
"Lepaskan aku!" Teriak Queena penuh amarah karena kedua tangannya yang sudah bisa bergerak, sekarang malah diborgol ke bed perawatan.
Apa sebenarnya maksud Brachon memperlakukan Queena seperti ini.
"Brachon! Lepaskan aku!" Teriak Queena lagi meluapkan amarahnya pada Brachon yang entah berada di dalam kamar perawatan entah tidak.
Tapi Queena tak peduli!
Queena hanya ingin berteriak sekarang.
"Brachon brengsek, keparat, pengecut!"
"Lepaskan aku atau bunuh saja aku sekalian!"
"Kenapa kau melakukan ini semua kepadaku!"
"Pria brengsek! Baj*ngan keparat!"
"Pengecut!" Queena terus berteriak-teriak meluapkan semua kemarahan di dalam dadanya.
"Kau berisik sekali, Queen! Apa tenggorokanmu tidak sakit?" Suara seorang pria terdengar daei samping kanan Queena . Namun itu bukanlah siara Brachon. Itu adalah siara pria yang waktu itu meneleponku Brachon...
Vin!
Vincent! Iya!
Tai pria itu sama keparatnya dengan Brachon karena tidak mau menolong Queena.
"Vin, lepaskan aku!" Gertak Queena galak pada Vincent. Tak berselang lama, terdengar gelak tawa dari Vincent yang sepertinya sedang mengejek Queena.
"Apa kau baru saja menyuruhku?" Tanya Brachon di sela-sela gelak tawanya.
"Lepaskan aku, Keparat!" Queena yang kesal akhirnya ganti memaki Vincent.
"Keparat? Terima kasih pujiannya," kekeh Vincent yang benar-benar membuat Queena geregetan sekarang.
"Aku sedang memakimu!" Teriak Queena pada Vincent.
"Aku tahu! Kau pikir aku pria bodoh, hah?" Vincent berucap sinis, lalu tangannya terasa menopang punggung Queena.
"Kau mau apa?" Queena menggeliat dan hendak menyentak topangan tangan Vincent di punggungnya, meskipun Queena tak bisa banyak bergerak karena borgol sialan yang menahan kedua tangan Queena.
"Aku juga sebenarnya malas melakukan ini! Kalau saja Brachon tidak-" Vincent tak jadi melanjutkan kalimatnya, dan pria itu ganti memanggil seseorang dari arah pintu.
__ADS_1
"Kunci borgolnya mana?" Tanya Vincent entah pada siapa.
Mungkin pada pria yang tadi menutupi wajah dan kepala Queena menakai kain hitam ini.
Tak berselang lama, Queena bisa merasakan Vincent yang kini membuka borgol di tangannya. Segera Queena bergerak cepat untuk menyebtak tangan Vincent yang mencengkeram erat lengannya.
"Kau mau kemana, hah?" Tanya Vincent yang sepertinya sudah waspada dengan gerakan yang mungkin akan dilakukan oleh Queena.
"Lepaskan tanganku!" Gertak Queena sambil terus berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Vincent.
"Lepas!" Teriak Queena lagi yang malah membuat Vincent tertawa terbahak-bahak. Andai sekarang wajah Queena tidak ditutupi oleh kain hitam, mungkin Queena juga akan meludahi pria sinting di depannya ini.
Kenapa juga Queena harus bertemu dua pria gila dan kejam bernama Vincent dan Brachon Ley?
Vincent melepaskan borgol di tangan Queen yang satu lagi, lalu ganti memborgol kedua tangan Queena menjadi satu. Bagis sekali! Apa Queena seorang tahanan sekarang?
Queena masih diam saat Vincent memanggil seorang perawat agar membawa kursi rida mendekat ke bed perawatan. Perlahan Queena mencoba untuk menggerakkan kakinya yang ternyata sudah bisa ia rasakan dan ia gerakkan.
Bagus!
Queena akan kabur saat ini juga setelah dirinya....
"Mari kita-"
Bugh!
"Aaarrgghh!" Vincent yang kehilangan keseimbangan dan tersungkur ke lantai seketika mengerang. Saat itulah, Queena secepat kilat berusaha turun dari bed perawatan, lalu hendak berlari. Namun Queena sepertinya lupa kapan terakhirnya ia berdiri dan berjalan, karrna kakinya sesaat menjadi lunglai dan tak mampu menopang tubuhnya, saat Queena memijak lantai.
