
"Hari ini perbannya sudah bisa dibuka," lapor Vincent yang langsung membuat Brachon menghentikan langkahnya.
Informasi yang diberikan oleh Vincent tentu saja merujuk pada Queena yang sudah hampir dua bulan ini menjalani perawatan dengan wajah yang tertutupi oleh perban.
"Tapi kata dokter, wajahnya mungkin masih akan bengkak dua sampai tiga minggu ke depan," terang Vincent lagi.
"Aku akan melihatnya nanti," putus Brachon setelah berpikir beberapa saat.
"Baiklah!" Vincent langsung merogoh ponselnya untuk menghubungi seseorang. Sementara Brachon kembali melanjutkan langkahnya dan masuk ke sebuah ruangan.
Tak berselang lama, Vincent sudah menyusul Brachon untuk masuk ke ruangan yang sama, lalu asisten Brachon itu menutup dan mengunci pintu. Vincent meraih beberapa map di atas meja, lalu segera memberikannya pada Brachon yang kini berdiri seraya menatap ke luar jendela.
"Segera siapkan ruangan untuk Queen dk mansion. Karena aku ingin dia dibawa ke mansion setelah nanti perban di wajahnya dibuka." Brachon membolak-balik berkas di tangannya sembari membacanya.
"Terlalu beresiko, jika Queen masih di rumah sakit," lanjut Brachon lagi.
"Baiklah!"
"Perlu aku siapkan borgol juga untuk jaga-jaga?" Tanya Vincent sedikit berseloroh. aun sepertinya Brachon sedang tak punya selera humor, jadilah pria itu malah menjawab selorohan Vincent dengan tatapan tajam seolah tak suka.
"Ya! Aku hanya bercanda." Gumam Vincent sambil kembali menerima berkas yang sudah selesai diperiksa oleh Brachon.
"Kau sudah berhasil menghabisi tua bangka Mahardika itu?" Tanya Brachon selanjutnya mengalihkan pembicaraan.
Frans Mahardika adalah saingan bisnis bagi Brachon Ley. Bukan saingan biasa, karena Frans Mahardika mengantongi beberapa rahasia tentang bisnis kotor yang dilakukan oleh Brachon.
Obsesi Brachon untuk menghabisi Frans Mahardika tentu saja terasa menggebu-gebu. Namun sayangnya, pria tua itu seperti punya tujuh nyawa, karena beberapa kali rencana pembunuhan yang dilakukan oleh orang suruhan Brachon selalu saja gagal.
Belum lagi anak dari Frans Mahardika yang punya kewaspadaan tinggi dan selalu tahu saat ada orang-orang yang hendak mencelakakan Frans.
"Frans akan melakukan kunjungan kerja ke sebuah kota. Aku baru merencanakan-" Vincent belum selesai menjrlaskan,saat tiba-tiba ponselnya yang berisi rencana lengkap untuk mencelakakan Frans Mahardika sudah disambar oleh Brachon.
"Baiklah! Tak perlu aku jelaskan," gumam Vincent sedikit kesal.
"Kabari aku jika kau berhasil membunuh tua bangka keparat itu!" Brachon mengembalikan ponsel Vincent dengan kasar. Pria itu lalu duduk di kursi kerjanyadan langsung sibuk dengan layar monitor di hadapannya.
****
"Selamat pagi, Nona Queen," suara perawat yang menyapa Queena di setiap wanita itu membuka mata, seolah membuat hati Queena merasa jengah.
__ADS_1
Bagaimana tak jengah, jika setiap pagi saat Queena terbangun, dirinya hanya seperti seonggok manusia lumpuh tak berguna yang bahkan tak bisa melakukan apa saja kecuali mengedarkan pandangannya ke kiri, ke kanan,lalu ke langit-langit berwarna putih.
Queena sudah merasa putus asa!
Kenapa Brachon Ley tak menghabisi nyawa Queena saja jika memang pria itu merasa takut pada kesaksian Queena tempo hari tentang pembunuhan yang dilakukan Brachon Ley pada Bu Indah.
Bukankah itu lebih baik dan lebih mudah, ketimbang Brachon harus menyiksa Queena seperti seorang tawanan begini?
