
"Brach! Kau sudah pulang?" Sapa seorang wanita berambut coklat terang pada Brachon yang sedang duduk di sofa ruang tengah seraya menghisap cerutunya.
"Kau darimana, Harper?" Tanya Brachon dengan tatapan tak senang.
"Keluar sebentar cari angin!" Jawab Harper seraya menghampiri Brachon, lalu merangkulkan kedua lengannya pada pria tersebut.
"Apa kau masih khawatir aku akan kabur dari mansion-mu?" Ujar Harper lagi seraya tertawa kecil.
"Aku saja tak bisa kemana-mana tanpa pengawalan ketat dari para bodyguard-mu, Brach!"
"Jadi konyol sekali kalau kau pikir aku akan kabur-" Harper tak melanjutkan kalimatnya saat wanita itu menyadari tentang tatapan Brachon yang tidak biasa.
"Ngomong-ngomong, kau sudah mandi, Brach?" Tanya Harper mengganti topik pembicaraan.
"Bagaimana denganmu?" Brachon balik bertanya pada Harper.
"Belum!" Harper hendak mencium bibir Brachon saat kemudian pria itu menolak.
"Kita lakukan di dalam agar tak ada yang merasa cemburu!" Brachon tersenyum sinis, seolah sedang menyindir seorang pria di sudut ruangan yang tadi datang bersama Harper.
Ragastya!
"Apa maksudmu ada yang cemburu, Brach? Kau sedang menyindir seseorang?" Suara Harper hanya terdengar samar, karena wanita itu sudah masuk dengan cepat ke dalam kamar besama Brachon.
****
"Raga juga tidak ada di kamarnya, Brach!" Lapor Vincent pada Brachon yang langsung mengepalkan tangannya dengan erat.
Pagi ini Brachon mendapat kabar kalau Harper tidak berada di kamarnya. Semua kamera CCTV di mansion juga mati seolah ada yang melakukan sabotase. Dan yang semakin membuat Brachon murka tentu saja Ragastya, pria yang selama ini Brachon percaya untuk menjadi bodyguard yang mengawasi Harper,malah justru tidak berada di tempat dan besar kemungkinan kalau Raga yang sudah membawa Harper pergi dari mansion.
"Dari awal aku sudah memperingatkanmu, Brach! Aku rasa Harper ada main belakang-"
"Sudah cukup, Vin!" Brachon menggebrak meja di depannya dan Vincent langsung bungkam seribu bahasa.
"Siapkan mobil!" Perintah Brachon selanjutnya pada Vincent yang langsung melesat pergi untuk menyiapkan mobil. Brachon berjalan keluar dari mansionnya, dan segera masuk ke mobil mewah miliknya.
"Kita akan kemana, Brach?" Tanya Vincent yang sudah dengan cepat juga duduk di samping Brachon.
"Ke tempat persembunyian dua keparat pengkhianat itu!" Jawab Brachon dengan ekspresi wajah dingin. Vincent tak bersuara lagi dan mobil sudah dengan cepat melaju membelah jalanan yang sedikit padat.
****
Braaaak!
Harper dan Raga yang sudah bersiap untuk pergi, terkejut bukan kepalang saat melohat Brachon menendang pintu rumah persembunyian sejoli tersebut.
"Brach-"
"Sudah cukup kau menjadikan Harper sebagai tawanan dan pemuas nafs*mu, Brach!"
"Aku akan membawa Harper pergi dan memberikannya kebahagiaan yang memang pantas Harper dapatkan!" Raga sudah langsung pasang badan di depan Harper, saat Brachon melangkah masuk ke dalam rumah sewa yang menjadi tempat persembunyian Harper dan Raga
"Bagus sekali!" Brachon tertawa sembari bertepuk tangan dengan keras.
"Bagus sekali, Raga!"
"Aku suka dengan semangat berjuangmu itu!" Brachon menatap sinis pada Raga yang masih pasang badan untuk melindungi Harper.
"Jadi mari kita lihat, seberapa kuat kau bisa melindungi Harper!"
Dor! Dor!
Hanya dalam hitungan detik, Brachon sudah dengan cepat mengeluarkan pistol, lalu langsung menembakkannya ke arah Raga beberapa kali.
"Aaaakkkkh!" Harper segera berteriak histeris bersamaan dengan tubuh Raga yang sudah tumbang di depannya dan bersimbah darah.
"Raga!!" Jerit Harper seraya memeluk tubuh Raga.
"Kau mau menyusul selingkuhanmu, Harper?" Tanya Brachon seraya menatap dingin pada Harper yang bahkan belum berekspresi apapun.
Dor! Dor!
Brachon sudah langsung menembak kepala Harper dua kali hingga akhirnya wanita itu ikut tumbang di atas tubuh Raga dengan kedua bola mata yang masih terbuka.
__ADS_1
"Aku tak suka pengkhianatan, Harp!"
