QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)

QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)
KEPUTUSAN QUEENA


__ADS_3

"Nona, Tuan Ley akan pulang saat makan siang-"


"Aku hanya sebentar!" Bebtak Queena pada pengawal Brachon yang bawel sekali. Queena melipat kertas berisi surat untuk Barley yang tadi sudah sekesai ia tulis selama perjalanan. Wanita itu lalu memasukkan surat tersebut ke dalam kardus susu UHT, sebelum kemudian ia turun dari mobil seraya membawa sekardus susu tadi.


"Ambilkan paperbag itu!" Perintah Queena yang baru ingat kalau ia tadi membelikan mainan untuk Barley juga.


Setelah menerima paperbag dari pengawal Brachon, Queena lanjut mengayunkan langkah dan masuk ke gang yang menuju ke rumah Mas Bagus. Semoga suami dan putra Queena itu ada di rumah. Tapi misalnya tak ada, Queena akan meninggalkan barang-barang ini di depan rumah saja.


Setelah berjalan hampir lima menit, Queena akhirnya tiba di depan rumah Mas Bagus. Sekali lagi, hati Queena terasa mebcelos saat menatap pagar besi yang menutupi rumah suaminya tersebut. Berkali-kali Queena harus mebelan ganjalan pahit yang begitu menyiksa.


"Maafkan Mama, Barley!"


"Kau pasti akan tumbuh menjadi anak yang hebat." Air mata Queena sudah berlinang, saat wnaita itu meletakkan kardus berisi susu di depan gerbang. Queena juga meletakkan paperbag berisi mainan untuk Barley, lalu cepat-cepat ia menghapus airmatanya. Queena baru saja akan mebelan bel di samping gerbang, saat tiba-tiba pagar besi itu sudah digeser dari dalam dan sekarang Mas Bagus sudah berdiri di depan Queena.


Queena mengangkat wajahnya dan menatap ke wajah suaminya tersebut. Seketika, tatapan Bagus dan Queena saling bertemu dan keduanya hanya diam untuk beberapa saat.


"Aku kesini mengantar-"


"Queen," panggilan lirih Bagus membuat Queena tak jadi menyelesaikan kalimatnya. Queena kembali menatap lekat pada suaminya tersebut.


"Mas Bagus." Bibir Queena bergetar saat ia menggumamkan nama pria di hadapannya tersebut. Dan di saat bersamaan, tangis Queena tiba-tiba sudah pecah.


Bagus membuka pagar sedikit lebar, lalu menarik tangan Queena dan membawanya masuk ke teras rumah. Saat itulah Queena langsung memeluk erat Bagis, seolah sedang meluapkan semua rasa rindu, rasa sesak, dan semua rasa yang tak lagi bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Berbeda dengan Bagus yang masih ragu untuk sekedar membalas pelukan Queena. Tangan Bagus hanya diam dan hatinya antara yakin dan tak yakin kalau wanita yang kini sedang memelukmya ini adalah Queena.


Bukankah Bagus sudah memakamkan istrinya satu setengah tahun yang lalu?


Queena yang menyadari sikap kaku Bagus, akhirnya melepaskan pelukannya pada pria di hadapannya tersebut.


"Mas masih belum percaya kalau aku adalah Queena?" Tanya Queena lirih dengan senyuman kecut yang menghiasi wajahnya.


"Anak pertama kita-"


"Berjenis kelamin perempuan. Tapi aku keguguran saat usia kandunganku baru tujuh bulan." Ujar Queena yang sesaat langsung membuat Bagus terdiam.


"Aku juga hamil di luar nikah waktu itu, hingga Papi marah pada kita berdua. Tapi setelah Barley lahir, kenarahan Papi berangsur reda, dan Papi begitu menyayangi Barley," ujar Queena lagi dengan airmata yang sudah berlinang.


Bagus kembali menghampiri Queena, lalu menghapus airmaya di wajah istrinya yang kini sudah sangat berbeda tersebut. Bagus bahkan tak lagi mengenali Queena-nya.


"Apa yang sebenarnya sudah terjadi, Queen?" Tanya Bagus lirih masih sambil menyeka airmata Queena.

__ADS_1


Queena menggeleng.


"Brachon Ley...."


"Lau ada masalah apa dengan pria kejam itu? Kau bahkan tak pernah menceritakannya kepadaku?" Cecar Bagus lagi yang kembali membuat Queena menggeleng.


"Aku-"


"Aku tak sengaja menyaksikan saat Brachon menghabisi nyawa Bu Indah."