Queena lelah!
Queena yang masih bergelut dengan pikirannya sendiri tiba-tiba merasakan bed perawatannya bergerak naik di bagian kepala. Sepertinya perawat yang tadi menyapa Queena yang melakukannya.
Aneh!
Perlahan tetapi pasti, posisi Queena kini sudah beralih menjadi setengah duduk.
Ya, sisi baiknya adalah Queena bisa menikmati pemandangan lain dan bukan lagi pemandangan langit-langit ruangan berwarna putih yang selalu ia saksikan setiap dirinya membuka mata.
Ada layar televisi, sebuah meja panjang dengan bantak hiasan, lalu dua set sofa dan satu set dining table. Ruangan tempat Queena dirawat ternyata begitu luas, dan mungkin lebih luas dari rumah Queena.
Hhhh!
Queena benar-benar rindu rumah sekarang.
Pasti Mas Bagus tahu dan saat ini suami Queena itu sedang berusaha untuk mencari Queena.
Queena masih berkutat dengan pikirannya mengenai Mas Bagus, saat sesosok tubuh tegap yang mengenakan kemeja warna hitam tiba-tiba muncul di depan Queena.
Queena tentu saja langsung bisa mengenali wajah dingin itu!
Brachon Ley!
"Queen! Tidurmu nyenyak?" Tanya Brachon seraya melepaskan kaca mata hitamnya. Namun tentu saja hal tersebut tak mengurangi kesan dingin dan kejam dari wajah Brachon.
Dan Queena membenci pria di depannya ini.
"Apa maumu sebenarnya!" Tanya Queena berani.
Dan di luar dugaan, suara Queena seolah sudah kembali. Queen bahkan bisa mendengar suaranya sendiri. Apa itu artinya Brachon dan orang-orang yang berada di ruangan ini juga mendengar suara Queena.
__ADS_1
"Lepaskan aku, Brachon!" Gertak Queena lagi lebih lantang seolah sedang menjajal suaranya yang beberapa hari kemarin menghilang.
Entah beberapa hari atau beberapa pekan, Queena pun tak bisa menghitungnya, karena setiap hari kedua netra Queena hanya disuguhi pemandangan langit-langit berwarna putih, saat terbuka. Lalu sakit di wajah dan tubuh bagian atas, setiap Queena terjaga.
"Kau sedang memerintahku? Tidak ada yang berani memerintah seorang Brachon Ley!" Brachon menatap sengit pada Queena, setelah pria itu sedikit mendekat ke arah Queena yang belum bisa nbanyak bergerak.
Ah, tapi suara lantang Queena sudah kembali. Jadi Queena akan berteriak saja...
"Tolong!"
"Tolong aku!!!" Teriak Queena sekuat tenaga yang langsung membuat Dokter yang sejak tadi siaga di dalam ruangan bergegas mengambil jarum suntik berisi sebuah cairan.
"Tidak usah!" Ujar Brachon yang langsung menghentikan langkah Dokter.
"Biar saja dia berteriak sampai suaranya habis. Tidak akan ada seorang pun yang mendengar atau menolongnya." Brachon tersenyum mengejek pada Queena yang terlihat marah.
"Ayo teriak lagi!"Perintah Brachon selanjutnya pada Queena dengan nada menantang.
"Kenapa kau tidak sekalian membunuhku saja, Ley?" Teriak Queena akhirnya mulai frustasi.
"Kenapa kau tidak membunuhku,jika memang kau takut kejahatanmu pada Bu Indah akan terungkap?"
"Dasar pengecut!" Cemooh Queena yang hanya membuat Brachon berdecih, lalu pria itu mendekat ke arah Queena dan memberikan tatapan penuh intimidasi.
"Kenapa aku harus membunuhmu, jika aku bisa menjadikan kau mainan yang menyenangkan?" Bisik Brachon yang seketika langsung membuat Queena membeku.
Mainan yang menyenangkan?
Apa maksud Brachon?
.
.
.
Timingnya sebelum Bintang kecelakaan trus amnesia.
Brachon Ley adalah musuh bisnisnya Frans Mahardika.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like