"Kau sudah salah langkah dan menggali kuburanmu sendiri!" Desis Brachon sebelum pria itu berbalik pergi meninggalkan tubuh Raga dan Harper yang tak lagi bernyawa.
****
Brachon sudah berjongkok di depan sebuah gundukan tanah yang berselimut rumput warna hijau. Pria itu meletakkan bunga mawar yang tadi dibawanya ke atas makam. Brachon lalu mengusap batu nisan yang tertancap diatas makam yang sudah sedikit berdebu.
Harper Ley!
Itulah nama yang tersemat di batu nisan.
Genap tiga tahun sudah, Harper dikuburkan di pemakaman ini.
"Selamat berbahagia di neraka bersama selingkuhanmu, Harp! Semoga kau menikmatinya!" Ucap Brachon sebelum kemudian pria itu bangkit berdiri dan meninggalkan makam Harper serta kompleks pemakaman.
****
Queena terjaga di malam hari, saat wanita itu merasakan kehadiran seseorang di dekatnya.
"Mas Bagus?" Gumam Queena yang masih di antara sadar dan tidak. Queena berbalik lalu membuka matanya untuk memastikan. Dan, saat itulah kesadaran Queena seolah sudah kembali semua.
Brachon yang sedang berbaring di ranjang tang sama dengan Queena, memberikan tatapan tajam pada wanita itu. Mungkin karena tadi Queena menyebut nama sang suami.
Queena tak berkata sepatah latapun dan wanita itu segera berbalik. Namun gerakan Brachon untuk menahan Queena agar tak berbalik lebih cepat, dan tanpa aba-aba Brachon tiba-tiba sudah menindih Queena.
"Brach-" Suara Queena tercekat saat Brachon yang tanpa permisi langsung mel*mat bibir Queena.
"Melayani dengan penuh perasaan!" Ucap Brachon menatap tajam pada Queena dan seolah sedang mengingatkan wanita tersebut. Queena akhirnya terpaksa membuka bibirnya dan memejamkan mata, saat dirinya dan Brachon mulai bertukar saliva.
"Keparat! Baj*ngan! Queena benci ada Brachon! Queena benci pada dirinya sendiri!"
Brachon akhirnya melepaskan pagutannya pada Queena, setelah Queena hampir kehabisan nafas.
"Sekarang tepati janjimu, Queen!" Titah Brachon yang sudah kembali berbaring telentang di atas tempat tidur.
"Janji apa maksudmu?" Tanya Queena tak paham.
"Jadi kau pasti bisa menggoda seorang pria seperti layaknya seorang jal*ng-"
"Aku bukan jal*ng!" Sergah Queena memotong dengan tegas karena ucapan Brachon yang benar-benar terdengar begitu merendahkan.
"Aku hanya melakukannya bersama suamiku, jadi aku bukan jal*ng murahan seperti para peliharaanmu itu!" Sergah Queena lagi menatap berani pada Brachon.
"Hanya melakukannya bersama suamimu?" Sinis Brachon yang langsung tertawa terbahak-bahak.
"Lalu yang kemarin-kemarin itu apa? Saat kau mend*sah di bawahku?" Brachon menangkup kasar dagu Queena sembarangan mendelik-delik pada wanita itu.
"Itu apa, hah?" Bentak Brachon lagi.
"Kau yang memperkosaku! Dasar baj*ngan!" Maki Queena yang tangannya berusaha untuk menyentak cengkeraman tangan Brachon di dagunya.
"Memperkosa?" Brachon berdecih.
"Tapi kau juga menikmatinya."
"Kira-kira, bagaimana perasaan Bagus jika aku mengirimkan video percintaan panas kita karena kau juga sudah berjanji untuk melayaniku sepenuh hati," Brachon melempar tatapan penuh ejekan pada Queena yang langsung membelalak.
"Jangan pernah melakukannya, Brach!"
"Kau benar-benar keparat! Baj*ngan!" Umpat Queena bertubi-tubi sambil berusaha berontak dari cengkeraman tangan Brachon. Namun sekali lagi, Queena selalu kalah tenaga dari Brachon yang bertubuh lebih besar. Kini kedua tangan Queena sudah disatukan dan ditahan oleh Brachon di belakang punggung.
"Lepaskan aku, Brach!"
"Dasar pria pengecut!" Queena masih tak berhenti memaki Brachon, saat kemudian Brachon sedikit menyeret Queena agar turun dari atas ranjang.
"Terus saja berontak dan selamanya kau tak akan lagi melihat Barley!" Ancam Brachon galak yang langsung membuat Queena berhenti memberontak.
"Kau keparat!" Umpat Queena meluapkan kekesalan serta ketidakberdayaannya menghadapi Brachon.
Brachon mendorong tubuh Queena hingga menabrak satu meja yang lumayan lebar yang berada di dalam kamar. Sejak kemarin Queena masuk ke kamar ini, Queena juga tak tahu apa fungsi sebenarnya dari meja besar ini. Selain itu tak ada benda apapun di kamar ini seperti di dua kamar Queena sebelumnya.
