QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)

QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)
RINDU


__ADS_3

"Barley!" Sambut Mami Friska, saat Bagus dan Barley baru tiba di kediaman Mbak Melody. Sepertinya kedua orang tua Queena itu memang datang sendiri, karena Kean dan Lean yang merupakan saudara Queena tak terlihat sama sekali.


"Ayo main di dalam saja!" Ajak Mbak Melody pada Barley yang sejak datang hanya diam. Mbak Mel bersama Mami Friska akhirnya pergi ke ruang tengah meninggalkan Bagus dan Papi Briel di ruang tamu.


"Kami akan membawa Barley," ucap Papi Briel to the point yang langsung membuat Bagus menggeleng seraya menatap memohon pada Papi mertuanya tersebut.


"Lalu bagaimana kau mau merawat Barley, Bagus? Kau bahkan jarang di rumah dan sering bepergian ke luar kota untuk mengurusi pengiriman barang-barang!"


Bagus hanya diam dan merasa kalau kalimat Papi Briel memang ada benarnya.


"Apa Papi akan melarang Bagus bertemu Barley setelah ini?" Tanya Bagus khawatir.


"Apa Papi tadi mengatakan kalau Papi melarangmu bertemu Barley? Tidak, kan?"


"Papi hanya mengatakan kalau Papi dan Mami akan membawa dan merawat Barley mulai sekarang." Ucap Papi Briel tegas.


"Dan sebenarnya Papi benci mengatakan ini, tapi kau boleh bertemu atau membawa Barley ke kota ini jika kau libur panjang."


"Tapi jika kau harus bekerja, baiknya Barley tinggal bersama kami saja!" Ujar Papi Briel lagi.


"Mbak Melody dan Abang Matthew sebenarnya juga tak keberatan merawat Barley, Pi-"


"Kami lebih punya hak, Bagus!" Sergah Papi Briel memotong kalimat Bagus.


"Iya, Pi!" Jawab Bagus cepat.


"Dan sekali lagi Papi tekankan, kalau kau bisa menemui Barley kapanpun! Kami tak akan menghalangi!" Ujar Papi Briel lagi mengulangi kalimatnya.


"Iya, Pi!"


"Kami hanya tidak mau Barley dirawat mami tirinya yang mungkin akan menyia-nyiakan-"


"Bagus bahkan belum berpikir sampai sejauh itu, Pi!" Sergah Bagus yang merasa tersindir dengan ucapan Papi Briel.


"Iya sekarang memang belum! Tapi lihat saja satu atau dua bulan ke depan!" Decih Papi Briel meremehkan.


"Dulu saja bersama Queena, kau tak bisa menahan diri dan membuat kuliah Queena jadi berantakan!" Ujar Papi Briel lagi yang seolah sedang menguliti tingkah Bagus di masa lalu bersama Queena.


"Memang apa susahnya waktu itu menunggu satu tahun lagi?" Omel Papi Briel lagi seolah sedang mengungkapkan uneg-uneg di hatinya.


Bagus hanya terdiam dan tak berani menjawab cemoohan sang papi mertua. Bagus sadar tentang kesalahannya di masa lalu bersama Queena...


"Mas, aku hamil." Queena menyodorkan sebuah testpack dua garis pada Bagus.

__ADS_1


"Yang aku lupa pakai pengaman itu?" Tanya Bagus memastikan dan Queena hanya mengendikkan bahu.


"Papi pasti marah. Kita gugurkan saja," usul Queena yang langsung ditolak oleh Bagus.


"Aku akan menemui Papi," ucap Bagus tegas.


"Tapi Papi pasti akan murka kalau Mas Bagus mengatakan secara jujur." Queena menatap pada pria yang sudah hampir dua tahun ini berstatus sebagai pacarnya.


Meskipun awal pertemuan mereka adalah delapan tahun lalu saat Queena masih SMP, namun kala itu, Bagus dan Queena memang hanya sekedar saling bertukar pesan dan menjalin hubungan sebagai kakak adik.


Barulah saat Queena duduk di bangku kelas dua belas SMA, Bagus mendadak intens menemui Queena, karena pekerjaannya yang kebetulan pindah ke kita tempat Queena tinggal. Hingga akhirnya Queena dan Bagus resmi jadian sehari setelah pengumuman kelulusan.


