QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)

QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)
MASIH BERUSAHA


__ADS_3

"Papi ini Queena!" Ucap Queena yang tiba-tiba sudah memeluk Papi Briel. Teeang saja, hal itu langsung membuat Papi Briel kaget dan buru-buru melepaskan pelukan Queena.


"Maaf-" Papi Briel mengernyit pada Queena dan tampak jelas raut ketidakpercayaan di wajah pria paruh baya tersebut. Sama seperti yang tampak di wajah Bagus dan Mami Fris sekarang.


"Papi-"


"Bagus, wanita ini siapa?" Papi Briel bertanya lantang pada Bagus yang langsung menggeleng.


"Bagus juga tidak tahu, Pi! Dia terus saja mengaku-ngaku sebagai Queena-"


"Aku memang Queena!"


"Tapi Queena sudah meninggal satu setengah tahun yang lalu!" Kali ini ganti Mami Fris yang buka suara.


"Dan kau sangat berbeda dari Queena! Apa kau seorang penipu?" Tuduh Mami Fris lagi yang langsung membuat Queena menggeleng-gelengkan kepala.


"Ini memang Queena, Mi!"


"Tolong percayalah!" Mohon Queena pada Mami Friska dan Papi Briel.


"Pergi kau dari sini dan jangan mengganggu Barley lagi!" Bagus yang sudah habis kesabaran, akhirnya kembali mencekal lengan Queena, lalu memaksa wanita itu untuk keluar dari teras rumahnya.


"Mas! Aku Queena!"


"Mas Bagus!" Queena terus berontak dan berusaha melepaskan cekalan tangan Bagus.


"Mas! Kenapa kau tidak percaya padaku?"


"Aku Queena, Mas! Aku Queena!" Queena terus meronta dan berteriak saat akhirnya bagus sedikit mendorong wanita itu keluar dari pagar rumahnya.


"Kau bukan Queena!" Bagus menuding tegas pada Queena yang langsung menangis tergugu.


"Pergi kau dari sini!" Usir Bagus sekali lagi sebelum kemudian pria menutup pintu pagar lalu menguncinya.


Barley sudah dipeluk oleh Mami Friska saat Bagus kembali masuk ke rumah, dan tatapan Papi Briel seolah mencecar Bagus dengan berbagai pertanyaan tentang wanita yang tadi mengaku-ngaku sebagai Queena.


"Apa itu sebuah modus penculikan baru?" Tanya Mami Friska memecah kebisuan di antara Bagus dan Papi Briel.


"Bagus juga tidak tahu, Mi!"


"Sudah berapa kali wanita itu datang ke rumah?" Sekarang gantian Papi Briel yang bertanya.


"Ketiga kali Bagus rasa, Pi!" Jawab Bagus seraya mengingat-ingat.


"Kau seharusnya berhati-hati-"


"Tadi Bagus hanya meninggalkan Barley sebentar di teras karena ingin membuat susu. Dan wanita itu tiba-tiba sudah masuk ke dalam pagar," cerita Bagus membela diri.

__ADS_1


"Kunci pagarnya mulai sekarang!"


"Masih bagus Barley menangis kencang dan wanita tadi tidak melakukan hal jahat pada Barley!"


"Kalau Barley kenapa-kenapa bagaiamana? Pikir panjang, Bagus!" Tegur Papi Briel tegas yang hanya membuat Bagus menundukkan wajahnya.


"Iya, Pi! Bagus teledor tadi," ucap Bagus yang akhirnya mengakui kesalahannya.


"Sudah, Mas! Jangan teriak-teriak begitu! Barley jadi takut!" Gantian Mami Friska yang menegur Papi Briel, sebelum kemudian wanita itu membawa Barley masuk ke dalam rumah.


"Lalu pengasuh untuk Barley bagaimana, Bagus?" Tanya Papi Briel selanjutnya pada sang menantu.


"Masih belum ada, Pi!"


"Bagus biasanya menitipkan Barley ke rumah Mbak Melody kalau Bagus harus keluar kota," cerita Bagus lagi.


Satu setengah tahun lalu Barley memang dibawa Papi Briel dan Mami Friska ke rumahnya di luar kota. Namun kemudian Barley malah sakit-sakitan selama berbulan-bulan karena bocah itu jarang bertemu dengan Bagus. Pun dengan Bagus yang juga beberapa kali jatuh sakit karena jauh dari Barley.


