukan Shana membereskan buku-buku untuk hari ini, ia mendengar suara langkah kaki dari luar kamarnya. Sedetik kemudian pintu kamarnya terbuka dan hal itu cukup mengagetkannya.
“HANAAAA….MAU TIDUR SAMPAI KA….PAN?” teriak Leo sambil membuka pintu kamar Hana, akan tetapi ia sendiri yang terkejut melihat Shana yang sudah bersiap-siap pergi ke sekolah.
“apaan sih, kak Leo? Gak usah teriak-teriak gitu. Aku denger kok”
“kok…kamu udah bangun?” tanya Leo yang masih terkejut melihat Shana sudah bangun. Ia masih belum percaya kalau Hana yang biasanya susah bangun pagi, saat ini justru sudah siap untuk berangkat ke sekolah.
“ya….aku kan mau berangkat sekolah. Apaan sih kak Leo, nanya gak mutu.” Gerutu Shana yang sama sekali tidak tahu kebiasaan Hana yang tidak bisa bangun pagi.
__ADS_1
“jangan-jangan kamu salah makan kemarin? Atau mimpi buruk?” ucap Leo sambil mendekat menempelkan telapak tangannya pada dahi Shana. Hal itu seketika mengejutkan Shana sampai membuat wajahnya merona kemerahan. Sudah lama sekali tak ada yang menyentuh dahinya semenjak kepergian Hiroki.
“kak Leo apaan? Norak tauk…aku mau sarapan.” Shana segera mengambil tasnya dan keluar kamar tanpa menoleh sedikitpun pada Leo. Wajahnya masih kemerahan karena perlakuan spontan dari Leo. Pada saat itu pula Leo menyesali tindakan spontan yang dia lakukan akibat refleks dari hatinya yang terdalam.
Sementara itu, Hana yang berada dirumah Shana masih tertidur dengan nyenyak.
Sudah 15 menit Shana berdiam diri di depan pintu rumah Hana. Berkali-kali ia melihat sekeliling, tapi tak satupun jawaban yang ia temukan. Bagaimana Hana biasanya pergi ke sekolah? Naik apa? Haruskah dia menghubungi Hana hanya untuk sekedar menanyakan dia pergi ke sekolah naik apa? Tak mungkin. Di tengah pergulatan sengit dalam pikiran Shana, tiba-tiba Leo muncul dan terkejut melihat Shana yang masih berdiri disana.
“ngapain? Kok belum berangkat?” tanya Leo sambil membawa pot bunga. Sepertinya ia akan pergi ke kebun samping rumah.
__ADS_1
“eh…itu…aku pergi ke sekolah naik apa ya?” tanya Shana dengan polosnya karena sudah tak bisa berfikir lagi dan tak mau memikirkan kemungkinan terburuk. “apa aku naik motor itu?”
“enak aja. aku berangkat kuliah naik apa kalau motorku kamu bawa. Lagian kamu kan biasanya pakai Roller blade atau skateboard.” Ucap Leo sambil menunjukan letak Roller blade biasa disimpan.
Dengan wajah yang tak percaya, Shana mengambil Roller blade dan segera keluar rumah. Mana mungkin dia bisa pakai benda seperti ini? Sungguh ini benar-benar penyiksaan. Shana kemudian berjalan dengan membawa Roller blade itu. Sepanjang perjalanan ia tak henti-hentinya mengoceh tanpa tahu arah. Tiba-tiba saja muncul sebuah mobil Lamborghini berwarna hitam lewat di sampingnya dan seketika langsung berhenti di hadapannya. Mobil mewah seperti ini siapa yang punya ya? Apa teman Hana? Kenapa tiba-tiba berhenti? Beberapa detik setelah mobil mewah itu berhenti, kaca pintu itu terbuka memperlihatkan siapa orang yang mengendarai mobil tersebut. Seorang cowok yang cukup tampan dengan mengenakan seragam yang sama dengan sekolah Hana. Mungkin teman Hana.
“Hana? Aku sampai terkejut, soalnya kamu kelihatan cantik sekali.” Ucap cowok tampan itu sambil tersenyum lembut. “ada apa? Kenapa jalan kaki? Naik, yuk!!” ajak cowok itu pada Shana yang masih belum tahu siapa cowok itu. Seketika muncul senyum bahagia pada wajah Shana dan kemudian ia membalas.
“dengan senang hati.” Ucapnya sambil kemudian masuk ke dalam mobil mewah itu tanpa tahu siapa dia dan mungkin ada maksud tersembunyi.
__ADS_1