Tadinya Bagus ingin langsung menpersunting Queena, namun Papi Briel menolak dan meminta Bagus menunggu hingga Queena menyelesaikan kuliahnya.


Di tahun pertama berstatus sebagai pasangan kekasih, hubungan Bagus dan Queena memang bisa dibilang masih sehat dan hanya sebatas bergandengan tangan saja kontak fisik di antara mereka.


Namun masuk tahun kedua, saat kuliah Queena hanya tinggal dua semester lagi, Bagus dan Queena malah melakukan hal yang tak seharusnya mereka lakukan.


Berawal dari kata khilaf, hingga akhirnya sama-sama merasa nyaman dan ketagihan....


Bagus menghela nafas dengan berat, saat merenungi dosa-dosanya di masa lalu.


"Kami akan langsung membawa Barley hari ini-"


"Bagus akan mengantar Barley besok ke rumah Papi dan Mami-"


"Kami masih berada di kota ini hingga besok." Papi Briel memotong kalimat Bagus.


"Malam ini saja, Pi! Besok Papi boleh membawa pulang Barley," mohon Bagus pada sang papi mertua.


"Baiklah," ucap Papi Briel akhirnya seraya bangkit berdiri.


"Fris!" Panggil Papi Briel selanjutnya pada Mami Friska yang masih bercengkerama bersama Barley di ruang tengah yang penuh dengan mainan Barley.


"Iya! Kita bawa Barley sekarang, Mas?" Tanya Mami Friska yang sudah menggandeng Barley ke ruang tamu. Barley tentu saja langsung mendekat ke arah Bagus dan minta digendong oleh papa kandungnya tersebut.


"Besok Bagus akan mengantar Barley ke hotel sebelum kita berangkat," terang Papi Briel seraya menatap pada Bagus, seolah sedang mengingatkan Bagus.


"Iya, Mi! Besok Bagus akan mengantar Barley sebelum berangkat bekerja," timpal Bagus membenarkan pernyataan Papi Briel.


"Baiklah!"


"Omi pulang dulu, ya, Sayang!" Mami Friska segera berpamitan pada Barley yang sama sekali tak mau turun dari gendongan Bagus.

__ADS_1


"Besok kita ketemu lagi!"


"Nanti Barley pulang ke rumah Omi dan Opi. Trus main sama Om Lean dan Om Kean!" Cerocos Friska lagi yang.berusaha untuk mencium pipi Barley, meskipun cucunya itu menolak dan terus meronta.


"Opi pulang dulu, Barley!" Gantian Papi Briel yang pamitan sembari mengusap punggung Barley. Namun Barley tak berceloteh apapun dan hanya menyembunyikan kepalanya di dalam dekapan Bagus.


Setelah berbasa-basi juga dengan Mbak Melody, Papi Briel dan Mami Friska akhirnya pamit pulang ke hotel tempat mereka menginap di kota ini.


****


"Mama, cacit?"


"Enggak!"


"Tyus, kenapa mama sedih?"


"Mama nggak sedih. Mama hanya kangen Barley."


"Baley yak kemana-mana! Baley di yumah nungguin Mama."


"Barley!"


Queena kembali membuka mata dengan susah payah, bersamaan dengan rasa sakit luar biasa di wajahnya yang juga ikut kembali. Air mata Queena sudah meleleh dari kedua sudut matanya tanpa Queena sadari.


Queena tak tahu, sudah berapa lama ia terbaring seperti mayat hidup di ruangan serba putih ini. Satu hal yang pasti, Queena sudah sangat rindu pada Barley dan Queena ingin segera memeluk putra semata wayangnya tersebut.


"Barley," gumam Queena tanpa suara.


"Barley, Mama merindukanmu, Sayang!" Gumam Queena lagi dengan hati yang begitu nelangsa dan merana.


Sampai kapan..


Sampai kapan Queena terjebak di ruangan ini bersama semua rasa sakit yang menyiksa ini?


Queena hanya ingin pulang dan memeluk Barley sekarang!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2