
Queena mengerang, saat merasakan tubuhnya yang remuk redam. Wanita itu meraba-raba tempat tidur di sebelahnya yang sudah kosong. Queena lalu mengangkat kepalanya sedikit untuk memastikan, apa Brachon memang sudah pergi, serelah semalaman pria itu melampiaskan semua hasrat liarnya pada Queena.
Tidak ada!
Brachon memang sudah pergi!
Queena kembali merebahkan kepalanya dengan malas, saat mendadak terdengar dering telepon dari atas nakas.
Ya, di dalam apartemen Brachon memang ada telepon rumah. Namun sepertinya telepon itu sudah disetting untuk hanya bisa menerima panggilan saja dan tudak bisa jika dipakai untuk mebelepon keluar. Queena pernah coba menghubungi nomor Mas Bagus saat akli pertama ia mendapati telepon ini. Namun tidak bisa dan sama sekali tidak bisa tersambung.
Brachon sepertinya memang sudah mengantisipasi!
Kriiiing!
Telepon kembali berdering, dan meskipun sedikit malas, Queena akhirnya mengangkat telepon itu juga.
"Halo." Sambut Queena malas.
"Kau sudah bangun?"
Suara Brachon langsung terdengar dari ujung telepon. Memangnya siapa lagi yang akan menelepon Queena selain Brachon?
"Ya! Kau sendiri kemana?" Queena balik bertanya pada Brachon. Langsung terdengar tawa dari pria itu di ujung telepon.
"Aku akan pulang saat makan siang. Kau pasti sudah tahu yang harus kau lakukan saat aku pulang!"
"Kau akan minta hidangan penutup juga nanti? Kau gila!" Dengkus Queena tak percaya.
"Segera turun untuk sarapan, karena aku tak mau kau masih berantakan saat aku pulang nanti!"
"Aku boleh sarapan di mall bawah?" Queena mengajukan negosiasi.
"Tidak!"
"Ck! Satu kali saja, Brach!" Mohon Queena merayu.
"Tidak!" Suara Brachon tetap tegas.
"Baiklah! Kau memang menyebalkan!" Maki Queena sebelum wanita itu menutup telepon dengan lancang tanpa pamit pada Brachon. Telepon kembalu berdering dan Queena hanya acuh. Wanita itu bangkit dari atas tempat tidur, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Queena akan sarapan di resto yang ada di dalam mall!
****
Queena mendengus, saat melihat dua pengawal Brachon yang sejak tadi terus saja mengekori dirinya. Meskipun mereka mengawasi dari kejauhan, namun teral saja rasanya seperti tahanan karena kemana-mana selalu dikawal. Queena akhirnya hanya bisa menggerutu dalam hati, dan wanita itu memutuskan untuk menghampiri salah satu pramuniaga toko.
"Hai..." Queena membaca nametag yang terpasang di seragam pramuniaga tersebut.
"Deswita!"
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" Tanya pramuniaga tersebut.
__ADS_1
"Ya!"
"Kau sudah lama bekerja di toko ini?" Tanya Queena berbasa-basi sejenak.
"Sudah hampir tiga tahun, Nona!"
"Oh."
"Lalu, kau pasti punya satu barang favorit yang ingin kamu beli, kan?" Tanya Queena lagi menerka-nerka. Dan pramuniaga bernama Deswita itu terlihat salah tingkah.
"Bisa kau memberitahuku barang apa yang paling kau inginkan di toko ini, tapi lau belum bisa membelinya karena mungkin kau punya kebutuhan lain yang harus kau penuhi," tutur Queena lagi yang malah membuat Deswita geleng-geleng kepala.
"Tidak ada, Nona!" Ujar Deswita membantah.
"Jangan bohong!" Sergah Queena sok tahu sambil sesekali wanita itu mengarahkan pandangannya ke pengawal Brachon yang juga masih mengawasinya. Queena lalu menggeret tangan Deswita ke arah deretan blouse.
"Nona-"
"Pasti ada salah satu dari blouse ini yang ingin kau beli?" Ujar Queena lagi seraya menyibak satu persatu blouse yang tergantung di depannya.
"Harga baju-baju disini tidak sesuai dengan kantong saya, Nona!" Jawab Deswita akhirnya berkata jujur.
"Aku yang akan membayarnya!" Sergah Queena cepat dan tebtu saja pramuniaga di depan Queena itu tampak kaget.
