QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)

QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)
DARIMANA?


__ADS_3

Barley sayang....


Maaf jika mama pergi terlalu lama, tanpa pamit tanpa bilang ke Barley. Mama sayang sama Barley. Mama sayang sekali sama Barley.


Barley anak yang hebat dan kuat. Jangan sedih lagi, Barley sayang!


Karena jika sekarang Mama tak lagi ada di samping Barley, bukan berarti Mama tak sayang lagi sama Barley. Mama sayang sekali sama Barley. Tapi takdirlah yang membuat mama harus pergi meninggalkan Barley.


Maaf, Sayang....


Maaf....


Barley jangan sedih-sedih lagi, ya!


Karena meskipun Mama tak lagi ada di samping Barley, Mama tetap akan selalu ada di hati Barley. Mama akan selalu hadir di mimpi-mimpi indah Barley.


Mama sayang sama Barley....


Bagus menyeka airmatanya dan sekuat tenaga menelan gumpalan pahit yang mengganjal di tenggorokannya. Pria itu lalu memeluk Barley dengan erat, sebelum kemudian memakaikan jaket dan sepatu ke putranya tersebut.


"Mama sudah pergi ke surga, ya, Pa?" Tanya Barley yang sudah setahun lebih tak berbicara lebih dari satu kata.


Namun pertanyaan yang dilontarkan oleh Barley malah justru membuat hati Bagus nelangsa. Pria itu tak menjawab pertanyaan Barley dan hanya memeluk putranya tersebut dengan erat.


"Aku bukan Queena yang dulu lagi, Mas!"


"Aku...."


"Aku.... Aku tak pantas lagi untuk Mas Bagus!"


"Papa jangan menangis! Nanti mama sedih kalau Papa menangis terus. Mama kan sudah bahagia. Mama sayang pada Barley dan Papa, kan?" Tangan mungil Barley sudah bergerak untuk menyeka airmata Bagus.


"Iya," jawab Bagus lirih yang kembali memeluk Barley.


"Ayo berangkat!" Ajak Bagus selanjutnya pada Barley setelah pria itu berhasil menguasai dirinya.


"Kita mau kemana, Pa?" Tanya Barley penasaran.


"Ke rumah Omi dan Opi."


****


Ting!


Suara lift membuyarkan lamunan Queena yang kini berdiri sendirian di dalam lift. Queena melangkah keluar dari lift dan melihat sekilas ke arah kaca besar yang menampakkan langit yang sudah beranjak sore.


Queena hampir mencapai unit apartemen Brachon, saat teelohat Vincent yang keluar dari unit apartemen tersebut. Vincent menatap Queena dengan sinis, lalu pria itu bertepuk tangan seolah sedang mengejek Queena.


"Luar biasa, Queen!" Olok Vincent yang sama sekali tak digubrus oleh Queena. Wanita itu terus melanjutkan langkahnya dan masuk ke unit apartemen Brachon. Menutup pintu, lalu mengganti sepatunya dengan sendal rumahan di dekat pintu.

__ADS_1


Tepat saat Queena berbalik, Brachon sudah berdiri di belakangnya dengan raut wajah marah.


"Hai, kau menunggu lama?" Queena tanpa segan langsung mengusap dada Brachon, lalu mendongakkan kepala dan membalas tatapan marah Brachon dengan tatapan tanpa rasa bersalah.


"Sudah selesai menemui suami dan putramu itu? Aku sudah bisa menghabisi mereka berdua seka-"


"Brachon!" Queena langsung memeluk Brachon dengan erat.


"Tolong jangan usik mereka lagi!" Mohon Queena yang masih memeluk Brachon.


"Aku tak suka pengkhianatan-"


"Aku tahu!" Sergah Queena cepat.


"Aku tahu, Sayang!" Queena mengusap dada Brachon dan berusaha meredakan kemarahan dari pria di depannya tersebut.


"Aku minta maaf," ucap Queena lagi penuh penyesalan.


"Dan aku siap kau hukum," imbuh Queena lagi bersungguh-sungguh.


"Hukumanmu akan ditanggung oleh Barley dan Bagus!"


"Brachon!" Mohon Queena lagi.


"Tolong jangan usik mereka lagi. Aku tak akan pernah menemui mereka lagi! Aku janji ini yang terakhir-"


"Kau sudah mengatakan itu saat terakhir kau menemui mereka!" Brachon sudah mencengkeram leher Queena dan siap mencekik wanita itu.


"Aku bersumpah!" Queena menatap penuh kesungguhan pada Brachon.


"Aku tak akan pernah menemui Barley dan Mas Bagus lagi-"


"Jangan pernah menyebut dua nama itu lagi di depanku, atau aku akan langsung menebas leher mereka berdua!" Bentak Brachon seraya mengeratkan cekikannya di leher Queena. Sekarang Queena mulai kesulitan bernafas dan wanita itu juga mulai gelagapan.


"Tidak-" Queena terbatuk-batuk karena tak ada pasokan oksigen ke dalam paru-parunya.