Queena seketika langsung tersungkur ke lantai dan wanita itu langsung mendengus frustasi dengan rencana kaburnya yang gagal.
"Kau pikir kau mau kemana, hah?" Vincent sudah dengan cepat menghampiri Queena yang berusaha membuka penutup wajahnya. Queena juga berusaha untuk bangun, lalu merangkak menjauhi Vincent.
Setelah berusaha dengan keras, Queena akhirnya berhasil menyingkirkan penutup wajahnya. Wanita itu terus beringsut mundur menjauhi Vincent yang mengejarnay dengan perlahan seolah hanya ingin menakut-nakuti Queena.
"Mau lari?"
"Sana lari!" Ejek Vincent pada Queena yang terus menarik tubuhnya untuk mundur ke arah pintu kamar perawatan.
"Bangun dan lari, Queen! Kenapa hanya merangkak seperti bayi begitu?" Ledek Vincent lagi.
"Dasar keparat!" Maki Queena emosi sambil terus mundur dan menjauh dari Vincent. Hingga akhirnya tubuh Queena menabrak sesuatu.
Tidak!
__ADS_1
Ini seperti sepasang kaki...
"Dia ingin kabur, tapi sepertinya dia lupa caranya berjalan dan berlari," lapor Vincent pada seseorang yang kakinya Queena tabrak barusan. Queena segera menoleh, lalu mendongak untuk melihat wajah yang tak seharusnya Queena lihat itu.
Brengsek!
"Kau benar-benar keras kepala, Queen?" Brachon sudah berjongkok, lalu meraih dagu Queena dan sedikit mengangkatnya.
"Lepaskan aku, Keparat!" Teriak Queena berani pada Brachon yang langsung tertawa terbahak-bahak.
"Kau pasti akan aku lepaskan, setelah aku selesai bermain-main denganmu!" Ucap Brachon yang masih memegangi dagu Queena. Brachon menatap tajam ke arah Queena yang langsung membalasnya dengan tatapan tajam juga.
"Aku tak akan pernah sudi menjadi mainanmu!" Desis Queena tajam yang langsung membuat Brachon tertawa sinis.
"Lalu kau mau apa, hah?"
"Mau kabur dengan merangkak? Mau berteriak minta tolong pada orang-orang di luar sana?" Brachon kembalikan tertawa seperti orang gila.
"Tidak akan semudah itu, Queen!" Brachon meraih segenggam rambut Queena lalu menariknya dengan paksa hingga wanita itu menjerit.
"Aaaarrggh!"
"Tidak akan semudah itu kau lepas dari genggaman Brachon Ley!" Brachon menyeret Queena dengan kasar, lalu mendaratkan tubuh itu ke atas kursi roda dengan kasar juga. Queena sontak meringis dengan segala perlakuan kejam Brachon kepadanya.
Seorang perawat yang sejak tadi hanya diam mematung, langsung mbenatkan posisi Queena di atas kursi roda. Wanita itu masih meringis, merasakan rambut-rambut di kepakanya yang nyaris terlepas akibat jambakan kasar Brachon tadi.
"Cukup duduk manis dan jadi Queen yang penurut! Maka aku tak akan menyakitimu!" Brachon menuding sekaligus memberikan peringatan pada Queena yang langsung menatapnya dengan sengit.
"Dalam mimpimu, Ley!"
"Aku tak akan pernah bersikap manis apalagi menjadi Queena yang penurut untuk pria baj*ngan dan pengecut sepertimu!" Teriak Queena penuh emosi yang sontak langsung kembali memancing amarah Brachon. Pria menangkup kasar wajah Queena dengan satu tangannya lalu membalas tatapan sengit Queena dengan tatapan yang tak kalah sengit.
"Apa perlu aku menyakiti Bagus dan Barley juga agar kau menjadi Queen yang penurut untukku?" Desis Brachon yang langsung membuag kedua mata Queena membelalak lebar.
Mas Bagus dan Barley?
Bagaimana Brachon bisa tahu tentang mereka juga?
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like.