Setelah melalui diskusi panjang, akhirnya diambil keputusan agar Barley kembali tinggal bersama Bagus. Apalagi sekarang pekerjaan Bagus sudah lebih banyak di kota ini dan hanya sebulan sekali atau dua kali saja Bagus pergi ke luar kota.


"Mbak Melody itu sepupu kamu?" Tanya Mami Fris seraya membukakan susu untuk Barley.


Bagus sedikit mengernyit melihat sekarton susu UHT rasa coklat yang sudah ada di teras. Bagus belum sempat membelikan stok susu UHT untk Barley, lalu yang tdi membawa susu itu apakah wanita yang mengaku sebagai Queena tadi?


Tapi bagaimana dia bisa tahu kalau susu UHT coklat adalah kesukaan Barley?


"Eh, iya, Mi!"


"Mbak Melody itu sepupu kamu, Gus?" Papi Briel mengulangi pertanyaan sang istri tadi.


"Iya, Pi!" Jawab Bagus cepat. Pria itu lalu kembali larut dalam lamunan dan mengingat tentang tanda lahir di punggung wanita tadi. Memang mirip dengan punya Queena.


Tapi mustahil, kan......


"Apa Mami dan Papi mau membawa Barley?" Tanya Bagus kemudian memecah kebisuan.


"Kami hanya menjenguk Barley, Gus! Sekalian kami pergi ke makam Queena tadi." Jelas Mami Friska yang kembali membuka susu kedua untuk Barley.


"Sore ini kami sudah akan pulang," timpal Papi Briel ikut menjelaskan.


"Mobil!" Celetuk Barley tiba-tiba seraya mengambil mainan mobil remote besar dari paperbag yang tadi dibawa Queena.


"Waaaah! Barley habis beli mainan besar, ya?" Tanya Mami Friska antusias.


"Sini! Main bersama Opi!" Papi Briel sigap mengambil remote dari mobil besar tadi, lalu mulai menggunakannya untuk menjalankan mobil yang masih dipegang-pegang oleh Barley. Sementara Bagus kembali larut dalam lamunannya dan memikirkan wanita yang mengaku sebagai Queena tadi.


"Apa aku bisa melihat wajahnya?"

__ADS_1


"Wajah korban tak lagi bisa dikenali!"


Ya, Bagus memang tak pernah melihat wajah terakhir Queena hingga istrinya itu dimakamkan. Hanya dompet berisi identitas Queena yang kebetulan terlempar dan tak ikut terbakar, serta motor Queena-lah yang menjadi petunjuk dan acuan kalau korban kecelakaan waktu itu adalah Queena.


Tapi Bagus sama sekali tak melihat wajah Queena!


Jadi mungkinkah....


"Bagus!" Teguran Mami Friska sekali lagi menyentak lamunan Bagus.


"Iya, Mi!"


"Kamu tadi sudah makan?" Tanya Mami Friska menatap heran pada Bagus.


"Kamu kenapa sejak tadi terlihat melamun terus, Gus?" Papi Briel ikut-ikutan bertanya.


"Tidak, Pi!"


"Jadi kamu sudah makan, Gus?" Mami Friska mengulangi pertanyaannya.


"Sudah tadi, Mi!" Jawab Bagus cepat.


"Mami dan Papi bagaimana?" Bagus balik bertanya pada kedua mertuanya.


"Sudah juga tadi saat pulang dari makam," jawab Papi Briel.


Bagus hanya mengangguk, lalu mereka kembali mengobrol beberapa hal hingga sore menjelang.


****


"Aaarrggghh!!!" Queena menyapu semua barang di atas meja menggunakan tangan, hingga berhamburan di lantai. Wanita itu sedang meluapkan semua amarahnya sekarang.


"Kau memang keparat, Brachon!"


"Kau benar-benar keparat!!" Maki Queena pada Brachon yang sedang tidak berada di apartemen.


Ya, pria keparat itu sedang di luar kota sekarang!


"Brengsek!" Umpat Queena lagi seraya melemparkan barang-barang yang masih tertinggal di atas meja.


Puas meluapkan semua amarahnya, Queena lalu pergi ke lantai dua dan masuk ke kamarnya.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir


__ADS_2