QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)

QUEENA (Istrimu Adalah Tawananku)
HARAPAN


__ADS_3

"Ada tawaran-"


Brachon sudah langsung mengangkat tangan sebelum Vincent menyelesaikan kalimatnya.


"Sekarang sudah jam sepuluh dan aku harus kembali ke mansion!" Ucao Brachon menatap tegas pada Vincent.


"Tapi ini sebuah tawaran yang bernilai besar, Brach," Vincent masih berusaha membujuk atasannya tersebut.


"Tidak usah mengajariku, karena aku tetap tidak akan berubah pikiran!" Tegas Brachon sekali lagi.


"Kita pulang sekarang!" Perintah Brachon lagi yang akhirnya hanya membuat Vincent mengangguk. Pria itu lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Brachon.


"Kau ada janji dengan wanita tawanan itu?" Tebak Vincent sok tahu.


"Namanya Queen!" Brachon sudah menoleh serta melemparkan tatapan tajam ke arah Vincent.


"Queen!"


"Iya! Aku ingat." Vincent tertawa kecil.


"Apa yang lucu?" Ekspresi wajah Brachon terlihat tidak senang.


"Tidak ada!"


"Hanya saja, sikapmu sedikit berubah sekarang pada Queen dan kau seperti sudah jatuh cinta pada wanita itu," ujar Vincent berpendapat. Brachon tak menjawab dan pria itu hanya diam.


"Queen tak pernah lagi membuatmu kesal?" Tanya Vincent lagi yang sepertinya cerewet sekali. Dan Brachon masih tak menjawab pertanyaan asistennya tersebut. Brachon hanya menatap keluar jendela dan memperhatikan jalanan yang tak lagi sepadat beberapa menit tadi. Saat ini mobil memang sudah melaju di jalan tol menuju ke mansion Brachon yang berada di pinggiran kota.


Namun setelah melaju beberapa saat, pergerakan mobil tiba-tiba nrnjadi lambat. Brachon seketika langsung bersedekap dan berwajah masam.


"Ada apa lagi sekarang?" Tanya Brachon meminta penjelasan Vincent.


"Sepertinya ada kecelakaan." Vincent menerka-nerka seraya mengendikkan kedua bahunya.


"Dasar tidak berguna!" Gerutu Brachon geram.


"Kau sedang buru-buru?" Tanya Vincent tak paham.


"Apa kau masih harus bertanya?" Brachon langsung menyalak pada Vincent yang tampak beringsut.


"Pak, cepat sedikit!" Perintah Vincent pada sopir sekedar berbasa-basi.


Bagaimana juga bisa cepat kalau ada tumpukan kendaraan di depan mereka?


Brachon terlihat semakin gelisah dan Vincent juga bingung harus bertindak bagaimana. Mau memanggil helikopter juga mustahil. Lagipula, krnaoa Brachon tadi tidak naik helikopter saja saat pulang jika memang ia sedang buru-buru!


"Vin!" Bentakan Brachon seketika langsung membuat Vincent terlonjak.


"Aku tahu kau buru-buru, Brach! Tapi aku juga tak bisa berbuat apa-apa." Vincent baru menyelesaikan kalimatnya saat mobil akhirnya bergerak maju.


Ah, syukurlah!


Brachon mungkin akan gila jika mobil kembali berhenti-


"Sial!" Umpat Vincent saat mobil kembali berhenti.


"Apalagi sekarang, Vin!" Brachon sudah mendelik tajam pada Vincent yang langsung mengangkat kedua tangannya.

__ADS_1


"Dasar tidak berguna!!" Emosi Brachon seraya meninju jok di depannya.


"Queen tidak akan kemana-mana, Brach! Kau bisa memantau wanita itu jika memang kau merindukannya!" Saran Vincent yang sedang berusaha menenangkan Brachon.


"Apa katamu tadi?" Brachon semakin mendelik pada Vincent.


"Kau merindukan Queen, kan? Makanya kau marah-marah-"


"Ah, syukurlah!" Vincent langsung bernafas lega saat akhirnya mobil kembali melaju dengan kecepatan yang seharusnya.


"Lebih cepat dan jangan buang-buang waktu lagi, Pak Sopir!" Ucap Vincent dengan nada geregetan sambil sesekali pria itu menoleh ke arah Brachon yang ekspresi wajahnya terlihat tak senang.


Sial sekali Vincent hari ini!!


****


Queena melihat jam besar yang tergantung di dinding kamar Brachon. Wanita itu lalu memutar bola mata dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga sebatas leher. Tepat saat Queena baru memejamkan mata, pintu kamar Brachon akhirnya menjeblak terbuka.


Baiklah!


Gagal sudah rencana Queena untuk tidur nyenyak malam ini!


"Sudah pulang, Brach?" Sapa Queena yang langsung bangun dan bersandar pada kepala ranjang.


Brachon tak menjawab, dan pria itu malah langsung menghampiri Queena, lalu menyibak selimut yang menutupi tubuh Queena. Brachon seketika mengernyit.


"Ada apa?" Tanya Queena tak paham.


"Kau tidak menepati janjimu!" Brachon berdecak dan kedua mata Queena sontak melebar. Queena baru ingat tentang celetukannya sore tadi yang mengatakan kalau oa akan naked saat Brachon pulang. Tapi sekarang, Queena tidak sedang dalam posisi naked dan ia memang masih mengenakan gaun tidur.


Lagipula, tadi Queena pikir Brachon tak jadi pulang dan Queena bebas dari tugas menggoda pria ini malam ini.