Benda apapun disini tentu saja mengacu pada benda-benda tajam ataupun mainan alat bantu yang biasa dipakai Brachon untuk menyiksa milik Queena.
__ADS_1
Ya, pria itu memang gila!
Tiiit!
Queena langsung menoleh saat mendengar suara seperti pintu terbuka.
Oh, ternyata dugaan Queena keliru!
Bukan tak ada apa-apa di kamar ini, melainkan Brachon yang memang menyembunyikan semuanya di dalam lemari khusus yang hanya bisa dibuka memakai password.
Sial!
"Aku akan sedikit memberimu pelajaran karena tadi kau sudah berontak, Queen!" Brachon lagi-lagi menunjukkan alat biadab yang kerap dipakainya untuk menyiksa Queena.
"Aku akan melayanimu, Brach! Tapi kita tak perlu memakai alat itu!" Mohon Queena seraya menatap ngeri pada alat besar nan panjang berwarna biru tersebut.
Mungkin tak terlalu menjadi masalah jika Brachon menggunakannya sesuai fungsi dan di jalan yang benar. Tapi yang menjadi masalah adalah, Brachon psikopat ini selalu saja menyumpalkan alat itu melalui jalan lain.
"Apa kau sedang melakukan negosiasi lagi setelah pemberontakan,perlawanan, umpatan-umpatan, lalu makian yang tadi kau lontarkan?" Desis Brachon yang sudah menghampiri Queena dan mencengkeram kasar wajah wanita itu.
"Kau memang baj*ngan!" Umpat Queena akhirnya karena merasa sudah muak!
Muak pada Brachon Ley!
Brachon tersenyum sinis, lalu tanpa aba-aba langsing mendorong tubuh Queena hingga wanita itu menabrak meja besar di kamat. Brachon dengan kasar mengangkat tubuh Queena agar naik ke atas meja.
Tak sampai disitu kekasaran Brachon, karena kini tanpa melakukan foreplay atau yang lainnya, Brachon sudah langsung melesakkan benda mengerikan tadi ke dalam milik Queena, lalu mendorongnya tanpa perasaan hingga membuat Queena menjerit-jerit kesakitan.
"Kau baj*ngan, Brach!" Maki Queena di sela-sela teriak kesakitannya.
"Nikmati saja, Queen! Dan berhentilah mengumpat atau aku harus menyumpal mulutmu juga?" Brachon menarik tubuh Queena yang terlihat bergetar karena efek dari alat Brachon tadi.
Brachon lalu meminta Queena untuk berlutut di lantai, dan tanpa basa-basi Brachon langsung membuka celanaya dan menyodorkan miliknya ke dalam mulut Queena.
"Uhuuuuk!" Queena terbatuk-batuk dan hampir muntah saat milik Brachon yang besar menyentuh kerongkongannya.
Sial!
"Lakukan dengan benar!" Bentak Brachon pada Queena yang hendak melepaskan alat terkutuk tadi dari miliknya di nawah sana. Namun tangan Brachon sudah dengan cepat mencegah. Brachon bahkan langsung menahan kedua tangan Queena atas kepala wanita itu, sambil tak berhenti menyumpalkan miliknya ke dalam mulut Queena yang kini mulai gelagapan. Wajah Queena juga sudah merah padam akibat semua tindakan kasar yang dilakukan oleh Brachon.
"Kau sendiri yang tak menepati janjimu untuk melayaniku dengan sepenuh hati!"
"Jadi tak perlu menyalahkan aku jika akhirnya aku kembali berbuat kasar-"
"Aaaarrrggghhh!" Brachon mengerang, saat gigi-gigi Queena terasa menggores miliknya.
"Jal*ng keparat!" Brachon akhirnya menarik miliknya dari dalam mulut Queena.
"Apa kau sengaja?" Bentak Brachon menatap tajam pada Queena yang masoh berusaha untuk mengatur nafasnya yang memburu. Namun sayangnya, gerakan alat yang berada di bagian bawah tubuh Queena benar-benar membuat wanita itu tak bisa bernafas dengan benar.
"Lepaskan alat itu, Brach!" Mohon Queena yang mulai putus asa.
"Tidak semudah itu!" Brachon sudah ganti menyeret Queena ke ranjang lalu membanting tubuhnya.
"Brach!" Queena mulai hilang kendali saat Brachon memaksa untuk membalik tubuhnya, masih sambil melakukan kuncian di tangan Queena tentu saja.
"Brach, jangan!" Mohon Queena yang seolah sudah paham dengan apa yang hendak dilakukan oleh Brachon.
"Terus saja memohon, Queen! Terus sana memohon karena aku suka mendengarnya!" Teriak Brachon seraya melesakkan miliknya ke dalam milik Queena bagian belakang.
Jerit kesakitan dari Queena seketika langsung menggema di dalam kamar.
"Kau keparat, Brachon!"
"Kau benar-benar pria keparat!"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir
__ADS_1