"Kau hanya perlu memberiku uang cash untuk naik taksi, dan aku akan membelikanmu beberapa baju disini pakai kartu ini!" Queena menunjukkan kartu member yang diberikan Brachon tempo hari. Queena memang biasa memakai kartu itu untuk belanja serta membeli apa saja yang ada di dalam mall ini. Sayangnya kartu itu tak bisa memberikan Queena uang cash!
Padahal Queena butuh uang untuk naik taksi ke rumah Bagus!
"Tolong aku, Deswita! Aku hanya ingin menemui putraku, tapi aku tak punya uang cash untuk naik taksi!" Mohon Queena lagi seraya menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Pramuniaga di hadapan Queena itupun tampak bingung.
"Saya tidak punya banyak uang, Nona-"
"Aku hanya butuh seratus ribu! Kau pasti punya, kan?" Sergah Queen cepat.
"A-ada!"
"Tapi nanti manajer toko pasti curiga, kalau saya membawa baju dari sini sekalipun anda sudah membayar-" ucap Deswita yang masih saja ragu.
"Ck!" Queena menyugar kasar rambutnya, lalu wanita itu tampak berpikir beberapa saat.
"Rumahmu dimana? Nanti bajunya aku antar saja ke rumahmu!" Ucap Queena akhirnya menemukan solusi. Semoga saja rumah pramuniaga ini satu arah dengan rumah Mas Bagus. Jadi Queena bisa mampir sebentar.
"Sa-saya nge-kost, Nona!"
"Dimana?" Tanya Queena tak sabar.
Deswita langsung menyebutkan alamat kost-kostannya pada Queena.
"Kau bungkus dulu cepat!" Titah Queena selanjutnya seraya memberikan beverapa baju pada Deswita.
"Uangnya, Nona!" Deswita menyodorkan uang seratus ribuan pada Queena.
__ADS_1
"Queena langsung menyelipkan uang itu di dalam tas yang ia bawa, lalu ia mengekori Deswita yang sudah berjalan ke meja kasir.
Setelah melakukan transaksi, Queena segera meninggalkan toko. Pengawal Brachon masih terlihat mengikuti langkah Queena.
Segera Queena mempercepat langkahnya ke arah pintu keluar mall. Wanita itu juga sudah setengah berlari, namun tepat di pintu mall, dua pengawal Brachon sudah langsung menangkapnya.
Sial!
Ada berapa pengawal yang mengekori Queena sebenarnya?
"Nona, anda mau kemana?"
"Hanya jalan-jalan keluar!" Jawab Queena ketus.
"Tapi Tuan Brachon melarang anda meninggalkan gedung ini, Nona!"
"Ck!" Queena berdecak kesal, lalu wanita itu putar balik dan ganti menuju ke arah supermarket. Queena masuk ke dalam supermarket, lalu menyusuri lorong demi lorong tanpa tujuan. Hingga saat memasuki lorong minuman kemasan, pandangan Queena tertumbuk pada tumpukan susu UHT rasa cokelat.
Kesukaan Barley.....
"Psssttttt!" Queena memanggil pengawal Brachon yang masih mengekorinya dari kejauhan.
"Ada apa, Nona?"
"Aku tadi sudah bicara dan minta izin pada Brachon untuk menemui seseorang dan Brachon sudah mengizinkan!" Ucap Queena akhirnya sedikit mengarang indah.
"Benarkah?" Pengawal tadi sudah mengeluarkan ponsel dan sepertinya hendak menghubungi Brachon. Cepat-cepat Queena mencegah.
"Brachon masih ada meeting sampai makan siang! Dia akan langsung memecatmu jika kau mengganggunya sekarang!" Queena menakut-nakuti pengawal Brachon tersebut.
"Tapi, Nona-"
"Ssstttt!" Queena menyela dengan cepat.
"Aku hanya sebentar dan kalian boleh mengantarku jika tak percaya!" Tukas Queena masih berusaha meyakinkan sekaligus membodohi pengawal Brachon tersebut.
"Siapkan mobil sekarang, lalu belikan aku dua karton susu UHT rasa cokelat ini!" Titah Queena lagi pada pengawal Brachon lagi.
"Nona-"
"Lakukan saja! Atau aku akan menyuruh Brachon memecat kalian semua!" Bentak Queena mengancam para pengawal Brachon tersebut. Mereka semua tampak segan.
"Cepat lakukan perintahku!" Ucap Queena sekali lagi, dan para pengawal Brachon langsung menurut. Mereka bergegas melakukan perintah Queena tadi dan mengantar wanita itu ke satu tempat yang menjadi tujuan Queena.
Rumah Mas Bagus!
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.