"Lupakan saja!" Potong Brachon yang tiba-tiba sudah menangkupkan jas di tangannya ke tubuh Queena.


"Kita mau pergi?" Tanya Queena bingung saat Brachon malah mengeluarkan ponsel lalu menekan nomor Vincent yang bisa Queena lihat sekilas.


"Siapkan sekarang helikopternya!" Perintah Brachon tegas pada Vincent yang belum selesai mengatakan halo.


Sepertinya buru-buru sekali!


Brachon mau membawa Queena kemana lagi memang?


"Sedang dalam perja-"


Brachon sudah menutup telepon dan pria itu melesakkan ponselnya lagi ke saku celana, sebelum jemudian ia menggendong Queena dari atas tempat tidur.


"Brach, aku bisa jalan sendiri-"


"Diam!" Brachon menatap tajam pada Queena yang langsung diam. Queena akhirnya hanya mengalungkan kedua lengannya di leher Brachon dan membiarkan pria itu menggendongnya keluar kamar.


Queena masih diam, saat Brachon membawanya ke satu tempat di mansion yang sebelumnya Queena sudah tahu itu tempat apa. Labdasan helikopter!


"Vin!" Teriak Brachon emosi saat pria itu tak mendapati helikopternya di atas landasan.


"Mereka masih dalam perjalanan, Brach! Kau memintanya terburu-buru tadi," ujar Vincent beralasan.


Tak berselang lama, deru mesin helikopter terdengar dari kejauhan.

__ADS_1


"Bisa kau turunkan aku saja?" Bisik Queena yang langsung dijawab Brachon dengan delikan tajam.


Queena tak protes pagi dan wanita itu memilih untuk menyamankan tubuhnya saja di gendongan Brachon.


Helikopter sudah mendarat dan Vincent bergegas membantu membukakan pintu.


"Lain kali, jadilah asisten yang berguna!" Omel Brachon pada Vincent sebelum pria itu membawa Queena naik ke atas helikopter. Queena langsung melempar senyum penuh ejekan pada Vincent yang terlihat mendengus.


"Aku mau duduk di dekat jendela," pinta Queena saat Brachon memasangkan headphone ke kepala wanita itu.


"Ck!" Brachon akhirnya menggeser tubuh Queena ke dekat jendela, memasangkan sabuk pengaman lalu merangkul pundak wanita itu.


Helikopter sudah mulai terbang meninggalkan mansion Brachon, saat Queena bisa merasakan tangan Brachon yang menyusup ke bawah gaun tidur yang ia kenakan.


Queena menggeliat dengan tak nyaman, saat merasakan tangan Brachon yang sudah bergerilya di pangkal paha, lalu mengusap-usap miliknya yang masih tertutup underwear di bawah sana.


"Kita mau kemana?" Tanya Queena sambil sedikit menggeliat.


"Kau akan tahu nanti," jawab Brachon seperti biasa. Queena sebenarnya kesal dengan jawaban itu, tapi Brachon mana mau tahu!


"Lalu kau akan melakukan itu sepanjang perjalanan?" Tanya Queena lagi berbisik pada Brachon yang hanya menipiskan bibirnya.


"Sensasinya lebih menyenangkan," jawab Brachon berbisik juga. Pria itu lalu menggigit kecil tengkuk Queena, hingga membuat wanita itu menggelinjang.


"Seharusnya kau tadi tidak usah berpakaian," bisik Brachon sekali lagi, saat tangan pria itu sudah berpindah ke dada Queena. Brachon menelusup dari atas, lalu tangannya langsung memainkan puncak dada Queena dengan sedikit kasar.


Sudah jadi ciri khas seorang Brachon Ley memang!


Queena membuang pandangannya ke jendela, dimana kelap-kelip lampu di daratan terlihat begitu indah dari atas udara. Queena juga berusaha mengabaikan kedua tangan Brachon yang masih sibuk mengger*yangi tubuhnya sekarang.


"Brach!" Queena refleks menolak saat Brachon menyodorkan jarinya yang baru saja ia lesakkan ke dalam milik Queena. Brachon seolah sedang memberikan kode agar Queena menghisap jari tersebut.


Tentu saja Queena tidak mau!


"Aku tak menerima penolakan!" Ucap Brachon tegas sambil memaksa untuk menyumpalkan jarinya ke mulut Queena.


"Uhuuuuk!!" Queena refleks terbatuk-batuk saat jari Brachon masuk terlalu dalam ke mulutnya. Sementara Brachon malah tertawa puas, melihat Queena yang terbatuk-batuk.


"Ck!" Queena berdecak kesal semabri menyikut perut Brachon. Pria di samping Queena itu seketika langsung mengalungkan lengannya untuk melingkari leher Queena. Brachon seolah mau mencekik Queena.


"Brach!" Queena segera menahan lengan Brachon, sebelum semakin kuat menekan lehernya.


Dasar gila!


"Kita sudah sampai," ucao Brachon yang masih mengalungkan lengannya melingkari leher Queena. Dari kejauhan, Queena bisa melihat gedung yang baru beberapa hari ini ia tinggalkan.


Ya, itu adalah apartemen Brachon.


Queena senang karena akhirnya Brachon membawa Queena kembali ke apartemen ini!


Harapan Queena untuk bisa menemui Barley dan Mas Bagus lagi, seolah kembali mencuat serelah beberapa hari Queena berputus asa!


Barley.....


.


.

__ADS_1


.


Terima kasih yang sudah mampir.


__ADS_2