"Tidak akan!" Ucao Queena terbata-bata. Brachon langsung membanting tubuh Queena ke atas sofa, dan wanita itu kembali batuk-batuk.


"Uhuuk! Uhuukk!" Queena mencoba mengambil nafas dalam-dalan demi mengisi paru-parunya yang hampir kosong.


"Ini terakhir kalinya kau menemui mereka, karena jika sekali lagi kau mencoba mendatangi rumah Bagus...." Brachon menggenggam rambut Queena lalu menariknya hingga wajah Queena terangkat dari sofa.


"Aku akan langsung menghabisi Bagus dan Barley di depan matamu!" Brachon melanjutkan kalimatnya dan Queena hanya mengangguk patuh.


Ya, Queena memang tak akan lagi mebemui anak dan suaminya itu.


Toh Mas Bagus pasti juga sydah membawa Barley pindah ke rumah Papi dan Mami sekarang.


"Sekarang lakukan hukumanmu!" Brachon mendorong Queena agar wanita itu berlutut di depannya. Queena yang langsung paham dengan permintaan Brachon, membuka kancing celana Brachon dengan hati-hati, lalu mengeluarkan junior pria itu sembari menggenggamnya.

__ADS_1


"Lakukan dengan benar!" Sentak Brachon galak yang tangannya masih menjambak rambut Queena.


"Lahap!" Perintah Brachon dan Queena langsung melakukan apa yang diperintahkan Brachon tersebut. Queena langsung menyumpalkan milik Brachon ke dalam mulutnya, dan wanita itu nyaris tersedak, saat Brachon mendorong panggulnya dengan barbar.


"Lakukan dengan benar!!" Perintah Brachon sekali lagi seraya memaju mundurkan kepala Queena.


Queena hanya diam dan wanita itu berusaha menguasai dirinya, serta menahan rasa ingin muntah yang kini menggelayuti tenggorokannya.


"Iya, seperti itu, Queen!"


"Aku menyukai mulutmu yang hangat dan basah itu!" Brachon mulai meracau tak jelas, dan tangan pria itu masoh terus menggerakkan kepala Queena maju dan mundur. Sesekali terdengar lenguhan serta erangan Brachon yang sepertinya begitu menikmati servis yang Queena lakukan.


"Aaarrrgggh!"


"Teruskan!"


"Lebih cepat!" Brachon terus saja meracau dan menggerakkan kepala Queena semakin cepat, hingga Queena mulai kewalahan dan gelagapan.


"Aaarrrgggh!" Brachon mengerang panjang bersamaan dengan pria itu yang sydah menjambak rambut Queena dan memaksa wanita itu untuk berdiri.


Brachon lalu membalik tubuh Queena dan mendorongnya ke sofa. Tanpa aba-aba, Brachon langsung melesakkan miliknya ke dalam milik Queena hingga membuat Queena meringis.


Brengsek!


"Mendes*h!" Perintah Brachon seraya nemukul keras bokong Queena hingga meninggalkan bekas kemerahan berbentuk tangan di bokong wanita itu.


"Ayo!" Brachon memukul Queena sekali lagi dan akhirnya Queena melakukan apa yang Brachon minta. Queena mendes*h dengan keras dan nafasnya semakin terengah sekalogus tersengal, saat Brachon terus saja menghujamnya dari belakang.


"Kau menikmatinya, Queen?" Brachon memukul bokong Queena sekali lagi dan bibir Queena mulai meracau tak jelas sekarang.


"Sekarang berbalik!" Brachon mencabut miliknya dengan kasar, lalu pria itu membalik tubuh Queena yang sudah dipenuhi keringat Queena yang kini posisinya sudah ganti telentang, tiba-tiba mulutnya disumpal dengan milik Brachon yang tadi baru dicabut oleh Brachon


Brengsek!


"Bagaimana? Kau menyukainya, kan?" Brachon tertawa puas sembari terus mendorong miliknya ke dalam mulut Queena.


"Lakukan terus sampai aku selesai, karena ini hukuman untukmu!" Ucao Brachon yang ekspresi wajahnya sudah berubah lagi menjadi dingin dan kejam.


Queena memejamkan matanya,saat merasakan milik Brachon yang berulang kali menyentuh kerongkongannya hingga rasanya Queena ingin muntah. Tapi Queena harus bisa mengendalikan diri dan mengimbangi permainan kasar Brachon.


Sudah satu jam lamanya, Brachon menyumpal mulut Queena dengan miliknya, hingga membuat wanita yang kini berada di bawah Brachon tersebut kewalahan. Brachon mengakhiri hukumannya pada Queena setelah miliknya menyemburkan cairan yang kini memenuhi mulut Queena. Sebagian juga terlihat meleleh keluar dari sudut bibir Queena.


"Telan semua!" Brachon mendongakkan wajah Queena dan menaksa wanita itu untuk menelan habis cairan yang tadi memenuhi mulutnya. Brachon langsung tertawa puas setelahnya.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2