QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)

QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)
NEGOSIASI


__ADS_3

"Baj*ngan!" Maki Queena seraya berusaha menendangkan kakinya ke arah Brachon, meskipun akhirnya harus meleset.


"Monster! Psikopat!" Queena terus mengata-ngatai Brachon atas tindakan kasar pria itu pada dirinya.


Brachon sudah membalik tubuh Queena dan menghimpit wanita itu ke punggung sofa.


"Teruslah melawan! Maka aku akan semakin membuatmu merasa berada di neraka!" Desis Brachon di telinga Queena.


"Tapi aku suka perlawananmu itu, Serigala kecil! Karena aku jadi punya alasan untuk memberikanmu pelajaran," lanjut Brachon lagi yang sudah ganti tersenyum licik pada Queena.


"Kenapa tidak sekalian saja kau membunuhku, seperti yang kau lakukan pada Joice? Atau pada Bu Indah?" Tanya Queena sambil sesekali meringis. Sepertinya Queena tak akan bisa duduk setelah ini.


Dasar Brachon baj*ngan!


"Kau adalah mainanku! Jadi aku tak akan semudah itu membuatmu mati, sebelum aku bersenang-senang denganmu-"


"Lepaskan aku kalau begitu dan biarkan aku pulang ke keluargaku!" Mohon Queena akhirnya pada Brachon, meskipun mustahil rasanya Brachon akan mengabulkan permintaan Queena yang satu ini.


"Tidak semudah itu, Queen-"


"Aku akan melayanimu sepenuh hati!" Sergah Queena menyela kalimat Brachon.


Queena sudah sangat putus asa sekarang!


Dan jika ini satu-satunya cara agar dirinya bisa lepas dari penjara menyiksa ini, maka Queena akan melakukannya!

__ADS_1


Queena hanya ingin bertemu Barley sekarang.


"Melayaniku sepenuh hati?" Brachon sepertinya sedikit tertarik dengan penawaran dari Queena.


"Ya!"


"Aku akan menuruti apapun kemauanmu. Tapi tolong biarkan aku bertemu putraku dan keluargaku," ujar Queena mulai melakukan negosiasi.


"Lalu setelahnya kau akan kabur."


"Kau pikir aku bodoh, hah?" Bentak Brachon yang sudah mencengkeram dagu Queena.


"Aku tidak akan kabur!" Sergah Queena bersungguh-sungguh.


"Aku bukan pria bodoh seperti yang kau pikirkan!" Tegas Brachon sekali lagi sebelum pria itu melangkah ke arah pintu dan meninggalkan Queen yang kini ganti berpikir keras.


Queena tiba-tiba bangkit dengan cepat dan mengejar Brachon.


"Brach!" Queena mencengkeram erat tangan Brachon dan menarap memohon pada pria kejam di depannya tersebut.


"Kau tidak akan kemana-mana! Kau adalah tawananku!" Brachon menuding tegas ke arah Queena.


"Habisi aku sekalian kalau begitu!" Tangan Queena bergerak cepat untuk meraih tangan Brachon dan mengarahkan ke lehernya sendiri.


"Hhhh! Kau siapa memangnya berani menyuruh-nyuruh aku?" Bentak Brachon seraya mendorong kasar tubuh Queena hingga wanita itu tersungkur ke lantai. Namun Queena bangkit dengan cepat, lalu pergi ke nakas. Membuka laci nakas dan mengambil apapun benda tajam dari dalam sana. Wanita itu sudah berbalik dengan cepat lalu mengacungkan pisau kecil di tangannya ke arah Brachon yang langsung tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Kau pikir aku takut dengan pisau kecil itu, hah?"


"Kau pikir aku takut?" Ejek Brachon yang kembali tertawa terbahak-bahak.


"Ya, kau mungkin tidak takut!" Queena berdecih sinis.


"Tapi bagaimana kalau aku memakai pisau ini untuk...." Queena memejamkan kedua matanya dan menarik nafas panjang, sebelum kemudian wanita itu menyayatkan pisau kecil tadi ke nadinya sendiri.


"Queen!" Teriak Brachon yang buru-buru menghampiri Queena yang tangannya sudah terlanjur bersimbah darah. Pandangan mata Queena sudah berkunang-kunang, dan sekarang wanita itu sudah ambruk ke lantai.


"Vincent!" Teriak Brachon seraya menopang tubuh Queena yang sudah setengah sadar.


"Aku tak akan lagi jadi mainanmu, Brachon Baj*ngan!" Gumam Queena sebelum akhirnya wanita itu benar-benar hilang kesadaran.


"Brengsek!"


"Vin!!" Brachon berteriak lebih keras, bersamaan dengan Vincent serta beberapa pengawal yang sudah merangsek masuk ke dalam kamar Queena. Para pria itu bergegas membawa Queena ke rumah sakit.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


__ADS_2