"Aku pikir Brachon tak melihat aku saat itu, tapi nyatanya aku keliru!" Queena menggeleng-gelengkan kepalanya dan wanita itu kembali menangis tergugu.


"Brachon lalu menjebak dan menculikku. Membuat skenario tentang kecelakaan itu dan dia juga yang sudah mengubah wajahku jadi seperti ini!" Queena mengusap kasar wajahnya sendiri.


"Brachon sudah membuat hidupku begitu hancur, Mas!" Queena menyingkirkan tangan Bagus yang sedari tadi masih menangkup wajahnya.


Kelebat bayangan saat Brachon menyentuh, melecehkan, hingga memperkosanya dengan barbar kembali berkelebat di benak Queena.


Queena sudah sangat kotor dan ia tak pantas lagi untuk Mas Bagus.


Queena menggeleng-gelengkan jepakanya seraya beringsut mundur dari sang suami.


"Queen-"


"Tidak, Mas!"


"Aku bukan lagi Queena yang dulu!" Cicit Queena menahan rasa pedih di hatinya.


"Aku bukan lagi Queena yang dulu! Brachon baj*ngan itu sudah membuatku menjadi wanita yang buruk!" Queena sudah histeris san terus sana menggeleng-gelengkan kepalanya. Bagis dengan cepat menenangkan istrinyanitu dan mebdekapnya dengan erat.


"Aku bukan Queen yang dulu lagi!"


"Queen, pasti ada jalan keluar untuk semua ini, Queen!" Ujar Bagus mencoba positif thingking dan pria itu terus mendekap Queena.


"Pasti ada jalan keluar!" Ujar Bagus sekali lagi, sembari otkanya berpikir keras.


Bagus kemudian membimbing Queena yang sudah lebih tenang masuk ke rumah. Pria itu juga mengambilkan minuman untuk Queena, sebelum kemudian ia duduk di samping Queena yang tatapan matanya terlihat kosong.


"Ayo kita ke Abang Matthew dan meminta bantuannya agar kau bisa lepas dari Brachon," cetus Bagus setelah keheningan beberapa saat diantara dirinya dan Queena.


"Tidak bisa!" Queena menggeleng dengan cepat.

__ADS_1


"Brachon pria yang kejam. Dia tak segan untuk membunuh siapa saja yangbtidak ia sukai."


"Dan dia sangat bisa menyakiti Mas Bagus, Barley, lalu keluarga Abang Matthew juga jika kita melawannya, Mas!" Ucao Queena lagi dengan suara lirih dan putus asa.


"Tapi aku sudah tahu cara terbaik untuk menghancurkan seorang Brachon Ley, tanpa membuatnya mengusik kalian lagi," sambung Queena lagi yang tiba-tiba sudah meraih tangan Bagus lalu menggenggamnya dengar erat dan menciumnya berulang kali.


"Aku sendiri yang akan menghancurkan Brachon Ley, Mas!'


"Bawalah Barley pergi dari rumah ini dan dari kota ini!" Queena menatap lekat pada Bagus.


"Brachon terobsesi padaku dan dia sangat takut kehilanganku. Jadi aku yang akan membuat Brachon Ley hancur-"


"Queen, kau tidak harus melakukannya!" Bagus bangkit dari duduknya dengan cepat dan langsung merengkuh kedua pundak Queena.


"Queen-" Bagus menatap memohon pada Queena.


"Aku sudah lama hancur, Mas! Aku sydah lama hancur sejak Brachon menculik dan menjadikan aku tawanannya."


"Aku bukan lagi Queena yang dulu dan aku tak pantas lagi untuk Mas Bagus!"


"Queen, jangan keras kepala! Pasti ada jalan keluar lain!" Teriak Bagus mulai frustasi.


"Tidak ada jalan lain!" Gumam Queena lirih.


"Dan aku sengaj kesini hari ini untuk pamit pada Barley dan Mas Bagus!" Ujar Queena lagi.


"Tidak!"


"Tidak, Queena!".


"Tidak!!!" Bagus memeluk Queena dengan erat dan masih berusaha mencegah Queena melakukan rencananya pada Brachon. Meskipun Bagus tak bisa sepenuhnya mencegah karena Bagus juga tak punya jalan keluar lain.


Nyawa Barley taruhannya jika mereka melawan Brachon Ley. Belum lagi keluarga besar Queena yang pasti juga dalam bahaya....


Kenapa semua harus serumit ini.....


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2